EtIndonesia.com Kerusuhan pecah di Prancis pada akhir pekan lalu. Bangunan bersejarah dibakar, sementara toko-toko dijarah dan dirusak. Peristiwa tersebut membuat banyak warga marah sekaligus berduka. Dalam sebuah video yang beredar di internet, seorang perempuan muda Prancis secara blak-blakan mengatakan bahwa masalah imigrasi telah menyebabkan situasi buruk yang terjadi saat ini.
Perempuan itu mengatakan bahwa sebagai orang Prancis sejati, ia merasa sangat sedih ketika menyaksikan bangunan-bangunan tua yang indah dihancurkan pada malam sebelumnya.
“Ada yang berkata, ‘Itu hanya bangunan.’ Namun, bangunan-bangunan ini memiliki arti yang sangat besar bagi kami, tetapi tidak bagi mereka. Sebab, ini adalah negara kami. Leluhur kami pernah menumpahkan darah dan mengorbankan nyawa demi tanah ini. Mereka mencurahkan seluruh tenaga dan upaya untuk menciptakan segala sesuatu yang indah di sekitar kita.”
I’m furious and heartbroken to see my country like this.I could be prosecuted for this, but so be it. It needs to be said.Our empathy is killing us. I stand with MY people, and they’re not my people.Share this. We’ve had enough, and time is running out for France. https://t.co/rxfdAweUUd
— Thaïs d’Escufon (@ThaisEscufon) October 19, 2026
Ia mengatakan bahwa ada pihak yang berpendapat Prancis seharusnya menyambut orang-orang dari “negara-negara dengan kondisi buruk” dan berbagi kebahagiaan dengan mereka. Namun, kejadian yang berlangsung saat ini menunjukkan bahwa orang-orang tersebut tidak mencintai Prancis seperti halnya warga Prancis sejati.
“Mereka mengatakan bahwa imigrasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Itu bohong. Kita sedang hidup di dalam neraka komunis.”
Perempuan itu mengatakan bahwa banyak orang tidak bekerja, tetapi menikmati tunjangan dari sistem kesejahteraan sosial. Sementara itu, masyarakat kelas menengah dan para pemilik usaha setempat justru harus menanggung beban pajak yang berat untuk membiayai sistem yang tidak masuk akal tersebut.
Dengan nada pilu, perempuan itu mengatakan bahwa rasa belas kasih yang nyaris bersifat “bunuh diri” tersebut tidak dibalas dengan rasa terima kasih.
“Mereka tidak pernah menunjukkan rasa terima kasih dengan kebaikan dan kemurahan hati yang sama. Sebaliknya, mereka membalasnya dengan melempari polisi menggunakan batu serta membakar bangunan-bangunan bersejarah kami.”
“Kami membawa peradaban, sedangkan mereka membawa kekacauan.”
Perempuan itu menyerukan bahwa untuk mengakhiri kekacauan ini, mereka harus dipulangkan ke negara masing-masing. Menurutnya, hanya dengan cara itulah Eropa dapat terus bertahan.
Kerusuhan dan kekerasan pada akhir pekan lalu mengakibatkan kerugian besar. Selain bangunan bersejarah Balai Kota Limoges yang hancur, pemerintah Prancis mengumumkan bahwa kerusuhan tersebut menyebabkan sedikitnya 3.000 tempat usaha di seluruh negeri dirusak atau dijarah.
À La Barrique, Aline, la patronne, a été tabassée et défigurée. Son restaurant a été entièrement calciné. Elle a tout perdu. Jusqu’où ira cette barbarie ? Soutien total à Aline, aux commerçants du 10e. Les responsables doivent être retrouvés et punis avec la plus grande sévérité! https://t.co/6uDYJe27w8
— Antoine Jumel (@antoinejumel81) October 18, 2026
Di antaranya adalah sebuah bar dan toko tembakau milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Aline Li, yang beroperasi di arondisemen ke-10 Paris. Dalam kerusuhan tersebut, ia dipukuli hingga pingsan, sementara tokonya dijarah dan terbakar habis.
Melihat usaha yang telah dibangunnya dengan susah payah berubah menjadi puing-puing hanya dalam waktu setengah jam, pemilik toko itu tak kuasa menahan air mata. (***)


