EtIndonesia. Wabah hantavirus di kapal pesiar Belanda MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik telah menarik perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan adanya kemungkinan penularan antar manusia, dan menilai kasus pertama kemungkinan sudah terinfeksi sebelum naik ke kapal. Di tengah merebaknya wabah, muncul kembali kabar bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah lebih dulu mengembangkan vaksin asam nukleat untuk virus Hanta, yang memicu berbagai spekulasi di internet.
WHO: Korban Pertama Sudah Terinfeksi Sebelum Naik Kapal
Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April. Berdasarkan data terbaru WHO yang diumumkan pada 7 Mei, terdapat delapan kasus infeksi virus di kapal tersebut, dengan tiga kematian. Dari delapan kasus itu, lima dipastikan terinfeksi virus Hanta tipe Andes.
“Kami memang meyakini kemungkinan adanya penularan antarmanusia di antara kontak dekat,” ujar pejabat WHO Maria Van Kerkhove dalam konferensi pers 5 Mei.
Seorang penumpang pria Belanda berusia 70 tahun menjadi kasus pertama yang menunjukkan gejala. WHO menyebut pria tersebut mulai mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April. Pada 11 April, ia mengalami kesulitan bernapas dan meninggal di atas kapal pada hari yang sama.

Pakar teknis WHO untuk demam berdarah virus, Anais Legand, mengatakan kepada AFP bahwa masa inkubasi virus berkisar antara satu hingga enam minggu, biasanya dua hingga tiga minggu. Karena itu, kasus pertama “tidak mungkin tertular di kapal atau di pulau tempat kapal sempat singgah dalam perjalanan menuju Cape Verde.”
Ia menambahkan bahwa pria tersebut “jelas sudah terpapar virus sebelum naik kapal”, dan paparan itu hampir pasti berkaitan dengan hewan pengerat.
Pada 6 Mei, Menteri Kesehatan Afrika Selatan melaporkan kepada parlemen bahwa dua penumpang yang turun dari kapal pesiar tersebut ditemukan terinfeksi virus Andes. Virus Andes merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia, meski penularannya sangat jarang dan hanya terjadi melalui kontak dekat.
Aneh: PKT Umumkan Pengembangan Vaksin Virus Hanta pada Maret
Di tengah penyebaran cepat virus Hanta, publik kembali menyoroti pengumuman PKT pada Maret lalu mengenai keberhasilan pengembangan vaksin asam nukleat virus Hanta.
Pada 30 Maret, akun resmi WeChat komunitas virologi Tiongkok mempublikasikan artikel berjudul:
“Tim Zhang Fanglin/Ye Wei dari Universitas Kedokteran Militer Angkatan Udara Berhasil Mengembangkan Vaksin Asam Nukleat Virus Hanta Berbasis Stabilitas Struktur Prefusi.”

Artikel tersebut menyatakan bahwa tim peneliti dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Dasar universitas tersebut berhasil mengembangkan vaksin virus Hanta menggunakan prinsip vaksinologi struktural. Penelitian itu disebut memanfaatkan imunogen glikoprotein virus Hanta yang distabilkan dalam bentuk prefusi, dikombinasikan dengan platform vaksin DNA dan mRNA-LNP untuk menghasilkan perlindungan imun yang kuat dan tahan lama.
Artikel itu juga mengklaim bahwa vaksin tersebut dapat memberikan respons antibodi penetral yang tinggi, tahan lama, dan luas cakupannya, serta menjadi solusi penguat terbaik bagi orang yang sebelumnya telah menerima vaksin inaktif.
Di bagian akhir artikel disebutkan bahwa penelitian tersebut didukung oleh Program Riset dan Pengembangan Nasional Utama Tiongkok serta Yayasan Ilmu Pengetahuan Alam Nasional Tiongkok.
Pada 8 Mei, seorang blogger di platform X bernama “mickey” menulis:
“Pada 30 Maret, Universitas Kedokteran Militer Angkatan Udara Tiongkok dengan gencar mengumumkan keberhasilan pengembangan vaksin baru virus Hanta yang diklaim sangat efektif dan tahan lama. Namun hanya sebulan kemudian, wabah virus Hanta meledak di kapal pesiar Atlantik! Sudah menyebabkan banyak kematian dan infeksi lintas negara, WHO pun turun tangan darurat… Baru saja vaksinnya dikembangkan, virusnya langsung muncul? Kebetulan? Atau ada sesuatu yang disembunyikan?”
Komentar tersebut memicu perdebatan luas di internet.
Ramalan tentang Virus Baru
Awal tahun ini, peramal perempuan asal Thailand Mor Plai pernah meramalkan bahwa dunia akan menghadapi wabah virus baru dalam satu atau dua tahun mendatang. Ia menyebut virus itu memiliki karakteristik gabungan tuberkulosis dan wabah pes/Black Death.
Menurutnya, virus tersebut bukan penyakit tunggal, melainkan ancaman mematikan dengan berbagai gejala campuran. Ia juga mengklaim virus itu merupakan hasil rekayasa laboratorium yang bocor ke luar, baik secara tidak sengaja maupun disengaja, dan tahun 2026 hanyalah awal dari pandemi tersebut.
Laporan gabungan reporter Tang Zixuan / Editor Lin Qing


