EtIndonesia.com Sebelum sebuah pesawat ringan menabrak CITIC Tower (China Zun), gedung tertinggi di Beijing, pada 26 Juni lalu, pesawat tersebut dilaporkan sempat memasuki jalur penerbangan sebuah pesawat penumpang milik Hainan Airlines dan nyaris menyebabkan tabrakan di udara. Selain itu, sedikitnya dua penerbangan dilaporkan terpaksa membatalkan proses pendaratan akibat insiden tersebut.
Menurut laporan Bloomberg pada 30 Juni, berdasarkan data dari situs pelacakan penerbangan internasional Flightradar24, pesawat ringan itu memasuki jalur penerbangan sebuah pesawat Airbus A330 milik Hainan Airlines yang beberapa menit lagi dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Beijing Capital. Akibatnya, pesawat penumpang tersebut terpaksa melakukan go-around (membatalkan pendaratan dan kembali naik) serta melakukan manuver penghindaran sehingga tabrakan di udara berhasil dihindari.
Data penerbangan menunjukkan bahwa pesawat Hainan Airlines yang terbang dari Ürümqi menuju Beijing sedang melintas di atas Jalan Lingkar Keenam Beijing dan bersiap memasuki tahap akhir pendekatan pendaratan.
Ketinggian pesawat sempat turun hingga sekitar 3.250 kaki (991 meter), namun dalam waktu sekitar enam menit kemudian kembali naik dengan cepat hingga 9.150 kaki (2.789 meter) sambil menyimpang dari jalur pendekatan semula, yang mengindikasikan awak pesawat kemungkinan melakukan prosedur pembatalan pendaratan darurat.
Pada saat paling kritis, jarak antara kedua pesawat dilaporkan hanya sekitar 1.500 kaki (457 meter).
Hingga kini belum diketahui apakah awak pesawat mengubah arah pendaratan atas instruksi pengatur lalu lintas udara atau karena sistem Traffic Collision Avoidance System (TCAS) secara otomatis mengeluarkan peringatan.
Catatan pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa sedikitnya dua penerbangan terpaksa membatalkan pendaratan karena pesawat ringan tersebut memasuki jalur pendekatan menuju Bandara Internasional Beijing Capital.
Pengatur lalu lintas udara kemudian menginstruksikan sejumlah pesawat untuk mengubah jalur pendekatan dari arah selatan menjadi arah utara. Beberapa penerbangan lainnya juga dilaporkan terdampak.
Bandara Internasional Beijing Capital merupakan salah satu bandara tersibuk di Tiongkok, dengan rata-rata satu pesawat lepas landas atau mendarat setiap sekitar 30 detik.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa insiden nyaris tabrakan ini sebelumnya belum pernah diberitakan. Hingga berita diterbitkan, Hainan Airlines, Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok (CAAC), maupun Beijing Capital International Airport Co., Ltd. belum memberikan komentar resmi. Pihak bandara bahkan menolak memberikan tanggapan.
Pada sore hari 26 Juni, pesawat ringan tersebut akhirnya menabrak CITIC Tower, gedung pencakar langit tertinggi di Beijing yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Zhongnanhai, kompleks tempat para pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) berkantor. Menurut keterangan resmi, insiden itu menyebabkan sedikitnya satu orang tewas dan 13 orang lainnya terluka.
Berdasarkan data lembaga kajian internasional dan rekaman pelacakan penerbangan sipil, pesawat kecil itu lepas landas dari Bandara Shifosi sekitar pukul 17.30 dan semula dijadwalkan kembali sekitar 10 menit kemudian. Namun pesawat tiba-tiba keluar dari jalur penerbangan dan kehilangan kontak. Sekitar pukul 18.00, pesawat tersebut menabrak CITIC Tower.
Harian Ming Pao di Hong Kong, mengutip sumber dari kalangan industri penerbangan, melaporkan bahwa sebelum kecelakaan terjadi, petugas menara pengawas Beijing yang menangani lalu lintas keberangkatan, pendekatan, dan wilayah udara berulang kali memanggil pesawat tersebut, tetapi tidak mendapat jawaban.
Sumber tersebut mengatakan: “Kemudian helikopter militer dikirim untuk memeriksa. Namun ketika personel militer tiba di lokasi, pesawat itu sudah menabrak gedung.”
Setelah kejadian tersebut, otoritas PKT segera memerintahkan penghentian seluruh kegiatan penerbangan umum (general aviation) di seluruh Tiongkok, kecuali untuk misi penyelamatan darurat.
Menurut laporan Financial Times, sebuah klub terjun payung di Provinsi Hainan mengungkapkan bahwa Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok telah mengeluarkan perintah pengendalian ruang udara secara nasional, yang pada praktiknya melarang seluruh aktivitas penerbangan yang tidak mendapat pengecualian.
Operator pesawat layang di dekat Beijing juga mengutip pemberitahuan CAAC yang menyatakan bahwa seluruh penerbangan pesawat layang di seluruh negeri telah dihentikan sementara.
Sementara itu, akun media independen “Civil Aviation Big Eyes” (民航大眼睛) menyatakan bahwa seluruh latihan terbang solo bagi pilot serta semua aktivitas penerbangan umum yang tidak mendesak di sekitar Beijing telah dihentikan.
Menurut pemberitahuan yang diterima kalangan industri penerbangan umum:
- Seluruh operasi penerbangan umum dalam radius 300 kilometer dari Beijing dihentikan sementara.
- Penerbangan jet bisnis, pelatihan pilot, kegiatan produksi yang dianggap penting, maupun operasi penyelamatan darurat hanya dapat dilakukan apabila memperoleh surat keterangan resmi dari pemerintah atau instansi terkait.
Sumber : NTDTV.com


