EtIndonesia. Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa Suku Zhuang, hiduplah seorang gadis cantik bernama Yue Mei. Di depan rumahnya tumbuh tiga pohon jeruk bali. Setiap kali musim panen tiba, Yue Mei selalu memetik jeruk-jeruk itu dan membaginya kepada semua orang.
Dia bukan hanya baik hati, tapi juga sangat terampil. Dia pandai membuat lentera—bulat seperti bola, pipih seperti batu giling. Lentera burung yang bisa terbang, lentera naga yang bisa menari. Dia juga mahir membuat sandal dari jerami—berwarna merah di bagian atas, hijau di telinga sandal, ringan dan kuat.
Namun, meski semuanya terasa baik saat itu, ada satu hal yang hilang dari dunia: di langit belum ada Bulan, belum ada bintang. Begitu Matahari tenggelam, langit menjadi gelap gulita, Bumi pun sama gelapnya. Tanpa cahaya lampu, tidak ada satu pun yang terlihat. Hidup terasa seperti terkurung dalam wajan besi raksasa—sungguh menyiksa!
Yue Mei punya ide aneh tapi indah.
Dia berpikir: “Bagaimana kalau bisa menggantung satu lentera besar di langit? Begitu malam tiba, lentera itu akan menyala dan menerangi dunia. Betapa indahnya!”
Namun, bagaimana caranya menggantung lentera di langit? Di mana jalan menuju langit? Dia bertanya pada kakek berjanggut putih, nenek berambut perak, tapi semua hanya menggeleng tak tahu.
Tapi Yue Mei tidak menyerah. Dia percaya, kalau langit dan Bumi terhubung, pasti ada jalannya. Saat itu, dia baru berusia 17 atau 18 tahun—usia bunga mekar paling indah. Banyak pemuda yang jatuh hati padanya, setiap malam mereka membawa lentera dan berkeliling di dekat rumahnya, menyanyi dan mencoba merayunya. Tapi Yue Mei tak tergoda—hatinya hanya ingin satu hal: menggantung lentera di langit.
Dia pun memutuskan: dia akan mencari jalan menuju langit.
Sebelum berangkat, seluruh warga desa datang melepas kepergiannya.
Yue Mei berkata : “Kalau suatu hari kalian lihat ada lentera tergantung di langit, itu artinya aku sudah berhasil. Saat itu, datanglah ke rumahku dan petiklah jeruk sesukamu. Para pemuda boleh menebang kayu dan mengambil air, para gadis bisa membuat kue manis. Mari kita hidup rukun, hangat, dan damai bersama-sama.”
Yue Mei Membawa Tiga Perbekalan:
1. Sebuah lentera besar – untuk digantung di langit
2. Satu busur sandal jerami – untuk membuat sandal selama perjalanan
3. Sebesar karung biji wijen harum – untuk menghitung hari, satu hari satu biji
Dia pun mulai berjalan mencari jalan ke langit. Melewati gunung, menyeberangi sungai. Terik matahari, hujan badai, angin kencang, salju tebal—semua dilewati. Setiap hari dia menjatuhkan satu biji wijen. Setiap sandal rusak, dia membuat yang baru.
Tak ada yang tahu berapa jauh dia berjalan, berapa lama waktu berlalu. Busur pembuat sandalnya tinggal selebar jari, biji wijennya tersisa separuh, rambutnya memutih semua—namun semangatnya tak pernah padam. Dia bersumpah akan membawa terang ke dunia malam.
Suatu hari, dia tiba di tempat yang aneh—hamparan laut luas membentang di hadapannya, tak terlihat ujung, tak terdengar suara, tak ada satu pun makhluk. Di sana, tak ada jalan, kecuali… satu batu bundar putih, seperti piring besar.
Karena lelah, Yue Mei duduk di atas batu itu dan mulai membuat sandal lagi. Tiba-tiba, angin sejuk bertiup, batu bundar itu perlahan bergerak, berputar, dan… mengapung ke tengah laut, lalu naik menembus awan.
Yue Mei terus membuat sandalnya, seolah tak menyadari bahwa dia sedang naik ke langit.
Begitu sandal selesai, dia mendongak dan… terkejut:
Di atasnya langit kosong. Di sekelilingnya pun kosong. Saat menunduk, dia melihat pegunungan, sungai, rumah-rumah, sawah.
Yue Mei berguman: “Aku sudah sampai ke langit!”
Penuh sukacita, dia langsung menyalakan lentera. Lalu, dia menyebarkan semua biji wijen ke seluruh penjuru langit.
Sejak saat itu, batu bundar tempat dia duduk memantulkan cahaya lentera, menjadi bulat, putih perak, dan tampak sangat indah dari Bumi—itulah yang kini kita sebut Bulan.
Biji wijen yang bertebaran memantulkan cahaya bulan, berkilauan seperti titik-titik cahaya kecil—itulah bintang-bintang.
Malam Pertama Bulan Bersinar
Saat warga desa melihat lentera besar tergantung di langit, dikelilingi titik-titik cahaya kecil, mereka sadar.
“Itu Yue Mei! Dia berhasil menggantung lentera ke langit!” Teriak penduduk desa.
Hari itu adalah tanggal 15 bulan 8 menurut kalender tradisional Tiongkok, dan sejak saat itu, hari itu pun dianggap sebagai hari lahirnya Bulan.
Jika kamu memperhatikan Bulan dengan saksama pada malam itu, katanya, kamu masih bisa melihat siluet seorang gadis sedang membuat sandal.
Namun sekarang, orang-orang tidak lagi memanggilnya “Yue Mei”, tapi “Nenek Bulan”.
Tradisi Turun Temurun Suku Zhuang
Mengikuti pesan Yue Mei, warga desa pun berbagi jeruk satu sama lain setiap musim panen. Namun, selalu ada orang yang pelit dan tak mau berbagi.
Maka lahirlah satu aturan unik:
Pada tanggal 15 bulan 8, siapa pun boleh “mencuri” jeruk dari orang kaya untuk dibagikan kepada semua orang. Itu tidak dianggap salah—justru dipuji! Siapa yang paling berani “mencuri” untuk rakyat, dianggap paling hebat.
Cerita ini bukan hanya legenda asal-usul Bulan, tapi juga ajaran tentang ketekunan, pengorbanan, dan keindahan berbagi. (jhn/yn)


