EtIndonesia.com Gelombang panas yang memecahkan rekor terus melanda benua Eropa, dengan suhu di banyak negara kembali mencetak rekor tertinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sejak pekan lalu, lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) yang berkaitan dengan suhu ekstrem telah tercatat di Eropa. WHO juga memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan terus meningkat seiring berlanjutnya gelombang panas.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menulis di platform X bahwa Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju kenaikan suhu mencapai dua kali lipat rata-rata global. Ia menambahkan bahwa sebagian besar rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini.
Seiring bergesernya gelombang panas mematikan ke arah timur, suhu di berbagai negara Eropa terus mencetak rekor baru. Saat ini, sekitar 191 juta orang mengalami suhu di atas 95 derajat Fahrenheit (35 derajat Celsius).
Beberapa hari lalu, pejabat kesehatan Prancis menyatakan bahwa selama periode gelombang panas, sekitar 1.000 kematian berlebih telah tercatat, dengan sebagian besar korbannya adalah warga lanjut usia. Pihak berwenang memperingatkan bahwa angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah.
Di Jerman, rekor suhu tertinggi pecah selama tiga hari berturut-turut. Di beberapa wilayah, suhu mencapai 107,1 derajat Fahrenheit (41,7 derajat Celsius). Sementara itu, Denmark juga mengalami suhu yang tidak biasa, mencapai 98,6 derajat Fahrenheit (37 derajat Celsius). Italia, Spanyol, dan Polandia terus mengeluarkan peringatan cuaca panas, sementara risiko kebakaran hutan meningkat di sejumlah daerah sehingga dinas pemadam kebakaran berada dalam status siaga.
Seorang warga Serbia, Bojana Stefanović, mengatakan: “Apa penyebabnya? Pabrik-pabrik, pemanasan global—kita semua tahu itu. Namun hanya itu yang bisa kita katakan. Kita tidak bisa berbuat banyak selain bertahan menghadapinya.”
Di Britania Raya, cuaca panas ekstrim juga menyebabkan tekanan besar terhadap layanan kesehatan. Karena meningkatnya permintaan layanan ambulans, beberapa wilayah di Inggris menetapkan status “insiden besar” (major incident). Rumah sakit dan layanan medis menghadapi tekanan berat. Di sejumlah daerah juga dilaporkan terjadi beberapa kasus warga yang tenggelam saat berenang untuk mendinginkan diri.
Sementara itu, di Amerika Serikat bagian timur, fenomena “kubah panas” (heat dome) menyebabkan cuaca sangat panas disertai kelembaban tinggi yang diperkirakan akan berlangsung hingga libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (4 Juli).
Badan meteorologi memperingatkan bahwa suhu yang dirasakan tubuh (heat index) di beberapa wilayah dapat melampaui 104 derajat Fahrenheit (40 derajat Celsius). Masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan dalam waktu lama serta mewaspadai risiko serangan panas (heatstroke) dan dehidrasi.
Laporan disusun oleh Xiao Chang, NTD Television.


