EtIndonesia.com Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah pada Minggu (28/6/2026), untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa serangan Ukraina yang terus berlanjut terhadap fasilitas energi Rusia memang telah mempengaruhi pasokan bahan bakar dan menyebabkan kelangkaan bahan bakar di beberapa wilayah.
Putin mengatakan bahwa serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia memang “telah menimbulkan masalah, dan itu sudah jelas.”
Ia menjelaskan bahwa pasokan bensin di Rusia saat ini masih dapat dipertahankan, namun pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus untuk menstabilkan distribusi bahan bakar. Jika diperlukan, pemerintah bahkan mempertimbangkan untuk membatasi ekspor solar (diesel) guna menjamin kebutuhan dalam negeri.
Pada hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengkonfirmasi bahwa militer Ukraina kembali menyerang kilang minyak di wilayah Krasnodar dan Yaroslavl, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menargetkan sektor energi Rusia.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Putin menegaskan bahwa Rusia tidak akan mengubah strategi militernya.
Ia menyatakan bahwa operasi militer di wilayah timur dan selatan Ukraina akan terus berlanjut, bahkan mengisyaratkan bahwa Rusia tidak menutup kemungkinan untuk menguasai wilayah Ukraina yang lebih luas.
Perkembangan Baru di Dalam Negeri Rusia
Memasuki tahun kelima perang Rusia–Ukraina, selain tekanan di medan perang, sejumlah perkembangan di dalam negeri Rusia juga menarik perhatian.
Pekan lalu, mantan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Ivanov meninggal dunia pada usia 73 tahun.
Kremlin telah mengkonfirmasi kabar tersebut, namun tidak mengungkapkan penyebab kematiannya.
Sementara itu, sejumlah sumber di media sosial mengklaim bahwa Ivanov meninggal akibat terjatuh dari gedung.
Karena Ivanov pernah menjadi salah satu sekutu penting Putin, kabar tersebut memicu spekulasi mengenai dinamika politik di kalangan elite pemerintahan Rusia.
Veteran Rusia Tuduh Ada Penyiksaan di Militer
Selain itu, menurut laporan Reuters, seorang veteran militer Rusia bernama Alexander Lunin baru-baru ini menyampaikan seruan terbuka kepada Putin.
Ia menuduh bahwa di dalam militer Rusia masih terdapat praktik penyiksaan, pemerasan, dan berbagai penyimpangan lainnya.
Lunin juga memperingatkan bahwa apabila persoalan tersebut terus memburuk, kondisi itu berpotensi memicu pemberontakan militer baru.
Menanggapi tuduhan tersebut, Kremlin menyatakan akan melakukan penyelidikan terhadap berbagai dugaan yang disampaikan. (***)


