“Anak Serigala” Spanyol Meninggal Dunia pada Usia 80 Tahun, Pernah Hidup Bersama Serigala Selama 12 Tahun

Baru-baru ini, seorang pria asal Spanyol meninggal dunia dan kisah hidupnya kembali menarik perhatian. Pengalamannya sangat tidak biasa: ia pernah dikenal sebagai “anak serigala” karena menghabiskan masa kecilnya hidup bersama kawanan serigala. Kisah hidupnya kemudian beredar luas di internet, ditulis menjadi buku, dan diadaptasi menjadi film.

EtIndonesia.com Pada 15 Agustus, Marcos Rodríguez Pantoja meninggal dunia di Rante, Spanyol, dalam usia 80 tahun. Pantoja memiliki kisah hidup yang luar biasa. Saat masih kecil, ia pernah hidup bersama kawanan serigala selama 12 tahun.

Pada tahun 1946, Pantoja lahir di sebuah desa miskin bernama Añora, di Spanyol bagian selatan. Setelah ibunya meninggal, saudara-saudaranya dikirim untuk tinggal bersama kerabat, sementara Pantoja tetap bersama ayahnya. Setelah ayahnya menikah lagi, keluarganya pindah ke kawasan pegunungan Morena, tempat mereka mencari nafkah dengan membuat arang.

Menurut laporan media Spanyol, ketika berusia 7 tahun, Pantoja dijual oleh ayahnya kepada seorang penggembala tua. Penggembala tersebut kemudian tiba-tiba pergi. Sejak saat itu, Pantoja mulai menjalani kehidupan sebagai “anak serigala” selama sekitar 12 tahun, hingga ditemukan ketika berusia 19 tahun.

Menurut CNN, Gabriel Janer Manila, profesor filsafat di University of Palma, pernah menghabiskan lima bulan untuk mewawancarai Pantoja sebagai bagian dari penelitiannya.

Ketika menceritakan kepada Manila bagaimana dirinya dijual kepada penggembala tersebut, Pantoja berkata: “Mereka membawa saya ke pegunungan, ke sebuah gua. Seorang lelaki tua berjanggut yang memakai sepatu dari gabus keluar. Di sana ada serigala, rubah, kambing, rusa, kalajengking, dan ular. Pada malam hari, saya mendengar suara-suara binatang dan merasa takut.”

Penggembala tersebut mengajari Pantoja cara menggunakan kulit binatang untuk menghangatkan tubuh, memerah susu kambing, dan berburu. Pantoja juga mempelajari berbagai suara binatang.

Suatu hari, penggembala itu tiba-tiba pergi. Pantoja kemudian mengandalkan keterampilan bertahan hidup yang telah dipelajarinya. Ia mendapatkan kepercayaan kawanan serigala dengan membawakan makanan untuk anak-anak serigala dan melolong ketika menyadari adanya bahaya.

Pantoja kemudian semakin menjauh dari dunia peradaban. Setiap kali mendengar suara manusia, ia akan bersembunyi. Hingga pada 1965, ketika berusia 19 tahun, ia “tersesat” dan ditemukan oleh Guardia Civil Spanyol di sebuah ngarai.

Dalam wawancara dengan lembaga penyiaran nasional Spanyol RTVE pada 2010, Pantoja mengatakan:

“Saat itu saya hidup dengan baik. Saya tidak tahu apa itu uang, tetapi saya tidak pernah kekurangan makanan.”

Dalam penelitiannya, Manila menulis bahwa pada tahap awal setelah kembali ke masyarakat, Pantoja masih memiliki kepekaan yang sangat tajam terhadap alam dan menunjukkan sifat “liar”. Ia sama sekali tidak memahami kehidupan bermasyarakat, kemampuan bahasanya sangat buruk, dan cara berjalannya juga aneh.

Seiring waktu, Pantoja perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan manusia. Awalnya ia tinggal di rumah seorang pastor di kota Jaén, Spanyol selatan. Kemudian ia tinggal di rumah seorang biarawati di ibu kota Madrid.

Setelah menyelesaikan wajib militernya, ia pindah ke Mallorca dan bekerja di hotel serta restoran. Ketika tinggal di Kepulauan Balearic, ia bertemu dengan antropolog Gabriel Janer Manila.

Pada masa tuanya, Pantoja mendedikasikan dirinya untuk membagikan kisah hidupnya. Profesor Manila kemudian menerbitkan buku tentang dirinya berjudul “I Played with Wolves” (Saya Bermain dengan Serigala).

Kisah hidup Pantoja selanjutnya juga diadaptasi menjadi film berjudul “Among Wolves” (Di Tengah Kawanan Serigala).

Pantoja menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya di Rante. Warga setempat banyak membantunya, terutama selama dua tahun terakhir ketika ia mengalami sakit.

Pemerintah setempat menulis dalam unggahan belasungkawa di media sosial:

“Marcos datang ke Rante dengan membawa sebuah kisah yang telah dikenal dunia. Ketika ia pergi, ia meninggalkan sebuah kisah yang menjadi bagian dari kami.”

Laporan dan terjemahan: Jin Hong / Editor: Li Qian

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine