EtIndonesia.com Media New Tang Dynasty melaporkan bahwa ketika merencanakan masa pensiun, kebanyakan orang biasanya hanya memikirkan satu hal: “Apakah uang saya akan cukup?” Namun, memiliki uang saja bukanlah satu-satunya jaminan untuk menikmati masa pensiun yang bahagia.
Seorang pria berusia 68 tahun di Jepang yang hidup berkecukupan justru menemukan kualitas hidup yang lebih baik setelah bekerja paruh waktu di sebuah supermarket.
Pria itu menggunakan nama samaran Nomura, sebelum pensiun bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan manufaktur besar. Selama kariernya ia terus mendapatkan promosi jabatan.
Setelah pensiun, ia dan istrinya menerima dana pensiun sekitar 380.000 yen per bulan (sekitar US$2.400), sementara pengeluaran hidup mereka hanya sekitar 300.000 yen per bulan. Selain itu, ia juga memiliki aset keuangan sekitar 60 juta yen (sekitar US$380.000), dan rumahnya sudah lunas sehingga tidak lagi memiliki cicilan. Secara ekonomi, kehidupan pensiunnya sangat nyaman.
Pada awal masa pensiun, Nomura merasa sangat bahagia. “Akhirnya saya bebas.”
Ia bisa bangun kapan saja, berjalan-jalan, menonton televisi, dan menikmati segelas minuman di malam hari. Hidup terasa santai dan menyenangkan.
Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama.
Sekitar enam bulan kemudian, setiap harinya mulai terasa membosankan. Ia semakin jarang keluar rumah, aktivitas fisiknya berkurang, berat badannya bertambah, bahkan sering tidak ingat hari apa saat itu.
Ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang sebenarnya saya lakukan hari ini?”
Terlalu lama berada di rumah juga mulai mempengaruhi hubungannya dengan sang istri.
Sebelumnya, istrinya menikmati mengurus pekerjaan rumah dan bertemu teman-temannya sesuai dengan ritmenya sendiri.
Kini, karena suaminya selalu berada di rumah setiap hari, ia merasa tidak terbiasa dengan perubahan itu.
Selain merasa tidak nyaman di rumah, Nomura juga merasakan kesepian karena merasa terputus dari kehidupan sosial.
Ia mengeluh,”Ini sama sekali bukan kehidupan pensiun ideal yang saya bayangkan.”
Suatu hari ia bertemu kembali dengan seorang mantan rekan kerja. Rekannya itu ternyata kembali bekerja di sebuah perusahaan kecil setelah pensiun dengan jadwal empat hari kerja setiap minggu.
Melihat mantan rekannya tampak jauh lebih bersemangat dibandingkan saat masih bekerja dulu, Nomura pun terdorong untuk mencari pekerjaan. Akhirnya ia bekerja paruh waktu di sebuah supermarket bahan bangunan.
Sejak mulai bekerja, ia kembali bangun pagi tepat waktu, mempersiapkan diri, lalu berangkat kerja.
Meski berbincang dengan rekan kerja dan berjalan ke sana kemari membuatnya sedikit lelah, setiap malam ia bisa tidur nyenyak. Tanpa disadari, berat badannya pun kembali normal.
Ia secara sukarela memilih bertugas di bagian perlengkapan DIY (Do It Yourself).
Di sana, ia sering membantu pelanggan yang bertanya mengenai alat-alat dan suku cadang.
Setiap kali pelanggan mengucapkan terima kasih, ia merasakan kepuasan tersendiri. “Ternyata saya masih bisa membantu orang lain.”
Uang yang diperolehnya dari pekerjaan paruh waktu digunakan untuk bepergian bersama istrinya, membeli hadiah bagi cucu-cucunya, dan karena uang itu merupakan hasil jerih payahnya sendiri sebagai “uang saku”, ia dapat membelanjakannya dengan senang hati tanpa merasa bersalah.
Para ahli menjelaskan bahwa banyak orang memilih tetap bekerja setelah pensiun bukan karena terpaksa secara ekonomi, melainkan karena mereka merasa bekerja itu menyenangkan atau ingin terus membantu orang lain.
Selain itu, tetap bekerja juga membantu seseorang tetap aktif secara fisik, terus berinteraksi dengan orang lain, dan memberikan manfaat bagi kesehatan jasmani maupun mental.
Sumber : NTDTV.com


