EtIndonesia. Memasuki hari ke-63 konflik di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung. Kedua pihak tetap menjaga komunikasi melalui berbagai saluran, dan telah mencapai kemajuan pada beberapa isu tertentu.
Namun, Trump juga menyebut tidak menutup kemungkinan bahwa “tidak tercapainya kesepakatan justru bisa lebih menguntungkan,” serta menegaskan bahwa konflik ini tidak seharusnya berlangsung tanpa batas waktu.
Trump mengatakan bahwa pihak AS masih memegang kendali strategis dalam berbagai tindakan yang dilakukan, dan menilai situasi secara keseluruhan sedang bergerak ke arah yang menguntungkan untuk mengakhiri konflik.
“Sejujurnya, mungkin lebih baik kita tidak mencapai kesepakatan sama sekali. Anda ingin tahu kebenarannya? Karena kita tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut—ini sudah berlangsung terlalu lama,” katanya.
Di bidang diplomasi, proses negosiasi masih terus berjalan. Laporan menyebutkan bahwa pembicaraan AS–Iran saat ini berlangsung secara tertutup, dengan kedua pihak bertukar pandangan melalui mekanisme komunikasi yang ada. Fokus utama pembahasan meliputi pengaturan keamanan pelayaran di Selat Hormuz serta isu terkait nuklir.
Pihak AS menyatakan bahwa komunikasi dengan Iran dilakukan terutama melalui telepon dan jalur diplomatik, dan kedua pihak telah mencapai sejumlah kesepakatan awal dalam isu-isu teknis. Ke depan, koordinasi lebih lanjut akan terus didorong.
Trump juga menyebut bahwa kondisi permusuhan antara militer AS dan Iran telah memasuki fase yang relatif stabil. Sejak awal April, tidak ada lagi bentrokan militer langsung, yang menciptakan kondisi bagi kelanjutan negosiasi diplomatik.
Di sisi lain, AS juga memperkuat penataan keamanan kawasan. Menurut pernyataan Departemen Luar Negeri AS, pemerintah Trump mempercepat program penjualan senjata senilai lebih dari 8 miliar dolar kepada sekutu Timur Tengah, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, yang mencakup sistem pertahanan udara serta rudal Patriot.
Selain itu, AS juga mengeluarkan peringatan terkait keamanan pelayaran di kawasan, menekankan pentingnya menjaga jalur laut strategis di tengah situasi geopolitik yang masih tidak stabil.
Sementara itu, di tengah kompleksitas situasi kawasan, konflik di perbatasan Israel–Lebanon kembali memanas. Militer Israel (IDF) menyatakan telah melancarkan operasi militer baru di Lebanon selatan, menewaskan sejumlah pejuang Hezbollah serta menyerang sekitar 120 target terkait.
Pada saat yang sama, mekanisme koordinasi keamanan regional juga berjalan. Militer Lebanon menyatakan bahwa panglima angkatan bersenjata Lebanon, Rudolf Haykal, bertemu di Beirut dengan jenderal militer AS Joseph Clearfield untuk membahas situasi keamanan Lebanon dan perkembangan regional.
Laporan oleh reporter Yixin, NTDTV


