EtIndonesia.com Setelah kebakaran besar yang terjadi beberapa waktu lalu di sebuah pabrik sepatu di Jinjiang, Provinsi Fujian, yang menurut laporan menyebabkan sedikitnya 28 orang meninggal dunia, sejumlah video yang beredar di internet menunjukkan bahwa beberapa pabrik di daerah tersebut diduga mewajibkan para pekerja membawa alat pemadam api (APAR) di punggung mereka saat bekerja.
Menurut laporan itu, banyak warganet mempertanyakan kebijakan itu karena dinilai tidak menyelesaikan persoalan keselamatan kerja, bahkan justru menambah beban para pekerja.
Video yang beredar memperlihatkan para pekerja di beberapa pabrik sepatu dan pabrik garmen di Fujian mengikat alat pemadam api di punggung mereka sambil tetap mengoperasikan mesin produksi.
Beberapa alat pemadam tersebut berukuran cukup besar, sehingga para pekerja tampak kesulitan saat berjalan maupun membungkuk selama bekerja.
Setelah rekaman itu menyebar luas, banyak warganet memberikan komentar bernada sindiran. Sebagian menilai kebijakan tersebut hanya merupakan bentuk formalisme, yang tidak benar-benar meningkatkan keselamatan kebakaran, tetapi justru menambah beban kerja para buruh.
Seorang warganet berkomentar: “Ini benar-benar konyol. Yang penting para pimpinan senang.”
Warganet lainnya mempertanyakan: “Keselamatan memang yang utama, tetapi apakah harus sampai seperti ini? Kalau benar-benar terjadi kebakaran, yang lebih penting itu menyelamatkan nyawa pekerja atau menyelamatkan pabrik milik bos?”
Jinjiang dijuluki sebagai “Kota Sepatu Tiongkok” karena memiliki sangat banyak pabrik sepatu.
Media Tiongkok sebelumnya pernah melaporkan bahwa satu dari setiap lima pasang sepatu olahraga di dunia diproduksi di Chendai, Jinjiang.
Menurut platform informasi perusahaan Qichacha, pelanggan pabrik yang terbakar tersebut mencakup sejumlah merek internasional, antara lain: Slazenger (Inggris); HI-TEC (Inggris) dan BEPPI (Portugal).
Produk-produknya terutama diekspor ke:Prancis;Inggris;Jerman;Amerika Serikat; Australia dan Jepang.
Laporan disusun oleh Liu Jiajia, New Tang Dynasty Television (NTD).


