Putin Panik Jelang 9 Mei! Rusia Ancam Kyiv, Rudal Nuklir Disiapkan, Kudeta Internal Mulai Tercium?

EtIndonesia. Situasi perang antara Rusia dan Ukraina kembali memanas menjelang peringatan Hari Kemenangan Rusia pada 9 Mei 2026. Ketegangan meningkat tajam setelah pemerintah Ukraina menuduh Moskow melanggar gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan sendiri oleh Rusia, sementara di saat bersamaan Kremlin juga dilaporkan memperketat keamanan Presiden Vladimir Putin secara besar-besaran karena kekhawatiran terhadap ancaman internal maupun serangan dari Ukraina.

Perkembangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran internasional bahwa konflik Rusia–Ukraina justru memasuki fase yang semakin berbahaya, terutama karena Rusia juga mengumumkan uji coba rudal strategis berkemampuan nuklir tepat menjelang parade militer Hari Kemenangan di Moskow.

Ukraina Tuduh Rusia Melanggar Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, belum lama ini menulis di platform AXS bahwa Rusia telah melanggar gencatan senjata yang mulai diberlakukan Ukraina sejak 5 Mei 2026 tengah malam.

Menurut Sybiha, meskipun Kyiv telah menunjukkan itikad untuk menghentikan pertempuran sementara, militer Rusia justru kembali melancarkan gelombang serangan baru ke berbagai wilayah Ukraina.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa Moskow akan memberlakukan gencatan senjata singkat pada 8–9 Mei 2026 dalam rangka memperingati 81 tahun kemenangan Uni Soviet dalam Perang Dunia II atau yang di Rusia dikenal sebagai “Hari Kemenangan Perang Patriotik Raya”.

Sebagai tanggapan, pemerintah Ukraina kemudian mengusulkan penghentian perang tanpa batas waktu mulai pukul 00.00 tanggal 6 Mei 2026 dan mendesak Rusia benar-benar mematuhi komitmen tersebut.

Namun hingga tenggat waktu tiba, Rusia tidak memberikan tanggapan resmi maupun tanda-tanda menerima usulan Kyiv tersebut.

Sybiha kemudian menegaskan bahwa tindakan Rusia memperlihatkan Moskow sebenarnya tidak memiliki niat serius untuk mencapai perdamaian.

Ia menyebut seruan gencatan senjata Rusia menjelang parade 9 Mei hanyalah “pertunjukan politik” dan pencitraan semata.

Menurutnya, Kremlin lebih mementingkan parade militer dibanding keselamatan warga sipil.

“Putin hanya peduli pada parade militer, bukan pada nyawa manusia,” tulis Sybiha.

Serangan Rusia Kembali Menghantam Kharkiv dan Zaporizhzhia

Menurut laporan pemerintah Ukraina, serangan Rusia berlangsung sepanjang malam hingga dini hari tanggal 6 Mei 2026.

Militer Rusia kembali menggempur wilayah Kharkiv dan Zaporizhzhia melalui serangan udara dan drone.

Di Kharkiv, sedikitnya tujuh rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat ledakan. Dua warga sipil juga terluka dalam serangan tersebut.

Sementara itu, pejabat wilayah Sumy menyebut sebuah drone Rusia menghantam kendaraan sipil hingga menewaskan satu penumpang dan melukai pengemudinya.

Data terbaru pemerintah daerah Ukraina yang diperbarui pada 6 Mei menyebutkan bahwa sedikitnya 28 warga sipil tewas akibat serangan udara Rusia yang terjadi sehari sebelumnya, tepat pada 5 Mei 2026.

Media Inggris The Guardian juga melaporkan bahwa meskipun Ukraina telah mengumumkan penghentian sementara operasi militer selama 24 jam, Rusia tetap meluncurkan drone dan rudal dalam jumlah besar ke berbagai wilayah Ukraina.

Zelenskyy Peringatkan Akan Membalas

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali menyerukan penghentian permusuhan dan meminta Rusia menghormati upaya diplomatik.

Namun Zelenskyy juga menegaskan bahwa Kyiv tidak akan tinggal diam jika Rusia terus melanggar gencatan senjata.

Ia memperingatkan bahwa Ukraina akan memberikan “balasan yang setara” terhadap setiap serangan yang dilakukan Moskow.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun Ukraina masih membuka jalur diplomasi, pemerintah Kyiv kini juga bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas menjelang peringatan Hari Kemenangan Rusia.

Lembaga Militer AS: Ancaman Rusia Justru Tunjukkan Putin Khawatir

Pada 5 Mei 2026, lembaga kajian militer Amerika Serikat, Institute for the Study of War, menulis dalam analisis yang dikutip Axios bahwa ancaman Rusia terhadap Ukraina menjelang Hari Kemenangan justru memperlihatkan kekhawatiran besar Kremlin sendiri.

Lembaga tersebut menilai ancaman Rusia untuk membalas jika Ukraina menyerang Moskow menunjukkan bahwa Putin menyadari sistem pertahanan Rusia mungkin tidak benar-benar mampu melindungi wilayah belakang negara itu, termasuk ibu kota Moskow, dari serangan drone Ukraina.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina memang semakin intensif meluncurkan serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia.

Bahkan menurut berbagai laporan intelijen Barat, drone Ukraina kini sudah mampu menjangkau kawasan Pegunungan Ural yang berada di perbatasan Eropa dan Asia.

Artinya, kawasan inti Rusia yang sebelumnya dianggap aman kini juga mulai masuk dalam jangkauan serangan Ukraina.

Rusia Umumkan Uji Coba Rudal Nuklir di Kamchatka

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Kementerian Pertahanan Rusia pada 6 Mei 2026 secara resmi mengumumkan bahwa Moskow akan melakukan uji coba rudal strategis di lokasi uji Kura, Semenanjung Kamchatka, mulai tanggal 6 hingga 10 Mei 2026.

Uji coba itu mencakup sistem rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir, termasuk rudal balistik antarbenua.

Pemerintah setempat bahkan telah mengeluarkan larangan bagi warga sipil maupun kendaraan untuk memasuki area uji coba dan wilayah di sekitarnya.

Waktu pelaksanaan latihan strategis tersebut dinilai sangat sensitif karena dilakukan tepat menjelang parade militer Hari Kemenangan di Moskow, di tengah ketegangan global yang juga meningkat akibat konflik Timur Tengah dan memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dengan Iran.

Banyak analis menilai langkah Putin melakukan demonstrasi kekuatan nuklir pada momen seperti ini merupakan sinyal politik yang sangat kuat kepada Barat dan NATO.

Rusia Minta Diplomat Asing Tinggalkan Kyiv

Ketegangan semakin meningkat setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengeluarkan peringatan resmi kepada diplomat asing dan staf organisasi internasional agar segera meninggalkan ibu kota Ukraina, Kyiv.

Rusia memperingatkan bahwa apabila Ukraina mencoba melakukan sabotase selama peringatan Hari Kemenangan pada 8–9 Mei, maka militer Rusia akan melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap pusat kota Kyiv.

Tidak hanya diplomat, Rusia juga menyarankan seluruh warga negara asing yang masih berada di Ukraina agar segera meninggalkan Kyiv demi alasan keamanan.

Zakharova bahkan menegaskan bahwa apabila situasi memburuk, target serangan Rusia akan mencakup “pusat pengambilan keputusan”.

Pernyataan tersebut memicu perhatian internasional karena keluar justru di saat Rusia mengklaim akan menjalankan gencatan senjata selama parade militer berlangsung.

Banyak pihak menilai seruan evakuasi darurat itu menunjukkan bahwa situasi sebenarnya jauh lebih tegang daripada yang disampaikan Kremlin ke publik.

Putin Disebut Semakin Tertutup dan Takut Ancaman Internal

Di tengah memanasnya situasi perang, laporan media internasional juga menyebut Kremlin kini semakin khawatir terhadap ancaman internal terhadap Putin sendiri.

Beberapa media Amerika mengutip laporan intelijen Eropa yang menyebut pemerintah Rusia takut terhadap kemungkinan munculnya upaya pembunuhan politik maupun kudeta dari dalam negeri.

Akibat kekhawatiran tersebut, pengamanan Putin dalam beberapa waktu terakhir disebut diperketat secara drastis.

Bahkan sejumlah pejabat yang dicurigai terlibat aktivitas mencurigakan atau dugaan upaya kudeta dilaporkan telah ditangkap oleh aparat keamanan Rusia.

Menurut laporan Financial Times, Dinas Perlindungan Federal Rusia yang bertugas melindungi pejabat tinggi negara kini meningkatkan pengawasan terhadap ancaman drone dan sabotase.

Sebagai respons, Putin disebut mengurangi perjalanan luar daerah, membatasi pertemuan langsung, serta memperketat pemeriksaan terhadap seluruh pengunjung dan staf di lingkaran dalam Kremlin.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa selama berminggu-minggu terakhir Putin lebih banyak bekerja secara jarak jauh, namun media pemerintah Rusia tetap menayangkan rekaman video untuk menciptakan kesan bahwa situasi negara masih berjalan normal.

Dukungan terhadap Putin Dilaporkan Menurun

Di sisi lain, ketidakpuasan masyarakat Rusia terhadap perang berkepanjangan juga disebut semakin meningkat.

Tekanan ekonomi domestik, mobilisasi militer berkepanjangan, serta ancaman serangan drone ke wilayah Rusia membuat suasana politik dalam negeri semakin tidak stabil.

Survei yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan tingkat dukungan publik terhadap Putin kini turun ke titik terendah sejak musim gugur tahun 2022, ketika perang Ukraina memasuki fase eskalasi besar.

Perkembangan ini membuat peringatan Hari Kemenangan Rusia tahun 2026 tidak lagi hanya menjadi simbol kejayaan militer Moskow, tetapi juga berubah menjadi momen penuh tekanan bagi Kremlin di tengah ancaman perang, ketidakstabilan internal, dan meningkatnya ketegangan global. (***)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

Mengapa Biksu Menyapu Halaman yang Sama Setiap Hari

Menyapu halaman, mengepel lantai: bagaimana pekerjaan sehari-hari di biara menjadi salah satu praktik meditasi tertua di dunia. Masuklah ke hampir setiap biara Buddha, dan Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine