Media daratan Tiongkok melaporkan bahwa sebuah kapal tanker besar milik perusahaan Tiongkok diserang Iran pekan ini di dekat Selat Hormuz, memicu perhatian luas. Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Jumat (9/5) terpaksa memberikan tanggapan dengan menyatakan bahwa kapal yang diserang berbendera Kepulauan Marshall dan hanya diawaki oleh awak berkewarganegaraan Tiongkok. Pernyataan ini dinilai sebagai upaya untuk meredam hubungan langsung Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan insiden tersebut, sehingga menimbulkan berbagai spekulasi dari luar.
EtIndonesia. Media Tiongkok (Caixin) melaporkan pada Kamis (7/5) bahwa pada 4 Mei sebuah kapal tanker produk minyak besar milik perusahaan pelayaran Tiongkok diserang di pintu masuk Selat Hormuz, di perairan dekat Pelabuhan Al Jeer, Uni Emirat Arab. Serangan itu menyebabkan kebakaran di bagian dek kapal.
Pada badan kapal terlihat jelas tulisan “pemilik kapal dan awak Tiongkok”, namun kapal tersebut tetap menjadi sasaran serangan.
Sumber yang mengetahui situasi mengatakan bahwa serangan terhadap kapal tanker Tiongkok di Selat Hormuz merupakan hal yang “sulit diterima secara psikologis” bagi PKT, mengingat hubungan Tiongkok-Iran selama ini dikenal dekat.
Setelah insiden itu terungkap, otoritas PKT berusaha meredam dampaknya. Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Jumat menyatakan bahwa kapal yang diserang adalah kapal berbendera asing dan hanya terdapat awak berkewarganegaraan Tiongkok di atasnya.
Insiden ini terjadi bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Beijing, sehingga memicu berbagai interpretasi dari publik.
Sejumlah analis menilai bahwa di satu sisi insiden ini berkaitan dengan konflik internal di Iran, sementara di sisi lain Iran juga menyimpan ketidakpuasan terhadap PKT, terutama karena dalam konflik terbaru antara AS dan Iran, Beijing tidak menunjukkan dukungan keras terhadap Teheran. Serangan tersebut juga dianggap memiliki unsur peringatan agar PKT memihak Iran.
“Serangan militer Iran terhadap kapal tanker minyak Tiongkok kali ini pada dasarnya mencerminkan dua kemungkinan. Pertama, di dalam sistem Iran sendiri, dari pejabat tingkat atas hingga birokrasi dan militer tingkat menengah dan bawah, terdapat ketidakpuasan yang sangat besar terhadap PKT. Penyebab utamanya adalah karena setelah Amerika Serikat mengambil tindakan militer terhadap Iran, PKT tidak menunjukkan sikap keras mendukung Iran dan menentang Amerika di panggung internasional,” kata pengamat politik Lan Shu.
Komentator urusan terkini Li Linyi mengatakan : “Ada juga spekulasi lain, yaitu PKT memberi tekanan kepada Iran, lalu pihak Iran merasa tidak puas.”
Analisis lain menunjukkan bahwa selama ini hubungan Tiongkok-Iran sering dipandang sebagai aliansi anti-Amerika. Namun konflik AS-Iran kali ini justru memperlihatkan bahwa hubungan kedua negara lebih merupakan kerja sama berbasis kepentingan, bukan aliansi strategis sejati.
Bagi Beijing, salah satu kepentingan inti dalam hubungan dengan Iran adalah pasokan energi dan keamanan jalur pelayaran. PKT sangat bergantung pada energi Timur Tengah, tetapi tidak ingin ikut menanggung risiko politik dan militer bersama Iran. Karena itu, hubungan keduanya dinilai lebih bersifat saling memanfaatkan daripada saling percaya.
“Satu hal yang terlihat jelas adalah hubungan antara PKT dan Iran belum tentu sebaik yang dibayangkan orang. Selain itu, pengaruh PKT terhadap Iran mungkin juga tidak sebesar yang diperkirakan. Karena itulah kapal tanker Tiongkok terus-menerus menjadi sasaran serangan,” tambah Li Linyi.
Publik internasional kini memperhatikan apakah insiden penyerangan kapal tanker Tiongkok ini akan mendorong Beijing untuk mengevaluasi kembali hubungan dan kerja sama mereka dengan Iran.
Dilaporkan oleh reporter NTD, Chen Yue dan Chang Chun.


