Militer Israel pada 8 Mei menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir mereka telah menyerang lebih dari 85 titik infrastruktur milik Hizbullah. Saat ini Israel dan Hizbullah sedang berada dalam masa gencatan senjata selama tiga minggu, dan gelombang serangan ini disebut sebagai salah satu yang paling intens selama periode tersebut.
EtIndonesia. Sebagian besar serangan udara terjadi di wilayah Lebanon selatan. Otoritas Lebanon menyebutkan bahwa di daerah Saksakiyeh sedikitnya 7 orang tewas dan 15 lainnya terluka. Di Nabatieh, 1 orang tewas dan 1 luka-luka, sementara di Bedias tercatat 1 orang tewas dan 13 orang terluka.
Militer Israel mengatakan bahwa mereka menyerang “teroris Hizbullah di dalam bangunan yang digunakan untuk tujuan militer” di Saksakiyeh.
Pada 9 Mei, Hizbullah menyatakan bahwa sebagai tanggapan atas serangan yang terus berlangsung, mereka sedikitnya dua kali melancarkan serangan drone terhadap pasukan Israel di wilayah utara.
Sementara itu, militer Israel mengatakan beberapa drone bunuh diri memasuki wilayah Israel. Salah satu serangan menyebabkan seorang personel cadangan terluka parah, sementara dua orang lainnya mengalami luka sedang.
Berdasarkan syarat gencatan senjata yang diumumkan Washington, Israel tetap memiliki hak untuk bertindak terhadap “serangan yang direncanakan, ancaman yang segera terjadi, atau serangan yang sedang berlangsung”.
Perwakilan Lebanon dan Israel dijadwalkan mengadakan putaran baru pembicaraan langsung di Washington minggu depan. Namun anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, meminta pemerintah Lebanon mundur dari perundingan langsung dan menggantinya dengan negosiasi tidak langsung.
Hizbullah yang didukung Iran mulai terlibat dalam konflik Timur Tengah pada 2 Maret lalu, ketika mereka menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Sumber : NTDTV.com


