Video Lansia di Liaoning, Tiongkok  “Menaburkan Beras” ke Laut Sambil Komat-Kamit seperti Membaca Mantra

Etindonesia. Sebuah kejadian aneh terjadi di sebuah dermaga pesisir di Provinsi Liaoning, Tiongkok. Beberapa orang tua tampak membawa banyak karung beras dan menuangkannya ke laut, sementara mulut mereka komat-kamit seakan membaca mantra. Disebutkan bahwa mereka sedang melakukan “ritual pelepasan makhluk hidup dengan beras”, yang kemudian memicu kecaman luas dari publik. Banyak warganet menyebut tindakan itu sebagai pemborosan makanan yang sangat tidak pantas.

Sebuah video yang beredar menunjukkan kejadian tersebut berlangsung pada 20 November, di salah satu dermaga di Kota Huludao. Dalam video, beberapa orang lansia berseragam pakaian musim dingin menuangkan beras dari karung besar langsung ke laut. Seorang perempuan berambut pendek bahkan sempat menelepon keluarganya dan berkata bahwa ia “baru saja selesai melepasliarkan (beras)”, lalu ikut menuangkan sisa beras yang ia bawa.

Selama proses itu, sang perekam video terdengar terus komat-kamit, seolah mengucapkan mantra.


Aksi “Pelepasan Beras” Picu Kritik Tajam: “Ini Bukan Berbuat Baik, Ini Membuat Dosa”

Setelah video viral, warganet ramai mengkritik tindakan tersebut.

Beberapa komentar:

  • “Apa harus sampai membuang makanan seperti ini? Kalau mau sayang ikan, ya jaga kualitas air, bukan buang beras.”
  • “Sepanjang sejarah tidak pernah ada ‘melepaskan’ beras. Ini bukan ritual, ini pemborosan.”
  • “Ini bukan berbuat baik, ini malah menambah dosa.”
  • “Kalau mau berbuat amal, kirim saja beras ini ke daerah miskin.”
  • “Membuang makanan termasuk ‘menghancurkan lima jenis biji-bijian’, sebuah perbuatan buruk yang ada konsekuensi karmanya.”

Banyak warganet mempertanyakan bagaimana tindakan tersebut bisa dianggap “ritual kebaikan”, padahal jelas-jelas membuang sumber makanan yang berharga.


Fenomena “Pelepasan Aneh” Muncul di Banyak Daerah Tiongkok

Insiden seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak video memperlihatkan masyarakat melakukan “ritual pelepasan” barang-barang yang tidak seharusnya dilepasliarkan, antara lain:

  • air mineral,
  • tepung terigu,
  • minyak goreng,
  • bahan makanan kemasan,
  • bahkan produk rumah tangga.

Aksi-aksi ini kerap memicu perdebatan karena:

  1. Tidak bermanfaat bagi lingkungan,
  2. Berpotensi mencemari daerah,
  3. Merupakan pemborosan sumber daya,
  4. Berangkat dari kesalahpahaman ritual keagamaan.

Kasus Lain: Hampir Seratus Kucing Dilepas di Waduk Air Minum

Pada 1 November, di Waduk Yingzui, Kota Qingyuan, Provinsi Guangdong, beberapa orang terlihat melepaskan hampir seratus ekor kucing ke dalam area waduk.

Akibatnya:

  • sebagian kucing panik dan memanjat pohon,
  • sebagian lainnya tercebur ke waduk,
  • tepi waduk dipenuhi kucing yang panik.

Masalahnya, waduk tersebut adalah zona perlindungan tingkat satu sumber air minum, sehingga tindakan itu menimbulkan kekhawatiran besar terkait pencemaran air, risiko penyakit, serta dampak ekologis.

Fenomena-fenomena ini menunjukkan bagaimana tindakan yang dilabeli sebagai “amal” atau “ritual” justru dapat menimbulkan konsekuensi serius ketika tidak berdasarkan pemahaman yang benar.   (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Pendidikan Klasik Tiongkok Dimulai dengan Menyapu Lantai?

Orang Tua Modern Mengalihkan Tanggung Jawab, tetapi Menuntut Hasil Saat ini, banyak orang tua mengeluhkan anak-anak mereka malas dan tidak bertanggung jawab, tetapi pada saat...

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine