EtIndonesia.com – Pemerintah Iran secara resmi memulai rangkaian upacara pemakaman kenegaraan bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (4/6/2026). Prosesi yang dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari tersebut menjadi salah satu peristiwa politik dan keagamaan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran, sekaligus berlangsung di tengah situasi keamanan dan politik yang masih sangat sensitif pascakonflik bersenjata yang mengguncang negara itu.
Sejak pagi hari, ribuan hingga puluhan ribu pelayat memadati kompleks Masjid Agung Mosalla Imam Khomeini di Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang selama lebih dari tiga dekade memegang kendali tertinggi pemerintahan Iran.
Suasana berkabung berlangsung sangat emosional. Di dalam kompleks masjid, gema takbir dan doa terus berkumandang. Massa secara berulang meneriakkan berbagai slogan politik serta seruan pembalasan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Ayatollah Ali Khamenei. Seruan tersebut bergema hampir tanpa henti dan menjadi bagian yang sangat menonjol dalam prosesi pemakaman.
Di berbagai titik kota, bendera Iran serta bendera-bendera bernuansa keagamaan tampak dikibarkan berdampingan dengan spanduk-spanduk penghormatan kepada Khamenei. Banyak warga mengenakan pakaian hitam sebagai simbol berkabung nasional.
Pengamanan Diperketat di Seluruh Ibu Kota
Di luar area masjid, aparat keamanan memberlakukan pengamanan dalam skala yang sangat besar.
Puluhan kendaraan militer, kendaraan lapis baja, serta mobil kepolisian ditempatkan di berbagai ruas jalan utama menuju lokasi upacara. Pemeriksaan keamanan dilakukan secara berlapis terhadap setiap orang yang memasuki kawasan pemakaman.
Sementara itu, anggota Basij, organisasi milisi sukarelawan yang berada di bawah struktur keamanan Iran, terlihat berpatroli menggunakan sepeda motor di berbagai sudut Kota Teheran. Kehadiran mereka menjadi bagian dari operasi pengamanan besar-besaran yang bertujuan mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan selama berlangsungnya prosesi kenegaraan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Iran menempatkan upacara pemakaman ini sebagai salah satu agenda nasional dengan tingkat prioritas keamanan tertinggi.
Pemerintah Lakukan Mobilisasi Nasional
Meskipun media pemerintah Iran menggambarkan prosesi tersebut sebagai bentuk duka cita spontan dari jutaan rakyat Iran, sejumlah media internasional menilai bahwa pemerintah mengerahkan hampir seluruh kemampuan logistik negara guna memastikan besarnya jumlah peserta yang hadir.
Menurut laporan Reuters, pemerintah melakukan mobilisasi dalam skala nasional agar prosesi berlangsung semeriah mungkin dan mampu menunjukkan persatuan nasional di hadapan dunia internasional.
Berbagai fasilitas publik disiapkan untuk menampung para pelayat yang datang dari berbagai provinsi.
Sejumlah hotel di Teheran dilaporkan memberikan potongan harga hingga 50 persen bagi para tamu yang datang mengikuti prosesi pemakaman. Selain itu, banyak sekolah, gedung olahraga, dan fasilitas umum lainnya dialihfungsikan menjadi tempat penampungan sementara.
Di sektor transportasi, pemerintah juga melakukan penyesuaian besar-besaran terhadap layanan bus antarkota maupun jaringan kereta api nasional guna memperlancar arus kedatangan masyarakat menuju ibu kota.
Langkah tersebut mencerminkan besarnya operasi logistik yang disiapkan pemerintah demi memastikan prosesi pemakaman berlangsung tanpa hambatan.
Laporan Dugaan Tekanan terhadap Berbagai Lembaga
Di sisi lain, media Iran yang berbasis di luar negeri, Iran International, melaporkan adanya dugaan bahwa pemerintah memberikan tekanan kepada sejumlah perusahaan, instansi, organisasi amal, hingga para pekerja agar mengirimkan perwakilan untuk menghadiri prosesi tersebut.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa kehadiran peserta tidak sepenuhnya bersifat sukarela, melainkan dalam sejumlah kasus didorong melalui mekanisme mobilisasi yang melibatkan institusi pemerintah maupun organisasi yang memiliki hubungan dengan negara.
Namun demikian, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan tersebut.
Dinilai Sebagai Pertunjukan Politik Sekaligus Keagamaan
Sejumlah pengamat menilai bahwa upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga menjadi momentum politik yang sangat penting bagi Republik Islam Iran.
Seorang analis politik asal Tiongkok menilai bahwa prosesi tersebut pada hakikatnya merupakan sebuah peristiwa politik yang dikemas dalam balutan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, terdapat dua tujuan utama yang ingin dicapai pemerintah Iran melalui penyelenggaraan acara berskala nasional tersebut.
Pertama, memperlihatkan kepada masyarakat domestik bahwa pemerintahan masih memiliki legitimasi serta dukungan publik setelah melewati berbagai krisis besar.
Kedua, mengirimkan pesan kepada dunia internasional bahwa struktur kekuasaan Iran tetap solid, stabil, dan mampu mempertahankan kendali negara meskipun baru saja kehilangan figur paling berpengaruh dalam sistem politik Republik Islam.
Dalam konteks tersebut, besarnya jumlah peserta yang hadir dinilai memiliki nilai simbolis yang sangat penting bagi pemerintah.
Absennya Mojtaba Khamenei Memicu Spekulasi
Di tengah prosesi yang berlangsung megah tersebut, perhatian publik justru tertuju pada sosok Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei yang selama bertahun-tahun sering disebut sebagai tokoh paling berpeluang melanjutkan kepemimpinan ayahnya.
Hingga berlangsungnya upacara pembukaan pemakaman, Mojtaba tidak terlihat menghadiri acara secara terbuka.
Selain dirinya, tiga saudara laki-laki Ayatollah Ali Khamenei juga dilaporkan tidak tampak mengikuti prosesi tersebut.
Ketiadaan mereka memunculkan berbagai spekulasi mengenai alasan keamanan maupun dinamika politik internal yang sedang berlangsung di lingkaran elite Iran. Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan penjelasan resmi mengenai absennya sejumlah anggota keluarga tersebut.
Rezim Berusaha Bangun Kembali Persatuan Nasional
Direktur Program Timur Tengah di Chatham House, Sanam Vakil, menilai bahwa penyelenggaraan pemakaman dalam skala sangat besar juga harus dipahami dalam konteks situasi politik Iran saat ini.
Menurut Vakil, Iran baru saja melewati periode yang sangat berat, mulai dari konflik bersenjata, tekanan internasional, hingga gelombang demonstrasi besar yang sebelumnya mengguncang stabilitas politik negara tersebut.
Dalam kondisi demikian, pemerintah diperkirakan berupaya memanfaatkan momentum pemakaman Ayatollah Ali Khamenei untuk membangun kembali citra persatuan nasional dan memperkuat legitimasi negara di tengah masa transisi kepemimpinan.
Ia menilai bahwa keberhasilan pemerintah menghadirkan jutaan warga dalam prosesi pemakaman akan menjadi simbol bahwa negara masih mampu mempertahankan stabilitas politik serta dukungan publik, meskipun menghadapi tekanan yang sangat besar baik dari dalam maupun luar negeri. (***)


