Kisah Mengharukan Tentang Seorang Anak Laki-laki  Bodoh

EtIndonesia. Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang anak laki-laki bodoh. Dia memiliki seorang ibu yang sangat cantik dan seorang adik perempuan yang manis. Setiap kali dia bertanya kepada ibunya ke mana ayahnya pergi, sang ibu akan menjawab: “Ayahmu sudah meninggal, dia kini menjadi bintang di langit, dari sana dia terus memperhatikan kita.”

Ketika anak laki-laki bodoh itu berumur 11 tahun, ibunya yang sangat menyayanginya meninggal dunia karena penyakit ginjal. Sebelum meninggal, ibunya berpesan agar dia menjaga adiknya dengan baik. Saat itu, adiknya baru berusia 6 tahun. Sejak saat itu, setiap malam dia selalu menatap bintang dan berkata: “Ada satu bintang lagi di langit, itu adalah Ibu. Dia duduk tepat di samping Ayah.”

Berkat bantuan orang-orang baik, laki-laki  bodoh itu membuka sebuah warung kecil yang menjual sandwich. Letaknya tidak jauh dari sekolah adiknya.

Saat di rumah, dia tak pernah berani masuk ke kamar adiknya karena sang adik membencinya. Dia merasa malu memiliki kakak yang bodoh. Namun laki-laki bodoh selalu menyukai duduk di depan pintu kamar adiknya dan memandangi adiknya belajar. Setiap kali ketahuan, dia akan sembunyi seperti anak kecil yang berbuat salah, lalu tertawa konyol—tidak jelas apakah karena bahagia atau sedih.

Setiap pagi, dia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan bagi adiknya, sebelum berangkat bekerja ke warungnya. Dan satu-satunya hobi di malam hari: melihat bintang.

Tangan laki-laki bodoh itu sangant terampil, sandwich buatannya seenak buatan restoran. Para guru dan murid sekolah suka membeli sarapan di warungnya. Tapi tak ada satu pun yang tahu bahwa dia itu punya adik perempuan cantik yang bersekolah di sana, karena si adik malu jika orang lain tahu kakaknya adalah laki-laki bodoh itu. Meski begitu, dia hanya bisa tertawa—entah karena bahagia atau sedih.

Laki-laki bodoh itu bekerja sangat keras, namun tak pernah menghambur-hamburkan uang. Tak ada yang tahu untuk apa dia mengumpulkan uang sebanyak itu. Tangannya sering terluka saat bekerja, dan dia sering kehilangan sebelah sepatu. 

Bila adiknya melihat, dia akan mencibir: “Potong sayur saja bisa melukai tangan, sepatu juga bisa hilang! Kenapa kamu nggak sekalian hilang saja? Dasar bodoh!”

Dia hanya tertawa, tak jelas apakah sedang senang atau terluka.

Setiap malam sebelum tidur, dia selalu menulis sesuatu di sebuah buku kecil. Adiknya penasaran, ingin tahu isinya, tapi dia tak pernah membiarkan sang adik melihatnya. Setelah menulis, dia selalu menyembunyikannya rapat-rapat. Sang adik sempat mencoba mencarinya beberapa kali, tapi akhirnya menyerah.

Ketika laki-laki bodoh itu berumur 17 tahun, adiknya sudah duduk di bangku SMP. Warung sandwichnya kini lebih dekat dengan sekolah adiknya. Setelah selesai berjualan pagi, dia suka berjalan mondar-mandir di sekitar sekolah. Dia selalu mengenakan pakaian kumal dan kotor, dengan sepatu yang hanya tinggal satu. Namun saat bekerja, dia akan mengenakan celemek dengan serius, dan tetap tertawa seperti biasa.

Suatu pagi, saat dia menjual sarapan, dia mendengar dua siswi membicarakan adiknya. Mereka bilang adiknya tampak pucat dan mengeluh sakit pinggang.

Dia tertegun beberapa detik, lalu tiba-tiba berteriak memanggil nama adiknya. Dia meninggalkan semua pekerjaannya dan berlari ke sekolah sambil terus memanggil nama adiknya. Dia menerobos penjaga gerbang dan guru-guru, masuk ke ruang kelas, dan melihat adiknya sedang terbaring lemas di meja, wajahnya pucat dan berkeringat dingin.

Kali ini, wajahnya tak lagi tersenyum konyol. Dia sangat panik. Dia segera menggendong adiknya dan berlari ke rumah sakit.

Di jalan, seorang guru menghentikannya dan bertanya: “Kamu siapa? Turunkan dia sekarang juga!”

Dengan wajah merah padam karena marah dan kelelahan, dia menjawab: “Dia adikku. Aku kakaknya!”

Kalimat itu terus dia ulangi sepanjang jalan ke rumah sakit. Para guru dan murid terkejut—selama ini mereka tidak tahu bahwa gadis itu punya kakak.

Dia menunggu di luar ruang perawatan selama tiga hari tiga malam tanpa tidur. Dokter yang menangani adiknya berkata: “Jangan khawatir, biaya pengobatanmu sudah disiapkan oleh kakakmu.”

Adiknya terkejut, memandangi kakaknya dari balik pintu. Kakaknya hanya tersenyum dari jauh, tak berani masuk.

Dokter itu berkata bahwa dia sering membeli sarapan di warung laki-laki bodoh itu. Dia tahu betapa kerasnya dia bekerja dan betapa hematnya dia—sampai-sampai tak pernah tahu untuk apa uang itu dikumpulkan. Sampai hari itu, semuanya terjawab.

Ketika laki-laki bodoh itu membawa adiknya, dia menangis dan berkata: “Ibu meninggal karena ini, tolong… selamatkan adikku! Aku tak mau kehilangan dia juga!”

Ternyata, sang ibu semasa hidup pernah memberitahu bahwa adiknya juga mengidap penyakit ginjal parah, dan memintanya menjaga adiknya dengan baik.

Dokter memberitahu, adiknya harus menjalani transplantasi ginjal. Biayanya telah lunas dibayar oleh kakaknya yang bodoh itu, hanya saja belum ada donor yang cocok.

Ketika mendengar bahwa adiknya butuh ginjal baru, dia langsung berkata: “Pakai punyaku! Aku kakaknya!”

Sayangnya, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ginjalnya tidak cocok.

Dia sangat kecewa. Berkali-kali dia mengulang: “Aku… kakaknya…”  Seakan tak percaya, bahwa ginjalnya tak bisa menyelamatkan adiknya.

Adiknya kini sudah bisa bangun, dan melihat dari tempat tidur ke arah pintu, air matanya mengalir deras. 

Dia berkata: “Kak, kenapa kamu hanya berdiri di luar? Masuklah…”

Dia terdiam sejenak, lalu dengan suara pelan berkata: “Boleh… aku masuk?”

Adiknya mengangguk sambil tersenyum penuh air mata.

Dia berjalan ke tempat tidur adiknya dengan kedua tangan di belakang punggung. Adiknya bertanya: “Kenapa kamu menyembunyikan tanganmu?”

Dengan malu-malu, dia menunjukkan tangannya yang dibalut perban. Kakinya masih hanya memakai satu sepatu.

Lukanya dia dapat ketika membawa adiknya ke rumah sakit—tangannya tergores kawat di jalan, dan satu sepatunya hilang saat berlari.

Adiknya kembali mengomel: “Kamu ini kenapa sih? Selalu ceroboh, tangan luka, sepatu hilang. Tapi kali ini, kata-kata itu diucapkan dengan penuh kelembutan dan rasa sayang.

Itulah pertama kalinya dia diizinkan masuk ke kamar adiknya sejak menjadi seorang yatim piatu.

Hari demi hari berlalu, kondisi sang adik semakin memburuk dan sering tak sadarkan diri.

Berkat kerja keras dokter dan keberuntungan, ginjal donor yang cocok akhirnya ditemukan. Operasi berjalan lancar. Adiknya selamat. Namun saat dia siuman, sosok yang paling dia ingin lihat tidak ada di sana.

Dokter berkata: “Kakakmu sedang bekerja di tempat jauh untuk membayar sisa biaya rumah sakitmu. Setelah kamu benar-benar sembuh, dia akan menjemputmu.”

Setiap beberapa hari, dia menerima surat dengan tulisan tangan yang jelek dan tidak rapi, semua bertuliskan hal yang sama: “Aku baik-baik saja. Kamu sembuh dulu ya.”

Hari ketika dia boleh pulang, kakaknya tidak datang menjemput. Dia hanya menerima boneka beruang putih dari dokter. Anehnya, kaki boneka itu terkena bercak darah.

Dokter memberitahu, kakaknya bekerja siang malam untuk menutupi biaya pengobatan. Selain berjualan sarapan, dia menerima pekerjaan apa saja, bahkan yang paling kotor sekalipun.

Ketika dokter memberi kabar bahwa ginjal donor telah ditemukan, dia tersenyum bahagia dan bahkan membungkuk memberi hormat kepada dokter. Dia berkata: “Saya mau beli hadiah… untuk adik saya… nanti kalau dia sadar, saya mau kasih.”

Dengan tubuh lelah dan langkah gontai, dia pergi ke toko dan membeli boneka beruang putih. Namun, karena kelelahan, pikirannya linglung. Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, dia menyeberang jalan tanpa melihat, lalu ditabrak mobil.

Dia dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma. Tapi tangannya masih erat menggenggam kantong plastik berisi boneka. Darahnya menetes ke kaki boneka itu. Saat terakhir, dia masih bisa berkata: “Beruang… untuk adik saya…” lalu tersenyum. Entah itu senyum karena bahagia, atau sedih.

Dokter berkata, surat-surat yang dikirimkan setelah itu ditulis olehnya. Dia meniru tulisan laki-laki bodoh itu. Dia tahu, laki-laki bodoh itu pasti tak ingin adiknya tahu bahwa dia telah pergi, sebelum benar-benar sembuh.

Adiknya memeluk boneka beruang putih itu dan terdiam lama. Dia kembali ke rumah. Rumahnya sangat sederhana, tapi rapi. Terutama kamar tidurnya sendiri—lebih bersih daripada saat dia tinggal di sana. Hanya saja, semua perabot kini berdebu tipis.

Di atas meja, ada satu pot bunga yang mekar indah. Di sebelah pot itu, ada kartu kecil dengan tulisan tangan jelek: “Selamat datang kembali, adikku.”

Laki-laki  bodoh itu ternyata sudah menyiapkan rumah untuk menyambut adiknya pulang. Tapi kini, suara tawa bodohnya tak akan pernah terdengar lagi.

Adiknya masuk ke kamar kakaknya. Di sana, dia menemukan buku kecil yang selama ini ingin dia lihat.

Buku itu masih menyimpan aroma sandwich. Tulisan tangan di dalamnya berantakan, tapi penuh cinta:

·        “Adik suka bangun siang, jadi jangan berisik saat pagi.”

·        “Adik tidak suka sandwich pagi-pagi, sukanya mie instan. Harus dimasak sebelum jualan.”

·        “Adik tidak suka aku masuk ke kamarnya. Tidak boleh terlalu dekat, harus minta izin dulu.”

·        “Adik tak ingin teman-temannya tahu aku kakaknya.”

·        “Adik sakit, tapi jangan sampai dia tahu penyakitnya sama dengan Mama.”

·        “Aku harus bekerja keras… kumpulkan uang untuk sembuhkan dia…”

·        “Sekarang, penyakit adik sudah bisa disembuhkan…”

Adiknya memeluk buku kecil itu dan menangis sejadi-jadinya.

Sejak hari itu, setiap malam dia suka berbaring di halaman dan menatap langit penuh bintang—seperti yang dulu kakaknya lakukan. Kini ada satu bintang baru di sana, di samping Ayah dan Ibu. Itu adalah bintang kakaknya, yang terus menjaga dirinya dari langit.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Membangun Nostalgia Hari Ini: Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Anda di Masa Depan?

Perjalanan berkemah tahunan, buku cerita favorit, atau tradisi hari raya dapat menjadi kenangan emosional yang melekat sepanjang masa kanak-kanak. oleh Walker Larson Kata nostalgia berasal dari...

Cara Mengurangi Ketergantungan Anak pada Layar dan Mengajak Mereka Kembali Bermain di Alam Terbuka

Sekarang waktu di depan layar telah menjadi bagian utama masa kanak-kanak bagi jutaan keluarga. Perangkat digital dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian jauh lebih...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine