Surabaya – Jawa Timur semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat komoditas perkebunan terbesar di Indonesia. Potensi besar kopi, kakao, dan teh yang dimiliki provinsi ini kini tidak hanya menjadi kekuatan sektor pertanian, tetapi juga mulai berkembang menjadi motor penggerak ekonomi kreatif, pariwisata, hingga ekspor bernilai tambah tinggi.
Data terbaru menunjukkan Jawa Timur merupakan produsen kopi terbesar di Pulau Jawa dengan produksi mencapai 53,25 ribu ton pada 2024. Angka tersebut jauh melampaui Jawa Tengah yang memproduksi 26,79 ribu ton dan Jawa Barat 26,48 ribu ton. Untuk komoditas kakao, Jawa Timur juga menjadi produsen terbesar dengan produksi mencapai 10,56 ribu ton, sementara produksi teh mencapai 2,14 ribu ton.
Keunggulan tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu daerah paling strategis dalam pengembangan industri perkebunan nasional, khususnya untuk komoditas ekspor.
Tak hanya unggul dari sisi produksi, nilai tambah komoditas perkebunan Jawa Timur juga terus meningkat melalui hilirisasi. Pada komoditas kopi misalnya, selain mengekspor green bean, pelaku usaha mulai mengembangkan produk roasted coffee, ekstrak kopi, hingga konsentrat kopi yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar internasional. Pada sektor kakao, keberhasilan pengembangan produk mentega cokelat menjadi salah satu contoh sukses hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai ekspor. Sementara pada komoditas teh, peluang pengembangan ekstrak dan konsentrat masih sangat terbuka.
Melihat potensi besar tersebut, Bank Indonesia Jawa Timur kembali menyiapkan ajang tahunan Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 yang akan digelar pada 17–19 Juli 2026 di Alun-Alun Surabaya.
JCFF merupakan agenda strategis Bank Indonesia untuk memperkenalkan nilai, sejarah, dan filosofi kopi Jawa yang selama ini berkontribusi besar terhadap industri kopi nasional. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kelima sejak pertama kali digelar pada 2022 dengan nama Java Coffee Culture (JCC). Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang akan digelar di Jakarta.
Tidak hanya menghadirkan pameran kopi, JCFF 2026 akan diramaikan berbagai kegiatan seperti business matching perdagangan dan pembiayaan, lelang kopi, workshop, talkshow EduCoffee, kompetisi brewing, latte art, cupping competition, food creation, lomba menghias cup, lomba mewarnai kopi, hingga pertunjukan seni dan budaya.
Menurut Bank Indonesia, festival ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mendorong kopi, rempah-rempah, dan cokelat asal Pulau Jawa sebagai komoditas unggulan nasional yang berorientasi ekspor. Kedua, meningkatkan promosi kawasan Alun-Alun Surabaya sebagai destinasi wisata heritage. Ketiga, menciptakan nilai tambah melalui pengembangan produk olahan dan ekonomi kreatif berbasis kopi, rempah, dan cokelat.
Melalui JCFF, Bank Indonesia berharap akses pasar dan pembiayaan bagi pelaku usaha perkebunan serta UMKM olahan kopi dapat semakin luas. Festival ini juga diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara petani, pelaku usaha, eksportir, lembaga keuangan, komunitas kopi, dan pemerintah.
Ke depan, potensi kopi, kakao, dan teh Jawa Timur diperkirakan akan semakin besar seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk premium dan berkelanjutan. Dengan dukungan hilirisasi, penguatan branding, dan promosi melalui event seperti JCFF, Jawa Timur berpeluang menjadi pusat industri kopi dan flavor terbesar di Indonesia sekaligus pemain penting di pasar ekspor dunia.


