EtIndonesia. Laporan televisi internasional Iran menyebutkan pada Senin 4 Mei, situasi di Teluk Persia meningkat, serta adanya serangan terhadap Uni Emirat Arab, yang semakin memperuncing konflik antara Presiden moderat Iran, Masoud Pezeshkian, dan kalangan militer tingkat tinggi.
Laporan tersebut mengutip sumber yang menyebutkan bahwa Pezeshkian menyatakan ketidakpuasan yang kuat terhadap tindakan Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia menilai serangan rudal dan drone terhadap Uni Emirat Arab sebagai tindakan yang “sepenuhnya tidak bertanggung jawab”, serta dilakukan tanpa sepengetahuan dan tanpa koordinasi dengan pemerintah.
Disebutkan bahwa Pezeshkian menggambarkan peningkatan ketegangan oleh Garda Revolusi dengan negara-negara kawasan sebagai “tindakan gila”, dan memperingatkan bahwa hal ini dapat membawa konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan.
Seiring situasi yang terus memburuk, Iran menghadapi risiko kembali terjerumus ke dalam perang.
Dilaporkan bahwa Pezeshkian telah meminta pertemuan darurat dengan Mojtaba Khamenei, mendesaknya untuk segera menghentikan serangan Garda Revolusi terhadap negara-negara Teluk guna mencegah situasi semakin lepas kendali.
Di tengah kebuntuan politik dalam negeri Iran, para pengamat memperingatkan bahwa perpecahan dalam komando militer dapat mendorong Republik Islam menuju “kehancuran militer sendiri”.
Sumber : NTDTV.com


