EtIndonesia.com Prancis dilanda kerusuhan jalanan terparah dalam beberapa tahun terakhir. Pada 18 Oktober, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pidato nasional dan mengaitkan ketidakpuasan masyarakat terhadap tingginya harga bahan bakar dengan dampak perang di Timur Tengah. Namun demikian, pemimpin oposisi Marine Le Pen secara langsung menuding kelompok sayap kiri radikal dan organisasi “Antifa” sebagai pihak yang menghasut kekerasan hingga menjerumuskan Prancis ke dalam kekacauan.
“Kemarin, ratusan ribu warga negara kita turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan yang wajar. Kita sama sekali tidak boleh menyamakan mereka dengan orang-orang yang melakukan perusakan, penjarahan, dan kekerasan,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron apda 18 Oktober 2026.
Para demonstran ini menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai biaya hidup dan harga bahan bakar. Persoalan-persoalan tersebut berakar pada konflik yang meletus di kawasan Teluk Persia. Prancis tidak terlibat dalam konflik tersebut, tetapi harus menanggung dampak yang ditimbulkannya.”
“Kekuatan ini menjadikan ‘La France Insoumise’ (Prancis yang Tidak Tunduk) sebagai sayap politiknya dan kelompok ‘Antifa’ sebagai sayap bersenjatanya. Secara absurd, mereka menjadikan revolusi berdarah di Amerika Selatan sebagai panutan. Yang lebih serius lagi, mereka juga mengambil inspirasi dari konflik di Timur Tengah,” kata Pemimpin konservatif Prancis Marine Le Pen 18 Oktober 2026.
“Mereka berusaha membuat orang percaya bahwa kekerasan telah menjadi cara yang sah untuk menyampaikan tuntutan politik dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah masyarakat Prancis. Padahal, orang-orang yang menghasut kerusuhan sosial ini hanya akan memperburuk keadaan,” ujarnya.
Laporan yang disusun oleh Zhang Kexin dan Chen Lingzhi dari New Tang Dynasty Television Asia Pasifik.


