EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang wanita berusia 40 tahun di Ningbo, Zhejiang, Tiongkok mengalami gatal pada area anus setiap hari hingga membuatnya tidak bisa duduk atau berdiri dengan nyaman, bahkan hampir membuatnya putus asa. Ia kemudian pergi ke rumah sakit untuk berobat, dan tak disangka “penyebabnya” ternyata adalah tisu basah yang ia gunakan setiap hari.
Menurut laporan Ningbo Evening News, wanita bermarga Wang tersebut datang ke klinik khusus gatal anus di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Distrik Haishu, Ningbo. Ia mengaku telah lama tersiksa oleh rasa gatal tersebut. Pada siang hari, ia tidak bisa duduk tenang, bahkan saat bekerja harus diam-diam menggeser dan menggosok tubuhnya di kursi ketika tidak ada orang. Pada malam hari, rasa gatal semakin parah hingga membuatnya tidak bisa tidur.
“Saya benar-benar tidak tahan. Saat gatal datang, rasanya ingin mencari tempat sepi untuk menggaruk sekuat-kuatnya,” ujarnya. Karena sering menggaruk, kulit di sekitar anusnya terasa sudah terluka, dan saat buang air besar terasa sakit, bahkan tisu sering terdapat darah.
Setelah pemeriksaan, dokter He Hongyan menemukan bahwa kondisi Wang jauh lebih serius dari yang ia gambarkan. Kulit di sekitar anusnya telah mengalami perubahan patologis yang jelas: terjadi depigmentasi (warna kulit memudar), tekstur kulit menebal dan kasar, garis kulit berubah, serta terdapat banyak luka terbuka. Secara keseluruhan tampak seperti perubahan “kulit seperti kulit (leathery)”.
Dokter kemudian menanyakan kebiasaan kebersihan sehari-harinya. Wang menjelaskan bahwa karena ia menderita wasir, ia merasa tidak bersih setelah buang air besar, sehingga terbiasa menggunakan tisu basah dan mengelap berulang kali hingga merasa benar-benar bersih.
Dokter menjelaskan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh kombinasi dua faktor. Pertama, pembersihan berlebihan merusak lapisan pelindung kulit. Tisu basah memang membuat terasa lebih bersih, tetapi kandungan bahan pembersih, pengawet, dan bahan kimia lainnya dapat merusak pelindung alami kulit di sekitar anus. Ketika lapisan ini rusak, kulit menjadi sangat rentan.
Kedua, adanya kebocoran cairan usus akibat melemahnya otot sfingter anus. Cairan usus dapat keluar dan terus-menerus mengiritasi kulit yang sudah kehilangan perlindungan, sehingga memperparah kondisi.
Setelah menghentikan penggunaan tisu basah dan menjalani pengobatan, gejala gatal pada Wang berangsur membaik, dan kondisi kulitnya juga perlahan pulih.
Dokter mengingatkan bahwa banyak orang menganggap “bersih” identik dengan sehat, sehingga cenderung membersihkan secara berlebihan. Padahal, mengelap berulang kali dengan tisu basah justru dapat merusak lapisan pelindung kulit dan menurunkan daya tahan kulit. Bagi orang dengan kulit sensitif atau yang memiliki masalah di area anus, penggunaan tisu basah harus dilakukan dengan hati-hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, tisu basah memang praktis dan semakin populer, terutama saat tidak ada air. Namun, di balik manfaatnya, kandungan bahan kimia di dalamnya juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan kulit.
Dokter kulit asal AS, Caren Campbell, pernah mengatakan kepada NBC Select bahwa tisu basah tidak cocok untuk semua orang dan berisiko menyebabkan alergi kulit. Ia menjelaskan bahwa banyak tisu basah mengandung bahan pengawet yang dapat memicu dermatitis kontak (sejenis eksim), yang menyebabkan kulit gatal dan meradang.
Dr. Campbell juga menambahkan bahwa penggunaan jangka panjang tisu basah dapat meninggalkan residu bahan pada kulit. Ia menyarankan agar sisa bahan pembersih dibersihkan agar tidak meningkatkan risiko iritasi atau alergi.
Para ahli menyarankan, jika ingin menggunakan tisu basah sebagai pengganti tisu biasa, sebaiknya pilih yang tidak mengandung alkohol serta alergen seperti MCI dan MI. Alternatif lainnya adalah menggunakan tisu yang dibasahi dengan air hangat.
Sumber ; NTDTV.com


