Demonstrasi di Prancis Berubah Menjadi Kerusuhan Hingga Penjarahan, 50 Kelompok Terlibat, Pengaruh Sayap Kiri Radikal Picu Kekhawatiran

EtIndonesia.com Aksi protes pelajar di Prancis berkembang menjadi kerusuhan besar-besaran. Banyak toko menjadi sasaran penjarahan, jalanan dipenuhi kobaran api dan asap tebal, bahkan balai kota ikut dibakar hingga hancur.

Investigasi media Amerika Serikat menemukan bahwa hingga 50 kelompok terlibat dalam mobilisasi di balik kekacauan ini, termasuk organisasi komunis, serikat pekerja, dan partai-partai sayap kiri radikal.

Para analis menilai bahwa kerusuhan ini juga memperlihatkan besarnya dampak yang harus ditanggung masyarakat ketika kelompok sayap kiri radikal memanfaatkan ketidakpuasan publik untuk memperluas pengaruh politik mereka.

Baru-baru ini, bentrokan hebat terjadi di berbagai wilayah Prancis. Di jalanan Paris, sejumlah mobil dibakar, sedangkan Balai Kota Limoges diterobos dan dibakar oleh sekelompok orang.

Para demonstran menjarah sebuah supermarket Monoprix di Boulevard Saint-Denis, Paris, sambil membawa kabur barang dagangan. Berbagai produk berserakan di luar toko yang rusak di tengah aksi demonstrasi yang berujung ricuh pada 17 Oktober 2026. (Etienne Fauchaire/The Epoch Times)

Sebagian demonstran memanfaatkan kekacauan untuk menjarah toko-toko tanpa membayar, yang dikenal dengan istilah “belanja gratis” (zero-dollar shopping). Mereka bahkan menyerang polisi dan ambulans. Aksi protes pelajar yang semula berlangsung sebagai demonstrasi perlahan-lahan berubah menjadi situasi yang tidak terkendali.

“Kerusuhan terjadi pada akhir pekan lalu. Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa kelompok-kelompok militan sayap kiri radikal harus disalahkan. Ia juga menegaskan bahwa kami tidak akan pernah membiarkan para perusak, pencuri, dan perusuh mengendalikan serta memerintah kami,” kata Fang Wei, jurnalis senior. 

“Selain itu, sumber keamanan Israel menyatakan bahwa badan intelijen Rusia juga berada di balik layar dan berusaha menciptakan kekacauan untuk mengganggu pemilihan umum yang akan segera berlangsung di Prancis,” tambahnya. 

Sebuah mobil terbakar, sementara asap hitam pekat membubung di atas Boulevard Saint-Denis di Paris saat bentrokan hebat pada 17 Oktober 2026, di tengah aksi protes kelompok kiri radikal yang berlangsung di seluruh negeri. Etienne Fauchaire/The Epoch Times

Investigasi Fox News di Amerika Serikat menemukan bahwa sebanyak 50 kelompok terlibat dalam mobilisasi aksi protes pelajar di Prancis kali ini. Di antaranya terdapat 12 serikat pekerja, delapan organisasi komunis atau sosialis, serta partai-partai politik seperti Partai Komunis Prancis.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pengusaha kaya asal Amerika Serikat, Neville Roy Singham, yang kini tinggal di Shanghai dan telah lama mendanai kelompok-kelompok komunis serta sayap kiri radikal, memiliki media yang turut mempromosikan aksi protes di Prancis.

Fang Wei: “Guru, orang tua, serikat pekerja, buruh, petani, hingga pensiunan semuanya ikut terlibat. Jadi,bagaimana kita dapat menggambarkan situasi ini? Pertama, gerakan ini tidak terbatas pada kelompok masyarakat tertentu. Kedua, tidak memiliki tuntutan yang jelas. Ketiga, terjadi aksi perusakan dan penjarahan tanpa alasan yang jelas.”

Para demonstran sayap kiri ekstrem bertopeng menyeret sofa yang terbakar ke dalam kantor perusahaan teknologi keuangan Prancis, Qonto, dalam upaya membakar gedung tersebut saat aksi demonstrasi disertai kekerasan di Paris pada 17 Oktober 2026. (Etienne Fauchaire/The Epoch Times)

Chen Shimin, wakil profesor di Departemen Ilmu Politik Universitas Nasional Taiwan: “Kekhawatiran terbesar adalah bahwa kekuatan politik arus utama, baik yang berhaluan kiri moderat, kanan moderat, maupun kelompok sentris, tampaknya menjadi pihak yang paling dirugikan.

Sebaliknya, Marine Le Pen dari partai sayap kanan radikal National Rally dan Jean-Luc Mélenchon dari partai sayap kiri radikal La France Insoumise justru berpotensi memperoleh keuntungan politik dari demonstrasi besar-besaran ini.”

Para analis menilai bahwa Prancis saat ini juga menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lemah, beban utang publik yang berat, serta kebuntuan politik.

Ketika ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah terus menumpuk, kelompok-kelompok radikal berpeluang memanfaatkan situasi tersebut untuk memperluas pengaruh mereka.

“Menurut saya, ini merupakan masalah struktural dalam keseluruhan sistem ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Prancis, termasuk pada tahun lalu, hanya sekitar 0,8%. Pertumbuhan ekonomi yang rendah dalam jangka panjang telah menyebabkan struktur ekonomi negara tersebut semakin melemah. Ini juga menjadi salah satu latar belakang utama mengapa berbagai persoalan yang ada tidak dapat diselesaikan,” kata Chen Shimin. 

Para analis menilai bahwa gejolak di Prancis ini bukan sekadar demonstrasi jalanan yang berubah menjadi kerusuhan. Hal yang lebih perlu diwaspadai adalah upaya kelompok sayap kiri radikal untuk memanfaatkan ketidakpuasan sosial guna memperluas pengaruh mereka.

Ketika ideologi radikal terus merambah berbagai persoalan publik, bahkan berpadu dengan tindakan kekerasan, tantangan yang dihadapi Prancis bukan lagi sekadar masalah keamanan dan ketertiban. Situasi ini juga menjadi ujian bagi arah masa depan negara tersebut.

Laporan wawancara Yi Xin dan Qiu Yue, reporter NTD Television.

INSPIRASI ERABARU

Terjebak dalam Kesibukan: Mengapa Tak Punya Waktu Justru Menjadi Kebanggaan, dan Bagaimana Membebaskan Diri

Oleh Shoba Rajamani  Jika Anda bertanya kepada teman atau rekan kerja tentang kabar mereka, kemungkinan besar Anda akan mendapatkan jawaban satu kata yang sama: “Sibuk!” Kesibukan...

Bukan Sekadar Sensasi Terbakar, Makanan Pedas Punya Sejumlah Manfaat bagi Tubuh

Makanan pedas sering digambarkan sebagai makanan yang “panas”, dan hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruhnya terhadap tubuh. Ahli gizi Barat akan menjelaskan bahwa cabai bekerja...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine