Pada 24 Oktober, pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, memasuki Dandong, Provinsi Liaoning, Tiongkok, dengan menggunakan kereta khususnya. Ia melakukan kunjungan “kilat” yang hanya berlangsung beberapa jam. Yang patut diperhatikan, Kim Jong-un tidak pergi ke Beijing untuk bertemu dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping. Hal ini memicu berbagai spekulasi.
EtIndonesia.com Pada malam 24 Oktober, kantor berita resmi PKT, Xinhua, melaporkan bahwa Wang Huning, anggota Komite Tetap Politbiro PKT sekaligus Ketua Komite Nasional Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), mendampingi Kim Jong-un mengunjungi Dandong, Provinsi Liaoning, pada hari itu.
Pada sore harinya, keduanya mengunjungi sebuah pabrik mobil di Dandong. Ketika Kim Jong-un meninggalkan Dandong. Pengaturan diplomatik yang tidak lazim ini memicu berbagai dugaan mengenai pesan yang mungkin tersirat di balik kunjungan tersebut.
Salah satu analisis menyebutkan bahwa waktu kunjungan mendadak Kim Jong-un ke Tiongkok sangatlah sensitif. Bagi pihak Tiongkok, saat itu hanya tersisa sedikit lebih dari satu hari sebelum Sidang Pleno Kelima Komite Sentral PKT. Ini merupakan periode yang sangat sibuk bagi para petinggi partai.
Sejumlah besar pejabat tinggi telah tumbang, sementara perebutan kekuasaan di tingkat elite berlangsung sengit. Xi Jinping, yang berupaya mempertahankan jabatannya hingga Kongres Nasional PKT ke-21, diduga terlalu sibuk untuk menerima Kim Jong-un pada saat itu.
Di sisi lain, dunia saat ini sedang memasuki periode sensitif, dengan persiapan berbagai pertemuan tingkat tinggi multilateral, seperti APEC, serta maraknya kabar mengenai kemungkinan interaksi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Tiongkok maupun antara Amerika Serikat dan Korea Utara.
Kabar bahwa Presiden AS Donald Trump berharap dapat bertemu dengan Kim Jong-un selama berlangsungnya pertemuan puncak juga semakin ramai diperbincangkan. Namun, pihak Korea Utara belum memberikan pernyataan terbuka mengenai hal tersebut.
Jika Kim Jong-un langsung pergi ke Beijing untuk mengadakan pertemuan resmi dengan Xi Jinping, langkah itu akan dengan mudah ditafsirkan oleh opini publik sebagai bentuk “aliansi terbuka” Tiongkok dan Korea Utara dalam menghadapi sanksi internasional atau dalam persaingan strategis dengan Amerika Serikat.
Analisis lain berpendapat bahwa kunjungan Kim Jong-un kali ini didorong oleh pertimbangan ekonomi dan infrastruktur, sekaligus bertujuan memberikan dukungan politik bagi penggunaan Jembatan Baru Sungai Yalu.
Jembatan Baru Sungai Yalu yang menghubungkan Tiongkok dan Korea Utara memiliki panjang 3.026 meter. Jembatan tersebut sebenarnya telah selesai dibangun pada 2014, tetapi terbengkalai selama lebih dari satu dekade akibat berbagai kendala.
Baru-baru ini, jembatan itu akhirnya mulai resmi digunakan. Dengan melintasi jembatan tersebut secara langsung menggunakan kereta khususnya, Kim Jong-un seolah melakukan “uji coba operasional tingkat tertinggi sekaligus memberikan pengesahan politik” terhadap jalur transportasi utama yang mampu menampung pengangkutan barang berat tersebut.
Sejumlah pakar, termasuk akademisi Korea Selatan Yang Moo-jin, menganalisis bahwa Korea Utara sangat membutuhkan perluasan perdagangan lintas perbatasan untuk mengurangi tekanan akibat sanksi dan kesulitan ekonomi.
Dengan datang langsung ke Dandong, Kim Jong-un bermaksud mendesak pihak Tiongkok agar mempercepat pelaksanaan berbagai kesepakatan bantuan ekonomi dan kerja sama yang sebelumnya telah dicapai. Ia juga ingin meninjau fasilitas industri dan infrastruktur logistik di kawasan perbatasan.
Bagi Kim Jong-un, langkah ini juga bertujuan mencari keseimbangan strategis antara Tiongkok dan Rusia, memastikan bahwa ia dapat memperoleh sumber daya militer dari Rusia sekaligus mempertahankan dukungan ekonomi dan geopolitik Tiongkok yang sangat penting bagi Korea Utara.
Analisis lainnya menyebutkan bahwa keputusan Kim Jong-un untuk “tidak bertemu Xi Jinping dan hanya berkeliling sebentar di Dandong” mungkin dimaksudkan untuk membantah rumor mengenai kematiannya.
Di tengah beredarnya rumor bahwa Kim Jong-un mengalami pendarahan otak mendadak atau bahkan telah meninggal dunia, ia diduga ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat dalam negeri maupun dunia internasional bahwa dirinya masih memegang kendali atas situasi politik dan urusan luar negeri melalui kunjungan terbuka ke kawasan perbatasan serta kegiatan diplomatik.
Namun, ada pula pandangan yang menyatakan bahwa sekalipun Kim Jong-un bermaksud membantah rumor mengenai kondisi kesehatannya yang buruk, ia sebenarnya cukup tampil di hadapan publik di dalam negeri Korea Utara. Tidak ada keharusan baginya untuk muncul di wilayah Tiongkok.
Kunjungannya yang mendadak dan berlangsung singkat ke Tiongkok, tetapi tanpa pertemuan dengan Xi Jinping, tak pelak menimbulkan berbagai spekulasi mengenai maksud sebenarnya di balik langkah tersebut.


