EtIndonesia.com Bermain dengan kekurangan seorang pemain sepanjang sebagian besar babak kedua, Inggris mampu bertahan dari gempuran umpan silang dan tembakan Meksiko di Stadion Azteca yang dipenuhi atmosfer bermusuhan untuk menjaga asa meraih gelar Piala Dunia kedua mereka.
Dua gol yang dicetak gelandang Jude Bellingham hanya dalam rentang dua menit pada babak pertama terbukti sangat berharga setelah Meksiko memperkecil ketertinggalan pada menit ke-42 dan mencetak gol kedua di pertengahan babak kedua.
Kapten Inggris Harry Kane memberikan gol tambahan yang sangat dibutuhkan timnya melalui eksekusi penalti pada menit ke-61, tidak lama setelah bek Jarell Quansah menerima kartu merah akibat tekel ceroboh, yang kemudian diikuti gelombang serangan bertubi-tubi dari Meksiko.
Sebagian besar pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi dan saling menyerang dari ujung ke ujung lapangan hingga Inggris terpaksa menarik keluar sebagian besar pemain menyerangnya untuk memperkuat pertahanan di kotak penalti. Mereka harus bertahan selama 36 menit waktu normal di bawah tekanan konstan, ditambah 11 menit waktu tambahan. Setiap pemain lapangan Inggris setidaknya sekali berhasil memblokir tembakan atau umpan silang lawan, sementara kiper Jordan Pickford menghadapi 19 tembakan sepanjang pertandingan.
Strategi menyerang menjadi rencana awal kedua tim. Penyerang Meksiko Raúl Jiménez sempat melepaskan sundulan menyelam ke sudut kiri bawah gawang, tetapi berhasil ditepis Pickford. Inggris membalas melalui serangkaian umpan panjang ke sayap kiri cepat Anthony Gordon, yang berulang kali berhasil melewati pengawalnya di area pertahanan Meksiko.
Inggris memecah kebuntuan pada menit ke-36. Gelandang Declan Rice menggiring bola sekitar 60 yard di sisi kanan lapangan sebelum memberikan umpan pendek ke depan kepada Bukayo Saka. Saka kemudian mengirim umpan silang yang disambut sundulan Bellingham dan berbuah gol.
Bellingham kembali mencetak gol dua menit kemudian melalui kerja sama satu-dua yang apik dengan Kane, yang memungkinkan pemain berusia 23 tahun itu menceploskan bola dari jarak dekat melewati kiper Meksiko Raul Rangel.
“Silakan minum satu gelas lagi dan kirim pesan kepada bos Anda bahwa Anda tidak akan masuk kerja besok,” kata Bellingham kepada reporter FIFA setelah pertandingan ketika diminta menyampaikan pesan kepada para pendukung Inggris. “Apa yang kami lakukan malam ini benar-benar luar biasa.”
Gol pertama Meksiko tercipta sesaat sebelum turun minum setelah tendangan bebas di sisi kiri kotak penalti Inggris. Sebuah tembakan berhasil diblok, namun penyerang Julián Quiñones menyambar bola liar dari jarak dekat dan mengirimkannya ke dalam gawang.
Taktik kedua tim berubah sembilan menit setelah babak kedua dimulai. Bek Inggris Jarell Quansah diusir keluar lapangan setelah bagian bawah sepatunya mengenai tulang kering bagian atas seorang pemain bertahan Meksiko tanpa lebih dulu menyentuh bola.
Sebelum pertandingan ini, Meksiko belum kebobolan satu gol pun dalam tiga laga fase grup maupun saat mengalahkan Ekuador di babak 32 besar. Kini giliran pertahanan Inggris yang diuji habis-habisan.
Inggris menggantikan Saka dengan bek John Stones dan mulai lebih sering memainkan umpan panjang dari lini belakang. Sebuah bola lambung ke arah gawang Meksiko memantul mengenai Kane dan jatuh ke jalur lari Gordon. Pemain itu bergerak ke arah tengah sebelum dijatuhkan lawan sehingga menghasilkan tendangan penalti.
Kane melepaskan tendangan keras dengan kaki kanannya ke sudut kiri bawah gawang untuk membawa Inggris unggul 3-1.
Namun, sembilan menit kemudian Kane justru menghadiahkan penalti kepada Meksiko saat berusaha menghalau tendangan tinggi pemain pengganti Brian Gutierrez, tetapi mengenai kaki lawan alih-alih bola. Jiménez berhasil mengecoh Pickford melalui langkah tipuan sebelum menendang bola rendah ke sudut kiri gawang.
Jiménez memperoleh peluang lain pada detik-detik terakhir pertandingan ketika melepaskan tembakan dari jarak kurang dari enam yard dari garis gawang. Namun upayanya diblok Stones dan bola keluar lapangan.
Pelatih Meksiko Javier Aguirre memuji ketangguhan pertahanan lawannya serta kerja keras luar biasa para pemainnya.
“Anda harus memainkan pertandingan yang sempurna untuk mengalahkan Inggris,” ujarnya dalam konferensi pers setelah pertandingan.
“Gol ketiga itu benar-benar mematikan kami.
“Mereka [para pemain Meksiko] meninggalkan segalanya di lapangan dan melakukan semua yang mereka bisa.”
Meksiko sebelumnya pernah mencapai perempat final Piala Dunia dua kali saat menjadi tuan rumah, yaitu pada 1970 dan 1986. Kekalahan ini merupakan kekalahan pertama Meksiko dalam pertandingan Piala Dunia di Stadion Azteca, Mexico City, sekaligus pertandingan terakhir yang dimainkan di Meksiko dalam turnamen kali ini.
Inggris, yang meraih satu-satunya gelar Piala Dunia pada 1966, kini melaju ke babak delapan besar untuk menghadapi Norwegia di Stadion Miami pada 11 Juli waktu setempat.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengatakan para pemainnya menampilkan performa heroik dan meraih hasil yang juga heroik.
“Pertandingan ini tidak terasa seperti laga babak 16 besar,” katanya.
“Rasanya hampir seperti kami baru saja memenangkan final atau sesuatu yang setara dengan itu.
“Kami melakukannya dengan mentalitas, keberanian murni, dan mampu mengatasi setiap rintangan yang menghadang.”
Bek Inggris Jordan Henderson, yang tidak bermain dalam pertandingan tersebut, mengalami cedera pergelangan tangan saat merayakan kemenangan setelah pelueit akhir berbunyi. Tuchel mengatakan Henderson telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan cederanya tergolong serius.
Artikel ini terbit di Epoch Times edisi bahasa Indonesia


