EtIndonesia.com Pejabat Amerika Serikat dan sejumlah negara yang berperan sebagai mediator menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah sepakat menghentikan konflik militer yang berlangsung selama beberapa hari di sekitar Selat Hormuz serta kembali ke meja perundingan untuk mencari penyelesaian krisis melalui jalur diplomatik.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kapal-kapal kini telah dapat melintasi Selat Hormuz dengan bebas, dan jalur pelayaran energi terpenting di dunia itu secara bertahap mulai kembali beroperasi secara normal.
Menurut beberapa pejabat yang mengetahui proses tersebut, pihak Amerika telah mengusulkan putaran baru perundingan di Doha, ibu kota Qatar, yang paling cepat dapat berlangsung pada Selasa (30 Juni).
Namun, waktu pelaksanaan dan rincian pertemuan tersebut masih menunggu konfirmasi akhir.
Agenda utama pembicaraan diperkirakan akan mencakup:
- Menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
- Mencegah konflik militer kembali meningkat.
Ketegangan Berawal dari Serangan terhadap Kapal
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat pada Kamis pekan lalu, ketika Iran menyerang sebuah kapal yang berusaha melintasi selat melalui jalur di sepanjang pantai Oman.
Iran kemudian memerintahkan agar seluruh kapal menggunakan jalur pelayaran secara terpisah di sepanjang pantai Iran serta memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute yang didukung Amerika Serikat melalui wilayah Oman.
Selama konflik berlangsung, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz sempat menurun secara signifikan, sehingga memperlambat pemulihan aktivitas di jalur yang mengangkut sekitar 20% perdagangan minyak mentah dunia melalui laut.
Perbedaan Sikap Mengenai Selat Hormuz Masih Ada
Meskipun kedua pihak telah sepakat untuk melanjutkan perundingan, mereka masih memiliki perbedaan pandangan mengenai kewenangan atas Selat Hormuz.
Menurut media pemerintah Iran, pada 28 Juni, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran akan memiliki kewenangan penuh atas Selat Hormuz.
Sebaliknya, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang akan memberikan Iran hak untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional.
Washington kembali menekankan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi kebebasan navigasi internasional.
Trump Kembali Mengeluarkan Peringatan
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir pekan mengunggah pernyataan di media sosial yang memperingatkan bahwa apabila upaya diplomatik gagal, Amerika Serikat mungkin terpaksa menyelesaikan operasi yang sedang berlangsung melalui kekuatan militer.
Trump juga mengatakan bahwa jika situasi berkembang ke arah tersebut, “Republik Islam Iran tidak akan ada lagi.”
Jalur Komunikasi Militer Masih Belum Diaktifkan
Menurut laporan The Wall Street Journal, Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah merencanakan untuk melanjutkan perundingan damai di Swiss pada akhir pekan lalu.
Namun, pertemuan tersebut ditunda akibat pecahnya konflik di Selat Hormuz.
Meskipun kedua pihak telah sepakat membentuk jalur komunikasi langsung militer (hotline) untuk mencegah salah perhitungan maupun serangan di laut, mekanisme tersebut hingga kini masih belum resmi diaktifkan.
Sumber : NTDTV.com


