Berkumur Setelah Menyikat Gigi Menghilangkan Fluoride yang Dibutuhkan Gigi
Setelah menyikat gigi, kebanyakan orang secara naluriah akan berkumur dengan air lalu meludahkannya. Kebiasaan ini terasa seperti langkah alami untuk mengakhiri rutinitas menyikat gigi. Namun, berkumur setelah menyikat gigi justru menghilangkan fluoride—bahan aktif dalam pasta gigi—sebelum sempat memberikan manfaatnya.
Pada tahun 2023, Asosiasi Stomatologi Tiongkok mengeluarkan panduan yang jelas: setelah menyikat gigi, cukup ludahkan busanya, lalu berhenti. Jangan berkumur.
Fluoride berfungsi memperkuat enamel gigi dan membantu permukaan gigi lebih tahan terhadap asam yang dihasilkan bakteri. Fluoride juga membantu membalikkan tahap awal kerusakan gigi. Agar manfaat tersebut dapat bekerja, fluoride perlu berada cukup lama di permukaan gigi untuk membentuk lapisan pelindung. Jika langsung berkumur setelah menyikat gigi, fluoride akan hilang hanya dalam hitungan detik.
Sebagian orang khawatir akan menelan fluoride. Kekhawatiran ini pada umumnya tidak beralasan. Fluoride secara alami terdapat dalam air minum dan udara. Jumlah fluoride yang terdapat dalam penggunaan pasta gigi standar jauh berada di bawah tingkat yang dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Menyikat Gigi Menjelang Tidur Membiarkan Kerusakan Akibat Bakteri Berlangsung Berjam-Jam
Menyikat gigi tepat sebelum tidur merupakan kebiasaan yang umum. Namun, waktu tersebut tidak seefektif yang dibayangkan banyak orang. Menyikat gigi sekitar 30 menit setelah makan malam sebenarnya lebih baik bagi kesehatan mulut dibandingkan menunggu hingga menjelang tidur.
Banyak orang selesai makan malam lalu menghabiskan beberapa jam untuk bekerja, menonton televisi, atau bersantai sebelum akhirnya menyikat gigi. Selama jeda waktu tersebut—kadang mencapai empat hingga lima jam—sisa makanan tetap berada di dalam mulut dan menjadi sumber makanan bagi bakteri.
Bakteri kemudian berkembang biak dan mulai merusak gigi serta gusi jauh sebelum waktu tidur tiba. Menyikat gigi lebih dekat dengan waktu selesai makan dapat secara signifikan mengurangi periode aktivitas bakteri tersebut.
Mengabaikan Garis Gusi Menjadi Penyebab Utama Bau Mulut yang Tak Kunjung Hilang
Bau mulut yang menetap merupakan salah satu keluhan gigi yang paling umum dialami orang yang sebenarnya rutin menyikat gigi. Penyebabnya biasanya bukan terletak pada gigi itu sendiri, melainkan pada dua area yang sering diabaikan: lapisan pada lidah dan celah di sepanjang garis gusi.
Celah garis gusi adalah saluran dangkal yang berada di antara setiap gigi dan jaringan gusi di sekitarnya. Bakteri dan sisa makanan dapat menumpuk di area tersebut dan menghasilkan senyawa sulfur volatil, yang merupakan salah satu sumber utama bau mulut.
Seiring waktu, penumpukan plak di area tersebut dapat menyebabkan peradangan gusi dan, jika tidak ditangani, berkembang menjadi penyakit periodontal.
Membersihkan area ini memerlukan teknik yang tepat. Posisikan bulu sikat pada sudut 45 derajat terhadap permukaan gigi, dengan ujung bulu sikat mengarah ke pertemuan antara gigi dan gusi. Berikan tekanan ringan dan lakukan gerakan pendek secara horizontal, menyapu seluruh permukaan luar dan dalam setiap gigi.
Lidah juga perlu mendapat perhatian. Setelah menyikat gigi, lakukan beberapa gerakan mengikis secara lembut dari belakang ke depan di permukaan lidah. Hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi dapat memberikan perbedaan yang nyata terhadap kesegaran napas.
Empat Kebiasaan yang Mendukung Penyikatan Gigi yang Baik
1. Gunakan Sikat Kecil dengan Bulu yang Lembut
Kepala sikat yang kecil dapat menjangkau lebih banyak area di dalam mulut. Bulu sikat yang lembut dan berujung membulat mampu membersihkan secara efektif tanpa mengikis jaringan gusi.
Bagi mereka yang menginginkan hasil yang lebih baik, sikat gigi elektrik sonik dapat memberikan kemampuan pembersihan yang lebih efektif dibandingkan sikat gigi manual.
2. Menyikat Gigi Tiga Kali Sehari Setelah Makan
Sikatlah gigi tiga kali sehari selama tiga menit setiap kali, dimulai sekitar 30 menit setelah makan.
Tiga menit mungkin terdengar lama, tetapi siapa pun yang menyikat gigi dengan teknik yang benar dan membersihkan seluruh permukaan gigi akan menyadari bahwa waktu tersebut berlalu dengan cepat—bahkan terkadang masih terasa kurang.
3. Gunakan Benang Gigi Setiap Hari
Sikat gigi tidak dapat menjangkau sela-sela gigi maupun bagian tepi tempat gigi bertemu dengan gusi. Benang gigi merupakan alat yang paling efektif untuk membersihkan area tersebut.
Gunakan benang gigi setidaknya sekali sehari, dan pastikan membersihkan kedua sisi dari setiap celah antargigi, karena setiap celah memiliki dua permukaan gigi yang sama-sama memerlukan perhatian.
4. Lakukan Pembersihan Gigi Profesional Satu atau Dua Kali Setahun
Bahkan penyikatan gigi yang sangat teliti tetap akan meninggalkan sebagian plak. Seiring waktu, plak tersebut mengeras menjadi karang gigi, yaitu endapan yang tidak dapat dihilangkan dengan menyikat gigi biasa.
Pembersihan gigi secara profesional dapat menghilangkan karang gigi yang menumpuk serta membantu mendeteksi masalah sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Oleh Jia Hui, Vision Times


