EtIndonesia. Sebuah lembaga pemikir di Washington, Foundation for Defense of Democracies, dalam analisis terbarunya menyebutkan bahwa di tengah situasi konflik Iran saat ini, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menjadi salah satu mitra dagang terpenting bagi Iran, serta memberikan dukungan di berbagai bidang seperti energi, keuangan, dan teknologi.
Laporan tersebut mengungkap bahwa PKT mendukung Iran melalui lima cara utama, termasuk pembelian besar-besaran minyak Iran, penyediaan bahan baku amunisi, memberikan perlindungan finansial untuk membantu aliran dana ilegal kembali, bahkan menyediakan dukungan satelit dalam konflik saat ini guna membantu Iran memperoleh intelijen penting di medan perang. Selain itu, PKT juga memberikan perlindungan diplomatik di forum internasional.
Laporan tersebut menilai bahwa strategi PKT terhadap Iran bersifat “oportunistik”, dengan tujuan memanfaatkan Iran untuk menahan Amerika Serikat sekaligus mewujudkan ambisi geopolitiknya, sambil tetap memastikan kepentingannya sendiri tidak dirugikan.
Ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok sekaligus mantan profesor sejarah, Liu Yinquan, mengatakan: “PKT membutuhkan minyak Iran, dan Iran membutuhkan teknologi serta perlengkapan militer dari PKT—mereka saling memanfaatkan.”
Selama 20 tahun terakhir, ketika Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran, PKT memberikan dukungan yang hampir menyeluruh, sehingga kini terbentuk hubungan yang saling terkait secara kompleks dalam berbagai kepentingan.
Namun, para pengamat menilai bahwa hubungan antara PKT dan Iran bukanlah aliansi dalam arti tradisional, melainkan hubungan berbasis kepentingan semata.
Profesor dari University of North Carolina Kenan-Flagler Business School, Xie Tian, menyatakan bahwa di bawah sanksi ketat, PKT berperan sebagai saluran bagi Iran untuk memperoleh dana dan “mempertahankan kelangsungan hidupnya”. Di saat yang sama, PKT juga mendukung Iran sebagai mitra untuk mengalihkan perhatian dan sumber daya Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kolumnis The Epoch Times, Wang He, menambahkan bahwa hal ini memberi PKT keuntungan strategis, termasuk dalam isu kawasan seperti Selat Taiwan.
Dukungan terselubung PKT terhadap Iran pada dasarnya bertujuan untuk menghadapi Amerika Serikat, yakni dengan memanfaatkan Iran untuk mengalihkan fokus strategis AS di tingkat global. Namun, kerja sama ini sengaja dijaga dalam “zona abu-abu” dan tidak terbuka, untuk menghindari risiko langsung dalam bidang keamanan dan militer.
Selain itu, kesenjangan kekuatan antara PKT dan Amerika Serikat juga menjadi alasan mengapa PKT memilih bersikap di balik layar.
Wang He menyatakan: “Perbedaan kekuatan antara PKT dan AS masih besar. Target jangka panjang PKT adalah pada tahun 2049 bisa menyaingi AS. Untuk saat ini, hubungan dengan AS masih dijaga agar tidak benar-benar putus, sehingga dukungan terhadap Iran tetap dilakukan secara tidak langsung dan tidak melampaui batas yang ditetapkan AS.”
Namun demikian, para analis menilai bahwa kerja sama oportunistik seperti ini pada dasarnya tidak berkelanjutan. Jika tekanan sanksi internasional meningkat atau konflik regional memburuk, PKT tidak akan bersedia menanggung risiko bagi Iran. Ketika kepentingannya sendiri terancam, PKT kemungkinan akan segera menarik diri. (Hui)
Reporter NTD Television Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.


