Badan Intelijen AS: Kekuatan Asing Mungkin Akan Memprovokasi Kekerasan Setelah Pemilu

EtIndonesia. Pejabat intelijen Amerika Serikat pada hari Selasa (22/10) menyatakan bahwa Rusia, Tiongkok, dan Iran berniat menciptakan narasi provokatif dan memecah belah untuk memecah belah rakyat Amerika menjelang pemilihan umum AS pada 5 November mendatang, dan kemungkinan akan memprovokasi kekerasan setelah pemungutan suara.

Menurut laporan Reuters pada hari Selasa (22/10) , para pejabat intelijen ini, dalam penjelasan tentang situasi keamanan pemilu AS kepada para wartawan, mengatakan bahwa pihak asing mungkin mempertimbangkan ancaman fisik dan tindakan kekerasan, serta sangat mungkin menyebarkan disinformasi untuk menciptakan ketidakpastian dan mengganggu proses pemilu.

Seorang pejabat dari Kantor Direktur Intelijen Nasional (Office of the Director of National Intelligence, ODNI) mengatakan: “Aktor asing, khususnya Rusia, Iran, dan Tiongkok, bermaksud menggunakan narasi yang menghasut perpecahan untuk memecah belah rakyat Amerika dan merusak kepercayaan warga Amerika terhadap sistem demokrasi negara mereka.”

Pejabat tersebut menambahkan bahwa kekuatan asing, khususnya dari Rusia, Iran, dan Tiongkok, telah belajar dari pengalaman pemilu AS sebelumnya dan kini lebih siap memanfaatkan peluang untuk memicu kekacauan.

Dia menambahkan bahwa pihak-pihak ini mungkin akan menggunakan sarana yang sama yang mereka gunakan sebelum pemilu, khususnya melalui informasi dan jaringan internet, dan mereka juga mungkin mempertimbangkan ancaman fisik dan kekerasan.

Namun, para pejabat ini juga menegaskan bahwa mereka belum menemukan bukti adanya kolusi antara ketiga negara tersebut dalam mempengaruhi pemilu. Meskipun mereka mungkin berusaha untuk mengganggu proses pemilihan pada hari pemungutan suara dan memprovokasi ketidakpuasan, sistem pemungutan suara AS cukup aman sehingga mereka tidak dapat mengubah hasil pemilu.

Pejabat tersebut menjelaskan: “Beberapa aktor asing juga memiliki kemampuan untuk memprovokasi aksi protes atau bahkan mengambil tindakan kekerasan setelah pemilu. Khususnya Iran dan Rusia kemungkinan besar akan mempertimbangkan strategi untuk memfasilitasi kekerasan semacam ini.”

Sehubungan dengan ini, Perwakilan dari Kedutaan Besar Rusia dan Tiongkok di Washington, serta perwakilan Iran di PBB, belum memberikan tanggapan. Ketiga negara tersebut sebelumnya telah menyangkal tuduhan ikut campur dalam pemilu AS.

Pejabat ODNI mengungkapkan bahwa aktor asing memanfaatkan media sosial dan tindakan online lainnya untuk mempengaruhi pemilihan presiden dan kongres AS, baik dengan mencemarkan nama baik atau mendukung kandidat tertentu.

Dia menambahkan bahwa beberapa unggahan di media sosial kemungkinan dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Sebagai contoh, sebuah unggahan di platform sosial X bulan ini, yang dibuat oleh orang Rusia, memuat tuduhan palsu terhadap Gubernur Minnesota Tim Walz, yang merupakan calon wakil presiden dari Partai Demokrat.

Pejabat ODNI menyatakan bahwa badan intelijen menilai bahwa unggahan tersebut dibuat oleh orang Rusia, dengan berbagai indikator manipulasi yang sesuai dengan pola tindakan mereka.

Pejabat tersebut menyatakan bahwa badan intelijen AS akhir pekan lalu menyimpulkan bahwa video tersebut palsu dan direkayasa, sejalan dengan upaya Rusia yang terus-menerus menyebarkan tuduhan palsu untuk merusak citra calon presiden dari Partai Demokrat, seperti Kamala Harris dan Tim Walz. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Pendidikan Klasik Tiongkok Dimulai dengan Menyapu Lantai?

Orang Tua Modern Mengalihkan Tanggung Jawab, tetapi Menuntut Hasil Saat ini, banyak orang tua mengeluhkan anak-anak mereka malas dan tidak bertanggung jawab, tetapi pada saat...

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine