EtIndonesia.com — Ketika Amerika Serikat semakin memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, perhatian Washington kini tidak hanya tertuju pada kemampuan Teheran menjual minyak, tetapi juga pada perusahaan-perusahaan asing yang menjadi pembeli utama komoditas tersebut. Salah satu nama yang kini berada di pusat perhatian adalah raksasa petrokimia Tiongkok, Hengli Group, khususnya unit penyulingannya di Dalian.
Dalam laporan yang diterbitkan pada 17 Agustus 2026, The Wall Street Journal mengungkap secara terperinci bagaimana Hengli berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan minyak Iran. Menurut laporan tersebut, perusahaan itu diduga membeli minyak Iran bernilai miliaran dolar yang dikirim menggunakan jaringan kapal yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan. Hengli sendiri membantah melakukan perdagangan dengan Iran.
Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena Hengli bukan perusahaan kecil yang beroperasi jauh dari lingkaran ekonomi utama Tiongkok. Kelompok bisnis tersebut didirikan oleh pengusaha Chen Jianhua dan berkembang dari usaha tekstil menjadi konglomerat besar yang bergerak di bidang petrokimia, penyulingan minyak hingga pembuatan kapal.
Posisi Chen juga menarik perhatian karena ia termasuk di antara pengusaha swasta terkemuka yang hadir ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar pertemuan penting dengan para pemimpin sektor swasta pada 2025. Kehadiran tersebut menunjukkan besarnya posisi Hengli dalam lanskap industri Tiongkok.
Washington Sudah Menjatuhkan Sanksi
Tekanan terhadap Hengli sebenarnya telah meningkat beberapa bulan sebelumnya.
Pada 24 April 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Office of Foreign Assets Control atau OFAC menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., Ltd. Washington menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu pelanggan terbesar Iran untuk minyak mentah dan produk petroleum lainnya.
Departemen Keuangan AS mengatakan Hengli telah membeli produk minyak Iran senilai miliaran dolar. Sejak setidaknya 2023, fasilitas tersebut disebut menerima minyak Iran dari sejumlah kapal yang telah masuk daftar sanksi Amerika Serikat.
Tiga kapal yang disebut Washington—BIG MAG, GALE, dan ARES—bahkan dikatakan telah mengirimkan lebih dari lima juta barel minyak mentah Iran ke Hengli. Pemerintah AS juga menuduh sebagian transaksi tersebut berhubungan dengan minyak yang penjualannya diawasi jaringan terkait Angkatan Bersenjata Iran.
Besarnya Hengli membuat langkah Washington menjadi penting. Kompleks penyulingannya di Dalian memiliki kapasitas sekitar 400.000 barel per hari, menjadikannya salah satu perusahaan penyulingan independen terbesar di Tiongkok yang pernah menjadi sasaran langsung sanksi Amerika Serikat.
Bagi Washington, masalah utamanya adalah aliran pendapatan.
Selama Iran masih mampu menemukan pembeli dalam jumlah besar untuk minyaknya, efektivitas sanksi ekonomi Amerika Serikat akan memiliki batas. Minyak yang berhasil dijual tetap memberikan pemasukan kepada Teheran, sekalipun transaksi dilakukan dengan diskon, melalui perantara, kapal yang berganti identitas, ataupun sistem pembayaran yang berusaha mengurangi keterpaparan terhadap sistem keuangan Amerika.
Tiongkok Melawan Tekanan AS
Beijing tidak tinggal diam.
Pada 2 Mei 2026, Kementerian Perdagangan Tiongkok mengeluarkan perintah yang melarang pengakuan, pelaksanaan ataupun kepatuhan terhadap sanksi Amerika Serikat terhadap lima perusahaan penyulingan Tiongkok yang dituduh terlibat dalam transaksi minyak Iran.
Selain Hengli, perusahaan yang disebut mencakup Shandong Shouguang Luqing Petrochemical, Shandong Jincheng Petrochemical Group, Hebei Xinhai Chemical Group dan Shandong Shengxing Chemical.
Beijing menilai sanksi Washington merupakan penerapan yurisdiksi ekstrateritorial yang tidak semestinya dan menegaskan penolakannya terhadap sanksi sepihak yang tidak memperoleh mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan minyak Iran kini semakin terhubung dengan persaingan strategis Amerika Serikat-Tiongkok.
Jika Washington ingin benar-benar menekan sumber pendapatan utama Teheran, sasaran berikutnya berpotensi tidak hanya berupa kapal tanker atau perusahaan Iran. Tekanan dapat bergerak menuju pembeli minyak di Tiongkok, perusahaan logistik, pelabuhan, perusahaan perantara, hingga jaringan perbankan yang diduga membantu memproses transaksi.
Langkah semacam itu tentu membawa risiko lebih besar karena dapat mempertemukan kebijakan tekanan terhadap Iran dengan hubungan ekonomi AS-Tiongkok yang jauh lebih luas.
Pertemuan Trump-Xi Ikut Menjadi Sorotan
Di tengah ketegangan tersebut, rencana pertemuan berikutnya antara Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping turut menjadi perhatian.
Trump sebelumnya mengatakan dirinya memperkirakan Xi akan datang ke Amerika Serikat sekitar 24 September 2026. Waktu tersebut bertepatan dengan periode diplomatik penting di New York ketika para pemimpin dunia berkumpul untuk Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Namun, menurut informasi yang beredar mengenai rencana perjalanan tersebut, Xi kemungkinan tiba di Amerika Serikat pada malam 23 September, tidak menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, kemudian meninggalkan AS pada 25 September 2026.
Ketidakpastian tetap ada. Sejumlah diplomat dilaporkan memperhatikan bahwa Beijing belum memperlihatkan seluruh tanda persiapan yang biasanya terlihat menjelang perjalanan luar negeri tingkat tinggi seorang pemimpin Tiongkok.
Karena itu, isu Iran berpotensi menjadi salah satu faktor yang memperumit agenda diplomatik Washington-Beijing. Sanksi yang terlalu luas terhadap perusahaan dan lembaga keuangan Tiongkok dapat memicu tindakan balasan Beijing sekaligus menambah daftar perselisihan yang harus diselesaikan kedua negara.
Persoalannya kini bukan sekadar berapa banyak minyak yang masih dapat dijual Iran.
Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa jauh Washington bersedia menekan perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk memutus sumber pemasukan Teheran, dan seberapa keras Beijing akan melindungi kepentingan energi serta perusahaan domestiknya.
Dengan demikian, pertempuran ekonomi terhadap Iran berpotensi memasuki babak yang jauh lebih kompleks. Di satu sisi, Amerika Serikat ingin mempersempit ruang keuangan Teheran. Di sisi lain, Tiongkok menolak sanksi sepihak Washington dan memiliki kepentingan besar dalam mempertahankan keamanan pasokan energinya.
Menjelang kemungkinan pertemuan Trump-Xi pada September 2026, minyak Iran kini dapat berubah dari sekadar persoalan Timur Tengah menjadi salah satu ujian penting bagi hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. (***)


