EtIndonesia. Menurut laporan terbaru dari Channel 12 Israel pada 8 Mei dan sejumlah media lainnya, pasukan militer Amerika Serikat yang ditempatkan di Strait of Hormuz tiba-tiba mendapat serangan hebat dari pasukan bersenjata Iran pada Kamis. Setelah itu, pasukan AS dilaporkan sempat terpaksa mundur.
Hingga saat ini, Pentagon belum secara resmi mengkonfirmasi adanya korban di pihak militer AS. Para pengamat menilai bahwa jika laporan mundurnya pasukan AS benar, maka ini akan menjadi serangan balasan paling langsung dan paling keras dari Iran terhadap blokade militer Amerika sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.
Tindakan tersebut tidak hanya membuat prospek perundingan “memorandum perdamaian” yang diajukan pemerintahan Donald Trump menjadi suram, tetapi juga dapat memaksa Washington mengambil tindakan militer balasan dalam skala yang lebih besar.
Tak lama kemudian, seorang pejabat AS mengatakan kepada Fox News bahwa militer AS melancarkan serangan besar terhadap kota pelabuhan pesisir Iran, Bandar Abbas, serta Pulau Qeshm Island yang terletak di Selat Hormuz.
Setelah itu, media pemerintah Iran juga mengkonfirmasi bahwa Garda Revolusi Iran terlibat baku tembak dengan “pasukan musuh” di Pulau Qeshm.
Mehr News Agency juga melaporkan bahwa setelah dua ledakan keras terdengar di ibu kota Iran, Tehran, sistem pertahanan udara segera diaktifkan.
Beberapa saat kemudian, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan bahwa kapal perusak AS yang sedang melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman berhasil mencegat serangan tanpa provokasi dari Iran dan melakukan serangan balasan untuk membela diri.
Pihak Iran disebut meluncurkan sejumlah rudal, drone, dan kapal serang kecil, namun kapal perang AS tidak terkena serangan. Setelah itu, militer AS melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran.
Sumber : NTDTV.com


