Menjelang pertemuan Trump-Xi, pihak Amerika Serikat memperkuat pengamanan Presiden Trump selama berada di Beijing. Beredar informasi bahwa sekitar 70 kendaraan pengamanan dan 12 pesawat angkut telah tiba di Beijing. Pengamat menilai hal ini menunjukkan tingkat kewaspadaan Washington yang sangat tinggi terhadap lingkungan politik dan risiko keamanan di Tiongkok.
Mengenai apakah pertemuan Trump-Xi dapat menghasilkan terobosan besar, dunia luar umumnya tidak terlalu optimistis. Analisis menunjukkan bahwa tujuan utama pertemuan ini mungkin bukan untuk menyelesaikan perbedaan, melainkan untuk mencegah hubungan AS-Tiongkok semakin lepas kendali di tengah situasi global yang sangat tegang.
EtIndonesia. Pada Senin (11 Mei), Kementerian Luar Negeri PKT mengumumkan bahwa Presiden AS Donald Trump akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada 13 hingga 15 Mei.
Untuk menjamin keamanan KTT Trump-Xi kali ini, dalam beberapa hari terakhir sejumlah besar peralatan keamanan dan logistik AS telah lebih dulu memasuki Beijing.
Selain pesawat angkut besar militer AS C-17 yang sering mendarat di Bandara Ibu Kota Beijing, banyak warga juga melihat iring-iringan kendaraan Dinas Rahasia AS di jalan-jalan Beijing.
Beredar informasi bahwa netizen menghitung sekitar 70 kendaraan pengamanan AS telah tiba di Beijing. Hanya pada hari Senin saja, empat pesawat angkut C-17 milik AS terbang dari Pangkalan Udara Misawa milik militer AS di Jepang menuju Beijing. Ditambah delapan pesawat yang telah tiba sebelumnya, totalnya mencapai 12 pesawat, mencetak rekor baru dalam kunjungan luar negeri seorang presiden AS. Pada kunjungan Trump ke Tiongkok tahun 2017, hanya ada dua pesawat angkut.
Para ahli menunjukkan bahwa pesawat-pesawat angkut ini ibarat “Gedung Putih bergerak”, yang mencerminkan tingginya kewaspadaan Washington terhadap lingkungan politik dan risiko keamanan di bawah rezim PKT.
多架美军运输机抵京 筹备特朗普访华
— 中華新聞 China News (@ZhonghuaNews_) May 11, 2026
近日,七架美军C-17运输机分批降落北京首都机场,相关物资陆续运抵。
此次由美空军专业空运部队执行,主要运送元首安保车辆、通信及医疗保障设备,为特朗普访华提前完成前期部署。
目前中美双方正对接高层会面相关事宜,具体行程尚未官宣。 pic.twitter.com/uW1GWwjACm
🔥 美军“黑色车队”已压过北京街头。中共所谓的主场,正被迫交出控制权。川普维安部队全面接管,顶级防弹座驾入场,连路过的北京市民都看傻了!
— 海外爆料 (@zhihui999) May 12, 2026
🚨 美国根本不信中共的安保,必须按美国规矩办,全套自带“移动堡垒”。这种景象,让习的强国尊严瞬间碎了一地❗️
✅ 中共这波“让步”,你觉得是习向川普低头吗⁉️ https://t.co/mX4IeuhXUb pic.twitter.com/F9OCBwWjag
今天有北京网友在机场高速偶遇C17拉来的美国总统车队
— Crypto Doggy 叫我狗总 (@CryptoDoggyCN) May 11, 2026
2台野兽2台萨博班1台重卡 pic.twitter.com/k99yNpKvKA
“Presiden AS membawa begitu banyak perlengkapan ke sini. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya sangat tidak mempercayai negara yang dipimpin PKT ini. Karena itu pengamanannya pasti sangat ketat, termasuk berbagai peralatan yang dibawa langsung bersama rombongan, jumlahnya juga belum pernah sebanyak ini sebelumnya,” kata lomentator isu terkini Li Linyi.
今天,北京网友在三元桥拍到的“野兽”,川普没到开出来干嘛? pic.twitter.com/p5QGayVGSS
— 老多 (@yuashwe) May 11, 2026
Komentator isu terkini Lan Shu mengatakan: “Perang Iran saat ini dan perdamaian di Selat Taiwan membuat keselamatan pribadi Trump menjadi sangat penting.”
Dalam pertemuan kali ini, Trump dan Xi diperkirakan akan membahas perdagangan, tarif, teknologi, masalah Taiwan, serta situasi Timur Tengah.
Pejabat senior AS sebelumnya mengungkapkan bahwa Trump akan secara langsung menekan Xi agar PKT menghentikan dukungan ekonomi dan militernya kepada Iran, bahkan tidak menutup kemungkinan penambahan sanksi.
Sebelumnya Trump telah memperingatkan bahwa jika PKT tetap mendukung Iran, maka AS akan mengenakan tarif tambahan hingga 50% terhadap produk Tiongkok. Meski kemudian Xi disebut berjanji tidak lagi memasok senjata kepada Iran, dunia luar tetap meragukan janji tersebut dan mengingatkan agar tidak mempercayai komitmen PKT.
Lan Shu mengatakan: “Kunjungan Trump ke Beijing kali ini adalah upaya menciptakan perdamaian melalui kekuatan. Pemerintah AS tidak lagi akan mempercayai janji apa pun dari PKT. Namun Trump memiliki kekuatan yang cukup untuk menjaga perdamaian di kawasan Pasifik Barat.”
Menjelang pertemuan tersebut, Beijing secara terbuka menekankan bahwa “masalah Taiwan” merupakan isu inti dalam pembicaraan kali ini. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah.
Karena itu, banyak pihak menilai KTT Trump-Xi sulit menghasilkan terobosan besar, terutama terkait masalah Taiwan. Hasil akhirnya kemungkinan hanya berupa pencapaian simbolis di bidang pertanian dan penerbangan.
Komentator Li Linyi mengatakan: “Pemerintah AS sebenarnya juga memahami hal ini. Mengapa masih ingin menandatangani perjanjian dengan PKT? Pertama, pemerintah AS ingin menjaga stabilitas hubungan AS-Tiongkok. Kedua, demi kepentingan rakyat Amerika sendiri, mereka juga membutuhkan PKT untuk menandatangani sejumlah perjanjian perdagangan yang menguntungkan AS.”
Laporan wawancara oleh reporter NTD, Chen Yue dan Chang Chun.


