Baru-baru ini, Kota Huanggang, Provinsi Hubei, dilanda tornado kuat berkategori EF2. Menurut laporan, angin dengan kekuatan hingga level 15 menerjang kawasan perkotaan, merobohkan pabrik, membalikkan kendaraan, dan merusak banyak bangunan sehingga wilayah tersebut tampak porak-poranda seperti medan perang.
Namun, yang menarik perhatian warga setempat adalah sebuah Kuil Raja Naga (Longwang Dian/Longwang Miao) yang berada di dekat daerah paling parah terdampak dilaporkan tetap utuh tanpa mengalami kerusakan. Bahkan papan nama kuil di bagian depan masih tergantung dengan baik.
EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026 malam, sejumlah wilayah di bagian timur Hubei, termasuk Huangshi, Huanggang, Ezhou, dan Xianning, dilanda cuaca konvektif yang sangat kuat disertai badai petir dan angin kencang. Sebanyak 53 kecamatan dilaporkan mengalami angin berkekuatan level 8 hingga 13, sementara dua kecamatan mencatat kecepatan angin mencapai level 13.
Di pusat Kota Huanggang sendiri dilaporkan terjadi tornado EF2, yang disebut sebagai peristiwa langka dalam sejarah kota tersebut, dengan kecepatan angin dilaporkan melebihi level 15.
Rekaman udara yang diambil pada 7 Juli memperlihatkan kawasan permukiman dan industri mengalami kerusakan berat. Atap rumah-rumah dan bangunan pabrik beterbangan, memperlihatkan rangka baja yang terbuka. Banyak jendela pecah, sementara puing-puing bangunan berserakan di mana-mana sehingga pemandangannya menyerupai wilayah yang baru saja dibombardir.
Pada malam kejadian, angin puting beliung menerjang jalan-jalan utama dan sekunder, kawasan permukiman, kawasan industri, serta pusat logistik di Huanggang.
Di antara lokasi yang mengalami kerusakan paling berat adalah Perusahaan Logistik Qicheng di bagian selatan Jalan Pagoda, Distrik Huangzhou, serta proyek pergudangan di Komunitas Changjiang. Sejumlah truk besar dilaporkan terseret angin hingga sejauh 30 meter.
Meski tornado melintasi kawasan tersebut, Kuil Raja Naga yang berada tepat di dekat wilayah terdampak paling parah dilaporkan tetap utuh. Sementara rumah-rumah di sekitarnya ada yang hanya menyisakan rangka baja dan banyak atap bangunan beterbangan, bangunan utama kuil hampir tidak mengalami kerusakan.
Peristiwa ini memicu banyak perbincangan di media sosial Tiongkok.
Sejumlah warganet berkomentar:
- “Kuil Raja Naga berada tepat di pusat jalur tornado. Rumah-rumah disekitarnya rusak berat, tetapi genteng dan tembok kuil tetap utuh. Hanya sebagian genteng bangunan kecil di samping yang terlepas, sedangkan bangunan utama hampir tidak rusak sama sekali.”
- “Di Huanggang, daerah sekitarnya porak-poranda, tetapi Kuil Raja Naga tidak mengalami apa-apa.”
- “Papan nama dan lentera kuil pun tidak sampai terlepas.”
- “Kalau tidak ada Kuil Raja Naga, mungkin kerusakannya akan lebih parah.”
Komentar lainnya antara lain:
- “Kebijaksanaan orang-orang zaman dahulu sungguh luar biasa.”
- “Benar-benar sulit dipercaya.”
- “Sungguh menakjubkan! Kita harus menghormati para dewa.”
- “Manusia seharusnya melakukan introspeksi.”
- “Kita harus menghormati alam dan langit, serta lebih banyak berbuat baik.”
Ada juga warganet yang menyampaikan pandangan pribadi seperti:
“Ilmu pengetahuan hanyalah tipuan. Orang Barat pada masa awal ingin menjadi otoritas dunia sehingga menciptakan berbagai teori. Hal-hal spiritual melampaui cara berpikir manusia.”
Menurut laporan resmi pemerintah Tiongkok, hingga 7 Juli pagi, bencana itu mengakibatkan sekitar 14.600 orang terdampak, 11 orang meninggal dunia, dan 1 orang dinyatakan hilang.
Catatan: Artikel sumber juga menyatakan bahwa “angka sebenarnya mungkin lebih tinggi daripada data resmi karena pemerintah PKT dituduh sering menutupi skala bencana.” Pernyataan tersebut merupakan klaim dari sumber berita dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Artikel sebelumnya terbit di ntdtv.com


