EtIndonesia. Di Tiongkok terdapat idiom “Tidur dengan bantal tinggi” yang berarti “tidur nyenyak tanpa kekhawatiran”. Banyak orang menganggap bahwa menggunakan bantal tinggi dapat memberikan kualitas tidur yang lebih baik. Namun penelitian menunjukkan bahwa bantal yang terlalu tinggi dapat merusak pembuluh darah otak dan meningkatkan risiko stroke.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Stroke Journal menunjukkan bahwa penggunaan bantal yang terlalu tinggi dapat memicu diseksi arteri vertebralis, salah satu penyebab penting stroke.
Arteri vertebralis terletak di kedua sisi tulang leher dan bertugas memasok darah ke bagian belakang otak, batang otak, dan otak kecil. Bantal yang terlalu tinggi dapat menyebabkan leher teregang berlebihan sehingga lapisan dalam arteri vertebralis robek. Darah kemudian menumpuk di dinding arteri dan membentuk aneurisma. Aneurisma ini bisa pecah dan menyebabkan stroke atau bahkan kematian.
Risiko utama diseksi arteri vertebralis adalah memicu infark serebral sirkulasi posterior, terutama infark batang otak. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf permanen, seperti kelumpuhan sebagian tubuh, gangguan bicara, bahkan mengancam jiwa.
Para peneliti menganalisis 106 peserta dengan usia rata-rata 49 tahun. Setengah dari mereka adalah pasien diseksi arteri vertebralis spontan yang dirawat di sebuah pusat stroke terpadu di Jepang pada 2018–2023, sementara sisanya adalah kelompok kontrol dengan penyakit lain.
Hasil penelitian menemukan bahwa pasien yang menggunakan bantal dengan tinggi lebih dari 12 sentimeter memiliki risiko terkena SCAD sebesar 2,89 kali lebih tinggi dibanding mereka yang menggunakan bantal di bawah 12 sentimeter. Sedangkan pengguna bantal lebih dari 15 sentimeter memiliki risiko 10,6 kali lebih tinggi dibanding pengguna bantal di bawah 15 sentimeter.
Selain itu, pada kelompok pasien, 34% responden menggunakan bantal tinggi di atas 12 sentimeter, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 15%. Penggunaan bantal sangat tinggi di atas 15 sentimeter tercatat 17% pada kelompok pasien dan hanya 1,9% pada kelompok kontrol. Hasil statistik menunjukkan bahwa sekitar 10% kasus diseksi arteri vertebralis spontan berkaitan dengan penggunaan bantal tinggi.
Lalu, seperti apa bantal yang baik? Para ahli merangkum beberapa poin berikut:
- Tinggi bantal:
Tinggi ideal kira-kira setara satu kepalan tangan atau lebar satu bahu, sehingga tulang leher, punggung atas, dan pinggang berada dalam satu garis lurus. Bantal yang terlalu tinggi dapat meluruskan lengkungan alami tulang leher, sedangkan bantal terlalu rendah dapat menyebabkan lengkungan leher berbalik arah. - Tingkat kekerasan sedang:
Bantal yang terlalu keras dapat memberi tekanan berlebih pada otot leher sehingga menyebabkan kekakuan atau cedera otot. Sebaliknya, bantal terlalu lembut membuat tulang belakang tidak dapat mempertahankan lengkungan fisiologis normal, yang dalam jangka panjang mudah menyebabkan ketidaknyamanan atau gangguan pada tulang leher. Bantal dengan tingkat kelembutan sedang dapat menopang kepala dan leher dengan baik sehingga membantu leher lebih rileks.
Para ahli menyarankan memilih bantal berbentuk “yuanbao” (bagian tengah lebih rendah dan kedua sisi lebih tinggi), karena bentuk ini lebih sesuai dengan lekukan leher dan membantu meningkatkan kualitas tidur.
Sumber : NTDTV.com


