EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah perjalanan kapal pesiar ekspedisi kutub berubah menjadi mimpi buruk di tengah laut. Kapal pesiar mewah “Hondius” dilaporkan mengalami wabah hantavirus, yang telah menyebabkan tiga penumpang meninggal dunia, sementara lebih dari seratus penumpang kini terjebak di laut.
Seorang travel blogger merekam kondisi di atas kapal dan mengatakan bahwa rasa takut terasa begitu dekat. Di bawah bayang-bayang virus mematikan ini, kapan kapal bisa merapat ke daratan masih belum diketahui.
Seorang travel blogger asal Amerika, Jake Rosmarin, mengatakan: “Saat ini saya berada di atas kapal ‘Hondius’ (MV Hondius). Semua yang sedang terjadi sekarang terasa sangat nyata bagi kami semua.”
Jake awalnya mengikuti perjalanan impian menjelajahi kawasan kutub Atlantik, namun wabah hantavirus yang tiba-tiba terjadi membuat sekitar 150 orang di atas kapal diliputi ketakutan.
Kapal yang dia tumpangi adalah “Hondius” (MV Hondius), milik perusahaan pelayaran ekspedisi Belanda Oceanwide Expeditions. Kapal tersebut berangkat dari Ushuaia, Argentina pada 20 Maret.
Pada 11 April, seorang pria Belanda berusia 70 tahun meninggal di atas kapal. Istrinya kemudian meninggal pada 27 April saat dalam perjalanan pulang.
Pada 2 Mei, seorang penumpang asal Jerman juga meninggal di atas kapal. Selain itu, seorang penumpang asal Inggris menerima perawatan darurat di Afrika Selatan dan dikonfirmasi terinfeksi hantavirus.
“Masih ada dua pasien (awak kapal) di atas kapal yang akan dipindahkan untuk mendapatkan perawatan,” kata Direktur Departemen Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove.
Hantavirus dapat menyebabkan gagal paru-paru atau gagal ginjal yang serius, dengan tingkat kematian mencapai 35%. Virus ini biasanya menular melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat.
Maria Van Kerkhove menambahkan: “Penularan antar manusia jarang terjadi.”
Perwakilan WHO di Tanjung Verde (Cape Verde), Ann Lindstrand, mengatakan: “Namun, memang ada laporan yang menunjukkan kemungkinan penularan antar manusia.”
Saat ini, risiko penyebaran virus masih dalam tahap evaluasi. Kapal pesiar tersebut belum diizinkan berlabuh dan masih berada di perairan lepas Cape Verde.
Reporter NTD Television, Meng Yu, melaporkan dari New York.


