EtIndonesia.com Pada 23 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang paling menentukan dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan gelombang serangan udara ke-12 terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran pada 22 Juli 2026, berbagai indikator menunjukkan bahwa konfrontasi kedua negara kini memasuki fase yang berpotensi menentukan arah perang selanjutnya.
Di tengah meningkatnya operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, Israel meningkatkan status kewaspadaan nasional ke tingkat tertinggi, sementara Inggris dan sejumlah negara Eropa mulai mempersiapkan berbagai langkah antisipasi apabila konflik berkembang menjadi perang berskala lebih luas.
Amerika Serikat Gempur Dua Sasaran Militer Strategis Iran
Dalam operasi udara yang berlangsung pada 22 Juli 2026, pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dilaporkan menyerang Pangkalan Brigade Angkatan Laut Iran di Konarak, Provinsi Sistan dan Baluchestan, yang berada di kawasan tenggara Iran.
Sedikitnya tiga ledakan besar dilaporkan mengguncang kompleks pangkalan tersebut.
Selain pangkalan angkatan laut, serangan juga diarahkan ke gudang persenjataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah Gharb, Iran bagian barat.
Menurut berbagai laporan, gudang tersebut menyimpan beragam perlengkapan militer, antara lain:
- mortir;
- amunisi artileri;
- roket;
- serta berbagai jenis amunisi tempur lainnya.
Serangan tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat untuk terus mengurangi kemampuan logistik dan operasional militer Iran.
Iran Ancam Serang Pangkalan Amerika dan Infrastruktur Energi Kawasan Teluk
Tidak lama setelah serangan terjadi, pemerintah Iran langsung mengeluarkan pernyataan keras.
Berdasarkan laporan Fars News Agency, IRGC menyatakan telah memetakan berbagai sasaran strategis Amerika Serikat beserta fasilitas pendukungnya di kawasan Teluk Persia.
Menurut pernyataan tersebut, sasaran yang telah masuk dalam daftar target Iran meliputi:
- seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk;
- pusat-pusat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI);
- pembangkit listrik yang memasok energi bagi pusat data dan layanan komputasi awan.
IRGC memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat terus meningkatkan serangan terhadap Iran, fasilitas-fasilitas tersebut dapat menjadi sasaran balasan.
Iran juga secara khusus menyebut sejumlah lokasi strategis yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain:
- kawasan Jebel Ali di Dubai;
- jaringan kelistrikan Abu Dhabi;
- kawasan industri energi Ras Laffan di Qatar;
- jaringan listrik nasional Arab Saudi.
Menurut Iran, jaringan-jaringan tersebut turut menopang operasional berbagai perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Oracle, Google, serta Pangkalan Udara Pangeran Sultan yang digunakan militer Amerika Serikat.
Jalur Diplomasi Kembali Mengalami Kebuntuan
Di tengah meningkatnya eskalasi militer, peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik kembali mengalami kemunduran.
Menurut laporan Axios, Iran telah menolak proposal terbaru Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri konflik.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa pemerintah Iran tidak menunjukkan sikap kooperatif dalam proses pembahasan tersebut.
Perkembangan ini dinilai sebagai indikasi bahwa peluang dimulainya kembali perundingan damai kini semakin kecil.
Iran Isyaratkan Kemungkinan Operasi Darat
Pada 23 Juli 2026, juru bicara militer Iran, Akraminia, kembali mengeluarkan peringatan baru.
Ia menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat terus menyerang kawasan selatan dan wilayah pesisir Iran, pemerintah Iran akan mempertimbangkan penerapan strategi militer baru.
Menurutnya, militer Iran telah menyiapkan berbagai skenario operasi yang akan diumumkan pada waktu yang dianggap tepat.
Yang paling menarik perhatian adalah pernyataannya bahwa operasi darat termasuk salah satu opsi yang telah dipersiapkan apabila eskalasi terus meningkat.
Klaim Iran Siapkan Lebih dari 100 Rudal Balistik
Iran juga kembali meningkatkan tekanan psikologis terhadap Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, Teheran mengklaim telah menyiapkan lebih dari 100 rudal balistik yang diarahkan ke berbagai sasaran di wilayah Amerika Serikat.
Iran menyatakan bahwa apabila Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memberikan perintah, rudal-rudal tersebut akan segera diluncurkan.
Pemerintah Iran bahkan mengklaim sebagian besar wilayah Amerika Serikat dapat mengalami kerusakan besar akibat serangan tersebut.
Meski demikian, pengamat mengingatkan bahwa ancaman serupa telah beberapa kali disampaikan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Trump Sebut Operasi Berikutnya Akan Lebih Besar
Di pihak Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan pelaksanaan operasi militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.
Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump mengatakan bahwa operasi berikutnya diperkirakan memiliki skala lebih besar dibandingkan Operation Epic Rage.
Ia menegaskan bahwa seluruh persiapan militer telah selesai dan keputusan akhir akan segera diambil.
Trump juga menyatakan bahwa operasi tersebut tidak memerlukan keterlibatan Israel.
Namun, ia menambahkan bahwa apabila Israel diminta ikut bergabung, negara tersebut dapat langsung berpartisipasi hanya dalam waktu beberapa menit.
Meski demikian, Trump mengakui bahwa keterlibatan Israel hampir pasti akan memicu serangan balasan Iran terhadap negara tersebut.
Koordinasi Amerika Serikat dan Israel Semakin Intensif
Berbagai laporan juga menyebutkan bahwa Kepala Mossad yang baru dilaporkan melakukan kunjungan ke Washington D.C. untuk bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Pemerintahan Trump.
Dalam pertemuan tersebut, ia disebut menyerahkan berbagai informasi intelijen mengenai:
- fasilitas bawah tanah Iran;
- perkembangan program pengayaan uranium;
- kondisi ekonomi Iran.
Pada saat yang sama, sejumlah komandan senior Angkatan Udara Israel dan Direktorat Operasi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga melakukan koordinasi intensif dengan militer Amerika Serikat guna menyamakan rencana operasi apabila eskalasi terus meningkat.
Pemerintah Israel bahkan menyatakan bahwa kedua negara kini tengah melaksanakan operasi bersama terhadap rezim Iran sekaligus jaringan kelompok proksi yang didukung Teheran, termasuk Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya.
Israel Tingkatkan Status Siaga Nasional
Setelah menerima informasi bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan intensitas operasi militernya terhadap Iran, pemerintah Israel segera menaikkan tingkat kewaspadaan nasional.
Menurut laporan Channel 14 Israel, berbagai bunker dan tempat perlindungan bawah tanah mulai dibuka untuk masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan sekitar Tel Aviv.
Wali Kota Ramat Gan juga mengumumkan bahwa seluruh tempat perlindungan umum telah resmi dibuka.
Langkah tersebut diambil setelah hasil evaluasi keamanan menunjukkan meningkatnya risiko serangan rudal Iran menjelang akhir pekan.
Amerika Serikat Terus Menambah Kekuatan Tempur
Di lapangan, Washington terus mengirimkan tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah.
Berbagai laporan menyebutkan pengerahan meliputi:
- pasukan operasi khusus;
- skuadron pesawat tempur;
- pesawat pengebom strategis B-1 Lancer;
- pesawat peperangan elektronik;
- berbagai unsur pendukung operasi udara lainnya.
Sejumlah pesawat pengebom strategis yang berpangkalan di Amerika Serikat maupun Inggris juga dilaporkan telah berada dalam status siaga tinggi.
Para analis menilai bahwa 24 hingga 48 jam berikutnya berpotensi menjadi periode paling menentukan dalam perkembangan konflik saat ini.
Dukungan Medis Militer Mulai Dipersiapkan
Sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya korban perang, Amerika Serikat juga memperkuat kemampuan medis militernya.
Lebih dari 150 tenaga medis militer Amerika Serikat telah tiba di Landstuhl Regional Medical Center di Jerman.
Rumah sakit militer tersebut dipersiapkan sebagai pusat penanganan korban apabila konflik berkembang menjadi perang berskala besar.
Selain itu, aktivitas penerbangan logistik militer Amerika menuju berbagai pangkalan di Inggris dan negara-negara Eropa juga meningkat secara signifikan.
Marco Rubio: Kesempatan Damai Semakin Menipis
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menilai bahwa pemerintah Iran kini tidak lagi menunjukkan keinginan untuk mencapai penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Menurut Rubio, setiap malam yang berlalu tanpa adanya kesepakatan hanya akan memperbesar konsekuensi yang harus dihadapi Iran di kemudian hari.
Iran Dinilai Masih Memiliki Kapabilitas Militer Signifikan
Meski terus mendapat tekanan udara dari Amerika Serikat, berbagai analisis menunjukkan bahwa Iran masih memiliki sejumlah kemampuan militer yang patut diperhitungkan.
Di antaranya meliputi:
- Persediaan pesawat nirawak (drone) dalam jumlah besar.
- Rudal anti-kapal yang masih mampu mengancam pelayaran di Teluk Persia.
- Armada kapal cepat yang dapat mengganggu operasi kapal perang maupun kapal dagang.
- Sekitar 190.000 personel militer yang siap dikerahkan apabila konflik berkembang menjadi perang terbuka.
Beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa dalam skenario paling ekstrem, Amerika Serikat dapat mempertimbangkan operasi darat untuk menguasai pulau-pulau strategis di sekitar Selat Hormuz demi mengamankan jalur pelayaran internasional.
Iran Juga Mengancam Inggris
Pada 23 Juli 2026, Iran memperluas ancamannya kepada negara-negara Barat.
Teheran memperingatkan bahwa apabila wilayah Inggris atau pangkalan militer Inggris digunakan untuk mendukung operasi udara Amerika Serikat, fasilitas-fasilitas tersebut juga akan menjadi sasaran serangan.
Iran secara khusus menyebut RAF Fairford, pangkalan udara Inggris yang selama ini kerap digunakan pesawat pengebom strategis Amerika Serikat.
Menanggapi ancaman tersebut, Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Inggris siap mempertahankan keamanan nasional dan akan menggunakan hak membela diri apabila menghadapi ancaman.
Ketegangan dengan Prancis Ikut Meningkat
Di tengah situasi tersebut, hubungan Iran dengan Prancis juga mengalami ketegangan baru.
Beberapa waktu sebelumnya, Iran dilaporkan sempat menahan dua diplomat Prancis selama hampir empat jam, bahkan salah seorang di antaranya diduga mengalami tindakan kekerasan fisik.
Insiden itu mendorong Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran.
Pemerintah Prancis menyatakan sedang mengevaluasi seluruh opsi respons yang dapat diambil apabila situasi terus memburuk.
Sejumlah pengamat menilai bahwa Inggris dan Prancis berpotensi meningkatkan keterlibatan mereka apabila konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Negara-Negara Teluk Mulai Sulit Bersikap Netral
Negara-negara Teluk yang selama beberapa hari terakhir ikut terdampak berbagai serangan kini dinilai semakin sulit mempertahankan posisi netral.
Banyak analis memperkirakan bahwa negara-negara tersebut akan meningkatkan koordinasi keamanan dengan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya apabila konflik terus meluas.
Di sisi lain, Iran diyakini tengah mempersiapkan diri menghadapi fase paling menentukan dalam konfrontasi saat ini.
Sejumlah analis juga berpendapat bahwa kemampuan Iran untuk tetap bertahan hingga kini tidak terlepas dari dukungan yang diperolehnya dari Tiongkok dan Rusia. (***)


