EtIndonesia.com Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi ekonomi paling keras dalam sejarah terhadap Iran. Pada Minggu (23 Agustus), Presiden Iran mengakui bahwa kondisi sosial dan ekonomi Iran sedang menghadapi “banyak kesulitan.”
Pada Minggu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membela nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa nota tersebut merupakan jalan terbaik bagi Iran untuk keluar dari kondisi yang disebutnya sebagai situasi “bukan perang, bukan damai.” Namun, nota kesepahaman yang berlaku selama 60 hari itu telah berakhir pada pekan lalu.
Pada saat yang sama, Pezeshkian mengakui bahwa kondisi sosial dan ekonomi Iran sedang menghadapi “banyak kesulitan.”
“Modal dan uang adalah faktor non manusia yang paling sensitif. Ke mana pun terdapat risiko, keduanya akan melarikan diri dari sana. Kita harus menghilangkan risiko yang sedang dihadapi negara ini,” katanya.
Pada 19 Agustus, Presiden Donald Trump menulis di Truth Social bahwa Amerika Serikat akan melancarkan “operasi D-Day ekonomi yang paling menghancurkan” terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa negara mana pun yang memberikan “tali penyelamat” kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan dalam wawancara dengan CNBC pada 20 Agustus bahwa Amerika Serikat akan melancarkan “pukulan keras dari dua arah” terhadap Iran. Ia juga mengumumkan bahwa konferensi pers akan digelar pada 24 Agustus untuk mengungkap rincian terbaru mengenai sanksi ekonomi.
Dalam “Operasi Kemarahan Ekonomi”, Amerika Serikat menggunakan berbagai langkah, termasuk sanksi keuangan dan mata uang kripto, blokade maritim dan pemberantasan penyelundupan, serta sanksi sekunder. Langkah-langkah tersebut disebut telah mendorong cadangan devisa dan kondisi fiskal pemerintah Iran ke ambang kehancuran.
Inflasi Iran melonjak hingga sekitar 70%–77%, sementara nilai tukar rial Iran mengalami keruntuhan total.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai aksi protes masyarakat Iran juga kerap dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi.
Laporan gabungan reporter New Tang Dynasty, Hong Qiji dan Liu Fang.


