Timnas Argentina (La Selección) bangkit dari ketertinggalan untuk mencetak dua gol dalam waktu kurang dari tujuh menit pada akhir pertandingan dan mengalahkan Inggris 2–1 pada 16 Juli 2026 di Atlanta.
EtIndonesia.com Kemenangan yang diraih Lionel Messi dan rekan-rekannya disambut emosi yang bercampur aduk oleh hampir 70.000 penonton di stadion. Bagi Argentina, peluang untuk menjadi juara Piala Dunia secara beruntun—sesuatu yang belum pernah terjadi sejak 1962—masih tetap terbuka.
Permusuhan panjang antara kedua negara, yang pernah terlibat perang memperebutkan Kepulauan Falkland/Malvinas, langsung terasa sejak awal laga. Pendukung kedua tim saling menenggelamkan lagu kebangsaan lawan, sementara babak pertama berlangsung keras dan minim peluang.
Selama 45 menit pertama tidak ada gol yang tercipta. Kedua tim hanya menghasilkan tiga tembakan gabungan dan melakukan total 19 pelanggaran, dengan masing-masing menerima satu kartu kuning.
Inggris membuka keunggulan pada menit ke-55. Serangan yang dibangun Declan Rice diteruskan kepada Morgan Rogers sebelum akhirnya diselesaikan Anthony Gordon menjadi gol pertamanya di ajang Piala Dunia.
The Three Lions mampu mempertahankan keunggulan tersebut hingga melewati menit ke-80. Kiper Jordan Pickford mencatat empat penyelamatan penting, sementara rekan-rekannya memblok dua tembakan lainnya sebelum mencapai gawang.
Harry Kane dan Jude Bellingham juga sempat memperoleh peluang untuk menambah keunggulan, tetapi berhasil digagalkan oleh kiper Argentina Emiliano Martínez.
Setelah unggul, Inggris tampak lebih fokus mempertahankan keunggulan satu gol daripada berusaha menambah skor. Pelatih Thomas Tuchel menggunakan dua dari tiga jatah pergantiannya untuk memasukkan pemain bertahan menggantikan Anthony Gordon dan Declan Rice pada pertengahan babak kedua.
Sebaliknya, Argentina meningkatkan intensitas serangan dengan menarik bek Nicolás Tagliafico dan memasukkan penyerang Lautaro Martínez.
Perubahan itu membuahkan hasil. Argentina mencetak dua gol dalam waktu kurang dari tujuh menit. Gol pertama lahir pada menit ke-85 melalui tendangan Enzo Fernández dari luar kotak penalti. Kemudian, Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan lewat sundulan kepala pada menit kedua masa tambahan waktu.
Kedua gol tersebut berawal dari umpan Lionel Messi.
Dua assist itu juga membuat Messi kembali memimpin perburuan Sepatu Emas (Golden Boot) untuk pertama kalinya dalam kariernya. Penghargaan tersebut diberikan kepada pencetak gol terbanyak turnamen.
Pada usia 39 tahun, Messi kini mengoleksi delapan gol dan empat assist di Piala Dunia 2026, unggul atas bintang Prancis Kylian Mbappé yang juga memiliki delapan gol tetapi hanya tiga assist.
Argentina meraih kemenangan ini dengan mengenakan seragam tandang berwarna biru tua yang secara khusus mereka minta untuk digunakan. Variasi seragam serupa pernah dikenakan tim Argentina yang dipimpin Diego Maradona saat mengalahkan Inggris di Piala Dunia 1986.
Pertandingan berlangsung keras dan penuh kontak fisik. Argentina memperoleh 15 pelanggaran sepanjang laga, termasuk tiga kartu kuning. Inggris melakukan 11 pelanggaran dan menerima satu kartu kuning.
Namun, reaksi para pemain, pelatih, dan suporter dari kedua kubu menunjukkan bahwa banyak yang merasa wasit seharusnya memberikan lebih banyak pelanggaran dan kartu.
Argentina kini akan menghadapi Spanyol pada partai final Piala Dunia yang digelar pada 19 Juli waktu setempat di kawasan New York.
Sementara itu, Inggris akan terbang ke Miami untuk menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga pada 18 Juli waktu setempat
Ini merupakan penampilan keempat Inggris di semifinal Piala Dunia. Satu-satunya kali mereka tampil di final adalah pada 1966, ketika menjadi juara dunia di kandang sendiri.
“Kami sudah sangat dekat,” kata Harry Kane dalam wawancara usai pertandingan.
“Kami hanya perlu menemukan kepingan yang hilang pada tahap akhir turnamen.”
“Turnamen seperti ini menguras tenaga, usaha, tekanan, dan mental. Kami sudah menunjukkan semua itu. Tetapi ya, kami masih kehilangan satu bagian terakhir untuk mencapai tujuan.”
Artikel ini terbit di Theepochtimes.com


