EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (9 Mei) mengatakan bahwa jika situasi dengan Iran tidak menunjukkan kemajuan, Amerika Serikat mungkin akan kembali menjalankan operasi pengawalan di Selat Hormuz. Laporan media menyebutkan bahwa ketika negosiasi AS-Iran memasuki tahap penting, sebuah kelompok garis keras di Iran yang jumlahnya tidak besar namun memiliki pengaruh kuat sedang meningkatkan upaya untuk menggagalkan potensi kesepakatan.
Saat ditanya mengenai tanggapan Iran terhadap proposal terbaru AS, Trump berkata: “Kita lihat saja apa yang akan terjadi. Mereka sudah hampir tidak punya militer lagi, tinggal sedikit yang tersisa. Kita lihat bagaimana perkembangannya.”
Trump juga mengatakan bahwa AS mungkin akan menghidupkan kembali operasi pengawalan di Selat Hormuz.
“Jika situasi tidak berkembang, kami mungkin akan memulai kembali ‘Project Freedom’, tetapi itu akan menjadi ‘Project Freedom Plus’, yaitu Project Freedom ditambah langkah-langkah lainnya.” katanya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan: “Sistem mereka (Iran) saat ini masih sangat terpecah dan sebagian juga tidak berjalan dengan baik. Itu mungkin menjadi hambatan. Saya berharap mereka mengajukan proposal yang serius, saya sungguh berharap demikian.”
Menurut laporan CNN, di tengah tekanan terhadap rezim Iran, pemerintah berusaha menunjukkan persatuan. Namun sebuah kelompok garis keras di dalam negeri terus menentang kesepakatan dengan Amerika Serikat melalui media, parlemen, dan aksi jalanan.
Media Iran, komentator politik, hingga masyarakat di jalan melontarkan kritik tajam terhadap upaya negosiasi tersebut.
Para ahli menilai hal inilah yang menyebabkan Trump menyebut kepemimpinan Iran sedang “terpecah” dan “kacau”. Kelompok garis keras itu disebut ingin mengambil alih kendali proses negosiasi dan sekaligus membentuk ulang struktur kekuasaan di dalam negeri.
Sementara itu, beberapa sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa badan intelijen AS percaya pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, meskipun terluka dan belum muncul di depan publik, masih terlibat dalam pengambilan keputusan strategis di belakang layar.
Pihak Iran mengatakan Mojtaba Khamenei sedang dalam masa pemulihan dan “kini telah sepenuhnya pulih”. Namun sebagian petugas intelijen menduga ada pihak di dalam sistem Iran yang menggunakan namanya untuk mendorong agenda politik mereka sendiri.
Menurut laporan Reuters, citra satelit menunjukkan dugaan kebocoran minyak di dekat Pulau Khark, pusat ekspor minyak utama Iran. Penyebabnya masih belum diketahui. Pulau tersebut menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, yang sebagian besar dikirim ke Tiongkok.
Selain itu, menurut Bloomberg, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap tiga perusahaan citra satelit asal Tiongkok dengan tuduhan menyediakan gambar satelit kepada Iran untuk membantu operasi yang menargetkan militer AS.
Departemen Luar Negeri AS juga memasukkan pusat ekspor Kementerian Pertahanan Iran ke dalam daftar sanksi dengan tuduhan terlibat dalam pengadaan senjata.
Untuk mencegah citra satelit digunakan bagi kepentingan militer, pemerintah AS telah meminta perusahaan satelit komersial agar tidak menyediakan gambar dari beberapa wilayah konflik tertentu. Sebagian besar perusahaan AS telah mematuhi permintaan tersebut, namun perusahaan Tiongkok masih terus beroperasi, sehingga menjadi titik gesekan baru antara AS dan Tiongkok.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. pada Jumat (8 Mei) juga mengatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara perlu memperkuat kerja sama regional karena konflik Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan memukul ekonomi global. ASEAN saat ini sedang membahas langkah-langkah seperti pembangunan jaringan listrik regional dan cadangan bahan bakar.
“Hanya dalam dua bulan terakhir, konflik Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan biaya kebutuhan pokok masyarakat, dan menempatkan warga ASEAN di seluruh dunia dalam risiko,” ujarnya.
Pada Sabtu, konflik antara Israel dan Hizbullah masih terus berlangsung, dengan pertempuran terfokus di Lebanon selatan. Israel mengatakan operasi tersebut bertujuan melindungi warga di wilayah utara dan menyerang militan Hizbullah yang bersembunyi di kawasan sipil.
Sementara itu, Bahrain mengumumkan telah menangkap 41 orang yang diduga terkait dengan Garda Revolusi Iran.
Laporan reporter NTDTV Liu Jiajia dari Amerika Serikat.


