Khawatir Akan Operasi “Pemenggalan Kepemimpinan”? Analis: Insiden Pesawat Ringan Menabrak Gedung Tertinggi di Beijing Membuat Xi Jinping Dilanda Kekhawatiran

Insiden sebuah pesawat ringan yang menabrak CITIC Tower (China Zun) di Beijing telah menarik perhatian luas. Seorang analis politik Taiwan, Dr. Wang Chih-sheng, berpendapat bahwa peristiwa ini menunjukkan sistem pertahanan udara Beijing telah mengalami kegagalan besar. Ia juga berspekulasi bahwa insiden tersebut mungkin merupakan tindakan ekstrim dari pihak-pihak yang sangat tidak puas terhadap pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping. Menurutnya, kejadian ini dapat memicu efek domino di dalam negeri Tiongkok dan membuat Xi hidup dalam ketakutan.

EtIndonesia.com Pada 26 Juni sore, sebuah pesawat olahraga ringan menabrak CITIC Tower, gedung pencakar langit setinggi 108 lantai di Beijing. Tabrakan tersebut mengakibatkan dinding kaca gedung berlubang besar. 

Otoritas Tiongkok berupaya membatasi penyebaran informasi mengenai insiden itu dan baru mengumumkan keesokan harinya bahwa pilot tewas di tempat, sementara beberapa orang di darat mengalami luka-luka. Setelah kejadian tersebut, pemerintah segera memerintahkan penghentian sementara seluruh aktivitas penerbangan umum.

Pada 29 Juni, Dr. Wang Chih-sheng, profesor pada Departemen Kepolisian Perbatasan di Central Police University Taiwan, dalam acara televisi Taiwan Xiang Qian Xing (Taiwan Maju), mengatakan bahwa lokasi tabrakan hanya berjarak sekitar 6–7 kilometer dari Zhongnanhai, kompleks kepemimpinan pusat PKT. Menurutnya, apabila pesawat itu terus terbang sekitar 40 detik lagi, pesawat tersebut bisa saja mencapai Zhongnanhai.

Pada sore hari 26 Juni, sebuah pesawat kecil menghantam Gedung CITIC di kawasan dalam Jalan Lingkar Ketiga (Third Ring Road) Beijing, yang di internet juga disebut sebagai Gedung China Zun. Puing-puing badan pesawat berserakan di lokasi kejadian. (Foto: Internet)

Wang menganalisis bahwa para pemimpin PKT selama bertahun-tahun selalu mengkhawatirkan kemungkinan adanya operasi “pemenggalan kepemimpinan” (decapitation strike). Namun, sistem pertahanan udara Beijing terutama dirancang untuk menghadapi ancaman dari luar, bukan dari dalam. 

Dalam kasus ini, pesawat lepas landas dari sebuah bandara di pinggiran kota dan langsung menuju pusat Beijing, sehingga menunjukkan kelemahan sistem yang disebutnya sebagai “mampu bertahan dari luar, tetapi tidak dari dalam.”

Ia juga menyoroti bahwa pesawat tersebut terbang pada ketinggian rendah dan menabrak gedung pada sekitar 400 meter, yang menurutnya mengungkap kelemahan radar militer Tiongkok dalam mendeteksi sasaran yang terbang rendah dan lambat.

Menurut Wang, sistem pertahanan udara Beijing tampak kuat di luar tetapi memiliki kelemahan mendasar. Ia berspekulasi bahwa Xi Jinping kemungkinan besar sangat mengkhawatirkan insiden tersebut. 

Pada 26 Juni sore, sebuah pesawat ringan menghantam Gedung CITIC di kawasan dalam Jalan Lingkar Ketiga (Third Ring Road) Beijing, yang di internet disebut sebagai Gedung China Zun. Puing-puing badan pesawat berserakan di lokasi kejadian. Foto ini merupakan gambar pesawat tipe yang sama dengan pesawat yang terlibat dalam insiden tersebut. (Foto: Internet)

Wang juga mengemukakan hipotesis bahwa apabila di masa depan bukan pesawat ringan, melainkan pesawat nirawak seperti MQ-9 yang digunakan, maka ancaman terhadap pusat pemerintahan bisa menjadi jauh lebih serius.

Mengenai motif insiden tersebut, Wang berpendapat bahwa kemungkinan itu merupakan bentuk protes ekstrim dari pihak-pihak yang sangat tidak puas terhadap pemerintahan PKT dan Xi Jinping. Ia memperkirakan peristiwa ini dapat memicu reaksi berantai di dalam negeri dan bahkan berspekulasi bahwa Xi mungkin tidak lagi merasa aman untuk tinggal di Zhongnanhai.

“Hari ini pesawat ringan yang menabrak gedung, besok mungkin serangan pesawat nirawak,” ujar Wang.

Menurutnya, baik ancaman terhadap keamanan pribadi maupun dinamika politik domestik merupakan tantangan besar yang dapat menimbulkan kekhawatiran serius bagi Xi Jinping.

Insiden ini juga kembali memunculkan perdebatan mengenai kemampuan sistem pertahanan udara Beijing dalam menghadapi pesawat berkecepatan rendah dan berketinggian sangat rendah.

Seorang pakar penerbangan senior sekaligus pilot Amerika Serikat, Gao Fei, mengatakan kepada NTD bahwa insiden ini kemungkinan akan mendorong pimpinan PKT memperketat pengawasan terhadap sektor penerbangan. Ia memperkirakan sejumlah pejabat akan dimintai pertanggungjawaban, sementara pejabat pengganti kemungkinan akan menerapkan langkah-langkah pengendalian yang lebih ketat, termasuk kemungkinan penutupan sekolah-sekolah penerbangan di wilayah pinggiran Beijing.

Sementara itu, Yuan Hongbing, seorang ahli hukum yang tinggal di Australia dan mengaku memiliki hubungan dengan sejumlah tokoh di dalam sistem PKT, mengatakan kepada The Epoch Times pada 29 Juni bahwa insiden tabrakan di CITIC Tower merupakan peristiwa yang bersifat politik.

Menurut Yuan, insiden tersebut mencerminkan kemarahan yang sangat besar di kalangan birokrasi PKT terhadap kampanye pembersihan politik yang dilakukan Xi Jinping, serta adanya tekad dari sebagian pihak untuk melakukan perlawanan. Ia menilai bahwa hal ini menunjukkan Xi Jinping sedang menghadapi tantangan politik yang serius.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

Mengapa Biksu Menyapu Halaman yang Sama Setiap Hari

Menyapu halaman, mengepel lantai: bagaimana pekerjaan sehari-hari di biara menjadi salah satu praktik meditasi tertua di dunia. Masuklah ke hampir setiap biara Buddha, dan Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine