EtIndonesia. Komite Khusus DPR AS untuk Urusan Partai Komunis Tiongkok bersama Komite Keamanan Dalam Negeri mengumumkan bahwa mereka secara resmi meluncurkan penyelidikan terhadap raksasa penyewaan akomodasi Airbnb serta perusahaan rintisan AI Anysphere, karena diduga menggunakan model kecerdasan buatan (AI) dari Tiongkok.
Reporter NTD Yu Liang melaporkan bahwa Kongres AS telah meminta kedua perusahaan tersebut untuk menyerahkan laporan evaluasi terkait penggunaan model AI Tiongkok dalam batas waktu tertentu. Hingga saat ini, kedua perusahaan belum memberikan tanggapan publik.

Perusahaan pertama yang disebut adalah platform penyewaan global Airbnb.
Menurut hasil penyelidikan Kongres, sistem layanan pelanggan Airbnb menggunakan model AI berbiaya rendah “Qwen” (Tongyi Qianwen) yang dikembangkan oleh perusahaan Tiongkok Alibaba. Hal ini dinilai berpotensi menempatkan data jutaan pengguna Amerika dalam risiko, termasuk kemungkinan tereksposnya informasi pribadi dan jejak aktivitas pengguna di bawah pengawasan pemerintah PKT.
Perusahaan lain yang turut diselidiki adalah startup berbasis di New York, Anysphere. Produk editor pemrograman AI populernya, Cursor, disebut memiliki teknologi dasar yang berasal dari perusahaan AI Tiongkok “Moonshot AI” (Yuezhianmian).
Moonshot AI juga dituduh terlibat dalam pengumpulan dan pencurian data kecerdasan buatan dalam skala besar dari Amerika Serikat.
Selain itu, disebutkan bahwa ketika insinyur Amerika menggunakan Cursor untuk menulis kode, informasi sensitif seperti rahasia bisnis, teknologi laboratorium, bahkan data militer AS berpotensi mengalir ke Beijing, yang dapat digunakan untuk pengembangan senjata atau sintesis bahan kimia dan biologis berbahaya.
Di sisi lain, mantan ketua Departemen Kimia Universitas Harvard, Charles Lieber, yang pada 2021 dinyatakan bersalah karena menyembunyikan hubungannya dengan pihak Tiongkok, dilaporkan kini bekerja di sebuah pusat riset di Shenzhen yang didukung pemerintah Partai Komunis Tiongkok. Ia meneliti bidang neuro-elektronika, yang kembali memicu kekhawatiran AS mengenai dugaan pencurian teknologi canggih dan talenta.
Laporan ini menegaskan bahwa penyelidikan tersebut mengirimkan sinyal jelas kepada perusahaan teknologi Amerika: di tengah tren pemisahan teknologi antara AS dan Tiongkok, perusahaan harus memilih antara “biaya rendah” dan “keamanan nasional”.
Dilaporkan oleh Yu Liang dan Ying Xiang, NTDTV New York.


