Jepang Bongkar Organisasi Pengiriman Pasien ke Kamboja untuk Transplantasi Organ, Pasien Wanita Ditolak Berobat Setelah Pulang

EtIndonesia.com  Sebuah lembaga di Tokyo, Jepang, ditutup oleh kepolisian setelah diduga secara ilegal mengatur pasien untuk menjalani transplantasi organ di Kamboja. Seorang pasien wanita yang kembali ke Jepang setelah menjalani transplantasi ginjal dilaporkan beberapa kali ditolak saat mencari perawatan lanjutan. Disebutkan adanya dugaan bahwa Kamboja merupakan bagian dari jaringan perdagangan organ yang dikaitkan dengan Tiongkok.

Menurut laporan Yomiuri Shimbun Jepang, penyelidikan Kepolisian Metropolitan Tokyo menemukan bahwa tokoh utama dalam kasus ini adalah seorang tersangka berusia 66 tahun bernama Jintatsu Kikuchi.

Kikuchi sebelumnya telah ditangkap pada Februari 2023 karena diduga melanggar Undang-Undang Transplantasi Organ Jepang dengan mengatur transplantasi organ di luar negeri secara ilegal. 

Setelah dibebaskan dengan jaminan, ia diduga tetap menjalankan aktivitas tersebut melalui sebuah lembaga yang disebut “International Medical Consultation Office” (Kantor Konsultasi Medis Internasional), yang merekrut pasien Jepang yang membutuhkan transplantasi organ.

Di situs webnya, lembaga tersebut mengklaim menyediakan informasi yang transparan dan tidak terlibat dalam kegiatan ilegal. Namun menurut hasil penyelidikan polisi, lembaga itu diduga tetap menjalankan praktik perantara transplantasi organ berbayar dengan biaya yang sangat tinggi.

Pasien Wanita Ditolak oleh Tiga Rumah Sakit

Salah satu kasus yang terungkap adalah seorang wanita Jepang yang telah lama menderita gagal ginjal.

Wanita tersebut dikirim ke Kamboja untuk menjalani transplantasi ginjal dari donor hidup.

Setelah transplantasi, pasien harus mengkonsumsi obat penekan sistem imun secara rutin dan menjalani pemeriksaan berkala agar organ yang ditransplantasikan tidak ditolak oleh tubuh.

Meskipun lembaga tersebut mengklaim akan membantu menghubungkan pasien dengan rumah sakit di Jepang setelah operasi, kenyataannya wanita itu ditolak oleh tiga rumah sakit ketika kembali ke negaranya. Ketiga rumah sakit tersebut khawatir akan terseret ke dalam kasus dugaan perdagangan organ ilegal.

Baru di rumah sakit keempat, seorang dokter bersedia menerimanya dan berkata:

“Saya akan memeriksa Anda, tetapi saya juga akan melaporkan kasus ini kepada polisi.”

Mendengar kalimat itu, wanita yang selama ini hidup dalam ketakutan justru merasa lega.

Ketika dokter bertanya apakah ia menyadari kemungkinan adanya perdagangan organ dalam kasus tersebut, wanita itu menjawab:

“Saya mengira semua biaya administrasi dibayarkan kepada lembaga itu. Saya tidak tahu apakah uang tersebut sampai kepada pendonor organ.”

Dokter Jepang: Transplantasi Organ Ilegal di Luar Negeri Sangat Berisiko

Dokter Jepang yang mengungkap kasus ini mengatakan bahwa transplantasi organ ilegal di luar negeri bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menyimpan risiko medis yang sangat besar.

Menurutnya, pasien tidak dapat memastikan sendiri apakah dokter maupun fasilitas medis di luar negeri memenuhi standar yang layak. Selain itu, ketika mereka kembali ke Jepang, sering kali tidak membawa catatan operasi maupun rekam medis, sehingga rumah sakit di Jepang kesulitan memberikan perawatan lanjutan.

Dokter tersebut juga mengatakan bahwa tindakan seperti ini tidak hanya membahayakan keselamatan pasien, tetapi bahkan jika pasien akhirnya berhasil pulih, mereka mungkin harus memikul beban moral sepanjang hidupnya.

Rumah Sakit di Phnom Penh Disebut Pernah Dikaitkan dengan Dugaan Perdagangan Organ

Laporan tersebut menyebut bahwa rumah sakit tempat wanita itu menjalani transplantasi berada di Phnom Penh, ibu kota Kamboja.

Artikel itu mengklaim rumah sakit tersebut telah lama dituduh menjadi lokasi yang terkait dengan perdagangan organ di pasar gelap internasional.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 2023, kepolisian Indonesia pernah mengungkap jaringan perantara yang diduga berusaha mengirim lebih dari 100 orang yang ingin menjual ginjal mereka ke rumah sakit tersebut.

Tuduhan Mengenai Hubungan dengan Tiongkok

Industri transplantasi organ di Kamboja diduga memiliki hubungan erat dengan dugaan jaringan pengambilan organ secara paksa yang dikaitkan dengan pemerintah Tiongkok.

Disebutkan bahwa pemerintah Kamboja memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Tiongkok.

Rumah Sakit Persahabatan Tiongkok–Kamboja Kosamak di Phnom Penh, yang dibangun melalui bantuan pemerintah Tiongkok sebagai bagian dari proyek Belt and Road Initiative (BRI).

Rumah sakit tersebut kini bekerja sama dengan Rumah Sakit Tongji di Wuhan dalam bidang transplantasi organ.

Disebutkan bahwa:

  • Pada Juli tahun lalu, delegasi Rumah Sakit Kosamak mengunjungi Rumah Sakit Tongji untuk membahas kerjasama dan pertukaran di bidang transplantasi organ.
  • Pada September tahun yang sama, kedua pihak kembali bertemu dan menandatangani perjanjian kerja sama.

Beberapa tahun terakhir, kawasan pusat penipuan daring (scam compounds) di Asia Tenggara merupakan bagian dari jaringan perdagangan organ ilegal lintas negara.

Disebutkan juga bahwa Kamboja memiliki banyak kawasan pusat penipuan daring, dan artikel itu menuduh salah satu kompleks yang dimiliki Prince Group di Phnom Penh memiliki sejumlah fasilitas seperti Cambodian Institute of Life Sciences, pusat pengambilan sumsum tulang anak, dan Rumah Sakit Longevity, yang menurut artikel tersebut terkait dengan aktivitas ilegal.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Membangun Nostalgia Hari Ini: Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Anda di Masa Depan?

Perjalanan berkemah tahunan, buku cerita favorit, atau tradisi hari raya dapat menjadi kenangan emosional yang melekat sepanjang masa kanak-kanak. oleh Walker Larson Kata nostalgia berasal dari...

Cara Mengurangi Ketergantungan Anak pada Layar dan Mengajak Mereka Kembali Bermain di Alam Terbuka

Sekarang waktu di depan layar telah menjadi bagian utama masa kanak-kanak bagi jutaan keluarga. Perangkat digital dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian jauh lebih...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine