Pasar Kerja yang Sulit dan Kurangnya Daya Tarik : Populasi Muda di Beijing Berkurang Hampir Setengahnya dalam Dekade Terakhir

Baru-baru ini, berbagai provinsi dan kota di Tiongkok telah merilis data kependudukan. Data menunjukkan bahwa jumlah anak muda di Beijing terus menurun. Bahkan, dalam hampir 10 tahun terakhir telah berkurang hingga setengahnya. Sebaliknya, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, sehingga tren penuaan populasi semakin serius.

EtIndonesia. Pada 27 April, 31 provinsi di Tiongkok daratan secara bertahap mengumumkan data jumlah penduduk tetap hingga akhir 2025. Data menunjukkan bahwa sekitar 80% wilayah mengalami penurunan jumlah penduduk. 

Selain itu, berbagai lembaga statistik daerah juga merilis Statistical Yearbook 2025, yang memuat data populasi berdasarkan kelompok usia. Enam wilayah—Beijing, Hebei, Henan, Jiangsu, Fujian, dan Anhui—secara konsisten mempublikasikan data ini, sehingga memberikan gambaran lebih rinci tentang perubahan struktur usia penduduk.

Data publik menunjukkan bahwa dari tahun 2015 hingga 2024, proporsi penduduk muda di Beijing mengalami penurunan paling signifikan, dari 21,3% menjadi 11,4%. Dari segi jumlah, populasi anak muda di Beijing turun dari 4,618 juta menjadi 2,489 juta, berkurang sebanyak 2,129 juta orang dalam satu dekade.

Dalam periode yang sama, jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) meningkat dari 3,405 juta menjadi 5,14 juta, bertambah sebanyak 1,735 juta orang.

Sebelumnya, proporsi anak muda di Beijing jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, laju penurunan di Beijing jauh lebih cepat dibandingkan tren nasional. Tahun 2020 menjadi titik penurunan paling drastis, di mana jumlah anak muda turun dari 3,805 juta pada 2019 menjadi 3,255 juta, berkurang 550 ribu dalam satu tahun.

Terkait penyebab penurunan jumlah anak muda di Beijing, sejumlah analisis menyebutkan bahwa sulitnya mendapatkan pekerjaan dan tingginya biaya hidup menjadi faktor utama. Selain itu, kebijakan pengelolaan kota yang semakin ketat juga turut berperan.

Sejumlah warganet berkomentar, “Sulit mencari kerja, setelah bekerja pun sulit menabung, biaya transportasi tinggi dan kondisi tempat tinggal kurang baik. Wajar saja Beijing kehilangan daya tariknya.”

Pada 30 April, akun publik WeChat “Fuchengmen Liuhayuan” menerbitkan artikel berjudul “Dalam Sepuluh Tahun Populasi Anak Muda Berkurang Setengah: Mengapa Beijing Semakin Tidak Mampu Menahan Anak Muda?” Artikel tersebut menyebutkan bahwa dalam satu dekade, Beijing yang dulunya satu-satunya kota dengan lebih dari 4 juta anak muda kini turun menjadi sekitar 2 juta lebih. Keunggulan sumber daya tenaga muda hampir habis.

Saat ini, jumlah anak muda di Beijing bahkan jauh lebih rendah dibandingkan kota-kota seperti Shenzhen, Shanghai, Guangzhou, Chengdu, dan Chongqing, bahkan mungkin lebih rendah dari kota dengan populasi sekitar 10 juta seperti Dongguan, Wuhan, dan Hangzhou.

Analisis tersebut menyebutkan bahwa pada 2015, dari setiap 100 penduduk Beijing terdapat sekitar 21 anak muda dan 16 lansia. Namun pada 2024, hanya tersisa 11 anak muda dibandingkan 24 lansia per 100 penduduk. Rata-rata, Beijing kehilangan sekitar 210 ribu anak muda setiap tahun dalam satu dekade terakhir. Jika tren ini berlanjut, pada 2030 jumlah anak muda diperkirakan hanya sekitar 1 juta orang, menjadikan Beijing sebagai kota yang sangat menua dan kehilangan vitalitas.

Penyebab utama migrasi keluar anak muda meliputi melambatnya pertumbuhan sektor teknologi dan jasa, berkurangnya peluang perkembangan bagi generasi muda, tingginya harga properti dan biaya hidup, sistem hukou (registrasi penduduk) yang kaku, serta semakin ketatnya pengelolaan kota dan meningkatnya intervensi administratif dalam ruang publik.

Namun, ada juga warganet yang berpendapat, “Apakah mungkin memang jumlah anak muda secara keseluruhan memang sudah menurun sejak awal?”

Disusun oleh reporter Li Li / Editor: Lin Qing – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

Mengapa Biksu Menyapu Halaman yang Sama Setiap Hari

Menyapu halaman, mengepel lantai: bagaimana pekerjaan sehari-hari di biara menjadi salah satu praktik meditasi tertua di dunia. Masuklah ke hampir setiap biara Buddha, dan Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine