Baru-baru ini, berbagai wilayah di Daerah Otonomi Guangxi dilanda hujan deras. Kota Guigang mengalami banjir perkotaan yang parah, mengakibatkan sejumlah sekolah terendam dan ribuan siswa terjebak. Pasokan listrik dan air terputus, sementara komunikasi dengan dunia luar juga terganggu sehingga para siswa kesulitan meminta bantuan.
EtIndonesia.com Laporan media Tiongkok menyebutkan, pada 7 Juli pagi, asrama Guangxi Logistics Vocational and Technical College terendam banjir dan permukaan air terus meningkat.
Saat ini, lantai pertama gedung asrama telah sepenuhnya terendam, sehingga lebih dari seribu mahasiswa terjebak di dalam asrama.
Seorang mahasiswa mengatakan bahwa pada 6 Juli, air masih setinggi mata kaki. Namun pada 7 Juli pagi, lantai pertama gedung asrama telah sepenuhnya terendam sehingga para penghuni lantai satu harus dipindahkan ke lantai yang lebih tinggi.

Ia juga mengatakan bahwa seluruh kampus kini mengalami pemadaman listrik dan terputusnya pasokan air bersih. Para mahasiswa kekurangan air minum dan makanan. Karena telepon seluler tidak dapat diisi ulang akibat tidak adanya listrik, mereka juga kesulitan menghubungi dunia luar.
Informasi yang beredar di internet menunjukkan bahwa seluruh kompleks asrama dikelilingi banjir. Lantai pertama sepenuhnya berada di bawah air, sementara para mahasiswa berdiri di koridor luar gedung menunggu bantuan.

Pada 7 Juli, SMA Negeri Guigang No. 8 mengeluarkan permintaan bantuan darurat. Sekolah tersebut menyatakan bahwa banjir telah menggenangi area kampus dengan parah, sehingga sekitar 3.500 siswa terjebak di dalam sekolah.
Menurut pihak sekolah, jalan menuju luar kampus memiliki genangan air dengan kedalaman hingga 2 meter. Selama dua hari terakhir sekolah mengalami pemadaman air, listrik, dan jaringan komunikasi, sehingga bantuan logistik dari luar tidak dapat masuk.
Sekolah menyatakan sangat membutuhkan air minum, makanan, dan kebutuhan pokok, serta berharap ada bantuan menggunakan perahu untuk mengevakuasi para siswa.

Seorang pengguna internet menulis bahwa meskipun gelombang pertama bantuan telah tiba, masih ada laporan bahwa lebih dari 20 siswa hanya menerima beberapa buah mantou (roti kukus) untuk dibagi bersama.
Saat ini, kebutuhan yang paling mendesak adalah roti, air mineral, tisu, dan perlengkapan kebersihan. Warga juga berharap tim penyelamat yang memiliki drone atau perahu karet dapat membantu mengirimkan bantuan ke lokasi.
Selain itu, beredar informasi bahwa Guigang Senior High School, Dakai Senior High School, Dajiang Senior High School, dan beberapa sekolah menengah atas lainnya juga mengalami banjir yang cukup dalam sehingga guru dan siswa masih terjebak di dalam kampus.
Dalam beberapa hari terakhir, akibat pengaruh topan, berbagai wilayah di Guangxi diguyur hujan sangat lebat. Beberapa waduk di daerah tersebut juga melakukan pelepasan air secara bersamaan.
Salah satunya adalah Waduk Liulan di Hengzhou, yang dilaporkan mengalami jebolnya bendungan. Air bah menenggelamkan wilayah-wilayah di bagian hilir, menghanyutkan banyak orang, dan menyebabkan kerusakan parah di sejumlah kota kecil dan desa.
Warga setempat mengatakan bahwa saat ini tidak tersedia tempat penampungan yang memadai bagi para korban banjir. Banyak daerah mengalami kekurangan air bersih dan makanan. Laporan juga menyebutkan adanya korban meninggal dunia dan orang hilang.
Namun, artikel tersebut menyatakan bahwa karena informasi mengenai korban dan kondisi bencana di wilayah tersebut dibatasi oleh pihak berwenang, kondisi sebenarnya di lapangan masih sulit diketahui secara pasti.
Sumber : NTDTV.com


