ETIndonesia. Laporan Bloomberg menyebutkan Iran sedang berdiskusi dengan Oman untuk membangun sebuah “sistem pungutan permanen” guna secara resmi mengendalikan Selat Hormuz.
Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman dan merupakan salah satu jalur transportasi energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini.
Namun, sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari tahun ini, Iran sempat secara drastis membatasi lalu lintas di selat tersebut, yang menyebabkan harga energi global melonjak dan tekanan inflasi meningkat.
Kini, Iran tidak hanya enggan sepenuhnya memulihkan pelayaran normal, tetapi juga berencana memperluas kontrolnya atas Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, Iran bersiap membentuk lembaga baru bernama “Otoritas Teluk Persia dan Selat”. Di masa depan, kapal-kapal yang melintasi selat kemungkinan harus melapor terlebih dahulu kepada lembaga tersebut dan membayar biaya transit.
Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan penolakan keras. Pada 21 Mei, ia mengatakan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional dan penerapan sistem pungutan di sana “sepenuhnya tidak dapat diterima”. Ia mengatakan: “Ini adalah ancaman bagi dunia dan sepenuhnya ilegal.”
Saat ini, Iran bersikeras bahwa mereka tidak akan sepenuhnya memulihkan lalu lintas normal di Selat Hormuz kecuali Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Meskipun Iran mengklaim bahwa dalam beberapa waktu terakhir sudah ada kapal tanker yang melewati selat dengan pengawalan Garda Revolusi, banyak perusahaan pelayaran internasional mengatakan bahwa sebagian besar perusahaan masih enggan mengambil risiko melintas karena ancaman rudal, drone, dan ranjau laut masih ada.
Selain itu, Iran juga menyatakan bahwa bahkan jika perang berakhir, mereka akan terus memperkuat kontrol atas Selat Hormuz di masa mendatang untuk mencegah Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan.
Sementara itu, pejabat tinggi sektor energi United Arab Emirates memperingatkan bahwa jika masyarakat internasional membiarkan Iran memungut biaya di jalur pelayaran penting dunia, maka hal itu akan menciptakan “preseden berbahaya” yang dapat mengancam kebebasan pelayaran global di masa depan.
Sumber : NTDTV.com


