Trump Tiba-tiba Berganti Pesawat di Tengah Perjalanan, Ancaman Pembunuhan dari Iran Kembali Menjadi Sorotan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (8 Juli), setelah menghadiri KTT NATO di Ankara, Turkiye tidak langsung menggunakan pesawat Air Force One yang baru untuk kembali ke Amerika Serikat. Sebaliknya, ia terlebih dahulu menaiki Air Force One versi lama menuju sebuah pangkalan militer di Inggris, kemudian berganti ke pesawat kepresidenan baru untuk melanjutkan penerbangan pulang. Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa pergantian pesawat dilakukan karena pertimbangan keamanan.

Trump sendiri juga mengakui bahwa ia merupakan target utama dalam daftar pembunuhan pemerintah Iran.

EtIndonesia.com Setelah mendarat pada Kamis (9 Juli) dini hari, Presiden AS Trump turun dari Air Force One dan kembali ke Washington, D.C.

Namun, perjalanan pulang kali ini tidak sepenuhnya menggunakan pesawat baru yang disebut sebagai hadiah dari Qatar. Setelah meninggalkan Ankara, Trump lebih dahulu menaiki Air Force One lama yang bercat biru muda menuju Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan RAF Mildenhall di Inggris, salah satu pangkalan utama militer Amerika Serikat di Eropa. Dari sana, ia berpindah ke pesawat kepresidenan baru untuk melanjutkan penerbangan ke Washington.

Trump mengatakan bahwa pengaturan tersebut memberinya kesempatan untuk bernostalgia sekaligus memungkinkan para personel militer di pangkalan tersebut melihat anggota terbaru armada kepresidenan Amerika.

Pergantian pesawat secara mendadak ini menarik perhatian publik. Menurut laporan ABC, Air Force One lama yang telah digunakan oleh sejumlah presiden Amerika Serikat selama sekitar 35 tahun telah dilengkapi sistem pertahanan anti rudal, sedangkan pesawat baru tersebut diduga belum memiliki sistem pertahanan yang sama.

Data pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa setelah lepas landas dari Ankara, Air Force One lama mematikan sinyal transpondernya. Artikel tersebut menyebut bahwa tindakan seperti ini biasanya dilakukan ketika pesawat melintasi wilayah konflik atau kawasan dengan tingkat ancaman tinggi. Selain itu, para wartawan yang ikut dalam penerbangan juga diminta menutup tirai jendela kabin.

Secara geografis, Turki berbatasan dengan Iran. Di saat yang sama, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat akibat konflik di sekitar Selat Hormuz. Karena itu, muncul dugaan bahwa keputusan Trump untuk berganti pesawat di tengah perjalanan merupakan langkah pencegahan demi keamanan.

Meskipun Trump tidak secara langsung mengkonfirmasi alasan pergantian pesawat tersebut, dalam konferensi pers di sela-sela KTT NATO ia mengakui bahwa dirinya merupakan target nomor satu dalam daftar pembunuhan Iran.

Presiden Donald Trump mengatakan: “Saya berada di peringkat pertama dalam daftar pembunuhan Iran. Mereka orang-orang yang ‘baik’. Mereka menempatkan saya di urutan pertama.”

Kemudian, saat berada di Air Force One yang baru, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa mereka harus menghadapi orang-orang yang menurutnya berbahaya.

Trump berkata: “Anda mungkin sedang berada dalam penerbangan yang berbahaya. Bagaimanapun juga, kita harus menghadapi orang-orang seperti itu.”

Dilaporkan oleh Yi Jing untuk New Tang Dynasty Television.

INSPIRASI ERABARU

Membangun Nostalgia Hari Ini: Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Anda di Masa Depan?

Perjalanan berkemah tahunan, buku cerita favorit, atau tradisi hari raya dapat menjadi kenangan emosional yang melekat sepanjang masa kanak-kanak. oleh Walker Larson Kata nostalgia berasal dari...

Cara Mengurangi Ketergantungan Anak pada Layar dan Mengajak Mereka Kembali Bermain di Alam Terbuka

Sekarang waktu di depan layar telah menjadi bagian utama masa kanak-kanak bagi jutaan keluarga. Perangkat digital dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian jauh lebih...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine