EtIndonesia.com Banjir lumpur dan tanah longsor dahsyat melanda perbatasan Tibet–Nepal dan menghancurkan Pelabuhan Perlintasan Gyirong (Jilong) di Tibet. Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya sekali mengumumkan data korban, dengan perkiraan awal 3 orang tewas dan 265 orang dinyatakan hilang. Video yang beredar di internet menunjukkan seluruh area perlintasan tersebut ditelan material longsor.
Sekitar pukul 11.00 waktu setempat pada 26 Agustus, tanah longsor terjadi di sekitar Pelabuhan Gyirong, Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet.
Video yang beredar menunjukkan gedung-gedung dan tempat parkir di pelabuhan tersebut dalam sekejap ditelan gelombang lumpur dan air yang diperkirakan mencapai puluhan meter. Seluruh kompleks perlintasan tampak dihantam dan tersapu material longsor, sehingga diperkirakan hampir tidak ada yang tersisa setelah bencana.
Menurut perkiraan visual dari video, lebih dari 100 orang terlihat berusaha melarikan diri, tetapi diduga banyak yang akhirnya tertimbun material longsor.
Jumlah korban diperkirakan dapat sangat besar karena di lokasi tersebut terdapat pegawai pelabuhan dan keluarga mereka, sopir truk yang sedang menunggu pemeriksaan, serta wisatawan.


Lokasi pelabuhan sangat sempit dan dikelilingi pegunungan
Foto-foto sebelum bencana menunjukkan bahwa Pelabuhan Gyirong berada di lembah sempit, di sekitar pertemuan Sungai Gyirong Tsangpo (Gyirong Tsangpo) dan Sungai Donglin Tsangpo (Lhende Khola). Kawasan tersebut dikelilingi pegunungan tinggi dan aliran sungai.
Dengan kondisi geografis seperti itu, ketika longsoran lumpur dalam skala besar menerjang, ruang untuk melarikan diri sangat terbatas.
Foto-foto lama menunjukkan bahwa meskipun area pelabuhan relatif sempit, telah dibangun sekitar 10 gedung, termasuk gedung perkantoran serta bangunan yang diduga merupakan asrama pegawai pelabuhan dan personel yang ditempatkan di sana. Pembangunan gedung-gedung baru juga masih berlangsung.
Bukan sekadar pos perbatasan, tetapi kawasan permukiman
Video yang dibuat oleh seorang blogger perjalanan dari daratan Tiongkok menunjukkan bahwa bagian dalam pelabuhan telah berkembang menjadi semacam kawasan kehidupan sehari-hari, dengan supermarket dan berbagai toko.
Hal ini menunjukkan bahwa cukup banyak orang tinggal di kawasan tersebut secara permanen. Video juga memperlihatkan banyak orang mengantri di pos pemeriksaan untuk melewati perbatasan.
Ketika tanah longsor terjadi, rekaman kamera pengawas menunjukkan puluhan truk besar sedang menunggu pemeriksaan di jalan depan pelabuhan.
Di area parkir juga terdapat lebih dari 10 bus wisata dan sejumlah kendaraan pribadi, yang diduga membawa wisatawan menuju Nepal.



Berapa sebenarnya jumlah korban?
Hingga laporan ini dibuat, pemerintah Tiongkok hanya mengumumkan satu kali data mengenai korban di sisi Tibet, yakni 3 orang tewas dan 265 orang hilang.
Namun, laporan NTD mempertanyakan angka tersebut. Besarnya kompleks pelabuhan, banyaknya bangunan, jumlah pegawai dan penghuni, serta banyaknya kendaraan yang sedang menunggu saat bencana terjadi menimbulkan dugaan bahwa jumlah korban sebenarnya dapat jauh lebih tinggi.
Setelah bencana, CCTV milik pemerintah Tiongkok menayangkan apa yang disebut sebagai rekaman udara kondisi pascabencana di Pelabuhan Gyirong. Namun, menurut laporan ini, kamera tidak benar-benar memperlihatkan lokasi utama pelabuhan dan hanya berputar di sekitar kawasan bencana.
Pada saat yang sama, sejumlah video mengenai bencana tersebut dilaporkan dihapus dari media sosial Tiongkok. NTD menilai hal itu menimbulkan dugaan adanya upaya untuk membatasi informasi mengenai jumlah korban.
Pelabuhan penting bagi perdagangan Tiongkok–Nepal
Pelabuhan Gyirong merupakan salah satu pusat perdagangan antara Tiongkok dan Nepal. Pemerintah Tiongkok menjadikan perlintasan tersebut sebagai salah satu titik penting dalam proyek “Belt and Road Initiative” (BRI).
Pada 2024, arus barang melalui pelabuhan tersebut disebut mencapai hampir sepertiga dari total perdagangan Tiongkok–Nepal.
Pemerintah Tiongkok juga telah membangun berbagai infrastruktur penting di kawasan tersebut, termasuk kawasan kerja sama ekonomi, dengan tujuan mengubah perlintasan itu menjadi pusat logistik modern.
Sejak 2017, wisatawan individu juga sudah dapat menggunakan pelabuhan tersebut untuk melintasi perbatasan.
Lumpur kemudian menerjang Nepal hingga India
Setelah menghancurkan Pelabuhan Gyirong, material longsor kemudian bergerak ke arah selatan mengikuti Sungai Donglin Tsangpo, menyebabkan banjir besar di wilayah Nepal.
Aliran tersebut kemudian terus bergerak ke selatan hingga berdampak ke wilayah India.
Pemerintah Nepal terus memperbarui data korban. Hingga saat laporan ini ditulis, jumlah korban tewas dan hilang yang telah diumumkan telah mencapai lebih dari 700 orang, dan angka tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat seiring berlangsungnya operasi pencarian dan penyelamatan. (***)


