EtIndonesia.com Belakangan ini, wilayah selatan dan utara Tiongkok sama-sama dilanda hujan lebat. Di Guangxi, banyak warga melaporkan bahwa sejumlah waduk melepaskan air pada malam hari tanpa peringatan, sehingga banjir datang secara tiba-tiba dan menenggelamkan desa, rumah, serta lahan pertanian. Banyak korban terjebak dan bencana terus meluas.
Sementara itu, di wilayah timur laut Tiongkok seperti Fushun, Provinsi Liaoning, hujan deras dan pelepasan air dari waduk juga menyebabkan banjir besar yang menelan korban jiwa serta mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat.
Seorang warga Nanning, Guangxi, mengatakan : “Bendungan Waduk Liulan jebol. Hampir seluruh desa hilang.”
Akibat pengaruh Topan Maysak serta hujan deras yang terus berlangsung, berbagai daerah di Guangxi mengalami banjir hebat.
Pada 5 Juli malam, Waduk Liulan di Hengzhou, Kota Nanning, melakukan pelepasan air. Bendungan kemudian mengalami kerusakan besar sehingga air bah mengalir deras ke wilayah hilir.
Banyak rumah terendam hingga atapnya. Sejumlah warga terpaksa naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri. Video yang beredar di internet juga memperlihatkan beberapa orang terseret arus deras dan berjuang bertahan hidup. Setelah banjir melewati kota-kota dan desa di hilir, banyak rumah serta kendaraan hancur atau terendam.
Pada 7 Juli pagi, Pusat Hidrologi Guangxi kembali mengeluarkan peringatan merah banjir.
Menurut laporan resmi, sebanyak 55 sungai dan 70 stasiun hidrologi, termasuk Sungai Yujiang dan Qianjiang, telah melampaui batas siaga. Ketinggian air tertinggi mencapai 7,46 meter di atas batas peringatan. Dalam 24 jam berikutnya, sejumlah sungai diperkirakan masih akan mengalami banjir dengan ketinggian 5 hingga 6 meter di atas batas normal.
Beberapa warga Hengzhou mengatakan kepada wartawan New Tang Dynasty Television bahwa sejak 4 Juli daerah mereka dilanda hujan lebat dan angin kencang. Ditambah dengan air laut pasang dan pelepasan air waduk, kondisi tersebut menyebabkan Waduk Liulan jebol.
Menurut mereka, lebih dari 100.000 penduduk di Kota Yunbiao terdampak. Listrik dan air bersih terputus, sementara para korban sangat membutuhkan bantuan.
“Masih sangat banyak orang yang tidak punya makanan karena seluruh jalan telah terendam. Permukaan air terus naik dan situasinya benar-benar sangat darurat. Sepertinya air tidak akan cepat surut karena hujan deras turun lagi,” kata Seorang warga Yunbiao yang menggunakan nama samaran Xiao Li.
“Permintaan bantuan membanjiri internet. Persediaan bantuan sangat cepat habis. Tempat tidur darurat juga tidak mencukupi. Baru beberapa kotak tempat tidur lipat yang dikirim, setiap kotak hanya berisi empat unit. Jelas tidak cukup untuk semua korban,” lanjutnya.
Pemerintah setempat melaporkan bahwa hingga 7 Juli, banjir telah menyebabkan sedikitnya 4 orang meninggal dunia, 8 orang hilang, dan 84.000 orang terdampak.
Namun demikian, sejumlah warga mengatakan bahwa kondisi sebenarnya jauh lebih parah. Banyak orang terseret banjir, banyak pula yang masih hilang, dan hingga kini sejumlah desa masih terendam.
Seorang warga Hengzhou bermarga Chen mengatakan: “Hengzhou dikenal sebagai ibukota bunga melati. Setelah bendungan waduk jebol, lahan pertanian dan kebun melati berubah menjadi lautan. Kedalaman air sekitar lebih dari satu meter. Hampir semua kebun melati terendam. Peternakan juga sangat menderita. Babi dan sapi bahkan terlihat berenang di permukaan air.”
Warga lain bermarga Huang mengatakan: “Sekarang banyak daerah mengalami pemadaman listrik. Di Yunbiao air tidak bisa mengalir keluar. Seorang teman saya kehilangan sekitar 5.000 ekor bebek yang hanyut terbawa banjir.”
Selain Waduk Liulan, warga juga mengatakan bahwa Waduk Yunbiao, Waduk Sancha, dan beberapa waduk lainnya mengalami keruntuhan atau longsor pada tanggulnya, sehingga banyak desa maupun kawasan perkotaan terisolasi oleh banjir.
Seorang warga bermarga Yang mengatakan: “Bendungan waduk jebol dan semuanya terendam. Orang-orang tua mengatakan belum pernah melihat banjir sebesar ini. Semua kebun melati tenggelam, jagung saya habis terendam, bahkan mesin cuci saya hanyut. Kehidupan keluarga kami yang memang sederhana kini menjadi semakin sulit.”
Pada 6 Juli, seorang narasumber di Nanning mengatakan bahwa longsornya tanggul Waduk Sancha di bagian hulu Desa Liuxiang, Kecamatan Shitang, Hengzhou, menyebabkan seluruh desa di hilir terendam.
Daerah tersebut mengalami pemadaman air dan listrik. Hujan masih terus turun, permukaan air terus naik, sementara banyak korban masih terjebak dan bantuan maupun logistik belum tiba.
Di Kecamatan Taiping, Kabupaten Lingshan, Kota Qinzhou, banjir besar juga terjadi sejak 5 Juli.
Sebagian ruas jalan Qinling menuju Jiulong dilaporkan ambruk sehingga beberapa mobil terjatuh. Seorang pemilik kendaraan dilaporkan meninggal karena tenggelam.
Seorang warga Dongxing, Kota Fangchenggang, mengatakan bahwa banjir menjadi semakin parah karena persiapan pengendalian banjir dinilai kurang memadai, ditambah pelepasan air dari waduk dan pembangkit listrik tenaga air di wilayah hulu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Seorang warga Fangchenggang bermarga Huang mengatakan: “Banyak tempat terendam dengan kedalaman lebih dari tiga meter. Air dan listrik padam. Seluruh lantai pertama bangunan terendam. Toko-toko semuanya kebanjiran. Mobil-mobil terendam sampai tidak terlihat atapnya lagi. Semuanya rusak dan kerugiannya sangat besar.”
Bencana tidak hanya terjadi di Guangxi.
Pada 6–7 Juli, Shandong, Henan, Anhui, Jiangsu, dan Hubei juga dilanda badai petir dengan angin berkekuatan di atas skala 10 disertai hujan deras.
Di Huangshi, Huanggang, Ezhou, dan Xianning di Provinsi Hubei terjadi banjir perkotaan yang parah dan banyak pohon tumbang.
Menurut laporan resmi hingga pukul 23.00 pada 6 Juli malam, bencana tersebut menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan 1 orang hilang.
Wilayah yang paling parah adalah Distrik Huangzhou di Kota Huanggang, dengan 4 korban meninggal dan lebih dari 170 orang dirawat di rumah sakit akibat luka-luka.
Hingga kini, wilayah timur laut Hubei masih berada dalam status peringatan oranye untuk potensi banjir bandang.
Di wilayah utara Tiongkok, hujan deras juga menyebabkan kerusakan besar.
Sejak 4 Juli, Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok mengaktifkan tanggap darurat banjir Level IV untuk Provinsi Liaoning dan Jilin.
Akibat hujan yang berlangsung selama beberapa hari, banyak jalan di Fushun, Liaoning, berubah menjadi sungai. Lahan pertanian dan rumah-rumah mengalami kerusakan berat, dan sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Pada 7 Juli pagi, hujan deras juga memicu tanah longsor di Desa Rencang, Kecamatan Nanhe, Kabupaten Dangchang, Provinsi Gansu.
Sebanyak 33 warga tertimbun material longsor. Menurut laporan resmi, hingga pukul 12.30 siang, 18 orang telah berhasil dievakuasi.
Sumber : NTDTV.com


