Banjir di Guangxi, Tiongkok Baru Saja Surut, Hujan Lebat Kembali Merendam Wilayah; Warga Khawatir Merebaknya Wabah Penyakit Pasca Banjir

Pada 15 Juli, banjir di Kota Guigang, Daerah Otonom Guangxi, Tiongkok baru saja mulai surut ketika hujan lebat kembali mengguyur wilayah tersebut dan menyebabkan banjir lagi. Sementara itu, di beberapa daerah yang terdampak paling parah, air banjir masih belum surut. Banyak bangkai hewan masih terendam di dalam air, sehingga warga mengkhawatirkan kemungkinan munculnya wabah penyakit setelah bencana banjir.

EtIndonesia.com Biro Meteorologi Kota Guigang pada 15 Juli mengeluarkan peringatan hujan lebat tingkat III. Dalam 12 jam sebelumnya, 39 kecamatan di Guigang mencatat curah hujan lebih dari 50 mm, sementara 26 kecamatan mencatat curah hujan antara 100 hingga 250 mm. Diperkirakan dalam 24 jam berikutnya, sebagian besar wilayah Guigang masih akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang akibat badai petir dan cuaca konvektif yang kuat.

Sejumlah warga setempat mengunggah video yang menunjukkan bahwa pada 14–15 Juli, Guigang kembali diguyur hujan deras. Banjir yang baru saja surut kembali merendam kota.

Seorang warga mengeluhkan situasi tersebut dengan mengatakan: “Mengapa rasanya begitu sulit?”

Rekaman video memperlihatkan beberapa jalan di Guigang kembali berubah menjadi lautan air. Air yang keruh dipenuhi sampah dan berbagai benda yang hanyut. Buldoser yang sebelumnya digunakan untuk membersihkan lumpur masih terparkir di pinggir jalan dan belum sempat ditarik dari lokasi.

Wilayah Hengzhou disebut sebagai daerah yang mengalami dampak paling parah. Di beberapa kecamatan, banjir telah berlangsung selama sekitar 10 hari dan air masih belum surut. Bangkai berbagai hewan serta sampah terlihat mengapung di permukaan air. Banyak bangkai babi yang telah membusuk di bawah terik matahari, menimbulkan bau menyengat.

Video lain menunjukkan sebuah peternakan babi yang seluruh ternaknya mati akibat banjir. Bangkai-bangkai babi menumpuk di dalam kandang dan telah membusuk. Pemilik peternakan dikabarkan menawarkan upah 2.000 yuan per hari untuk membersihkan bangkai-bangkai tersebut, namun tetap kesulitan mendapatkan pekerja.

Banyak video lain juga memperlihatkan bahwa di daerah yang terdampak paling parah, hampir setiap rumah terendam banjir, bahkan banyak bangunan yang roboh. Proses pembersihan lumpur berlangsung sangat sulit. Meskipun banjir telah surut selama sekitar 10 hari di beberapa lokasi, jalan-jalan masih dipenuhi lumpur dan puing-puing. Banyak warga kehilangan hampir seluruh harta benda mereka dan hanya dapat menangis melihat rumah mereka yang telah berubah menjadi puing-puing.

Bencana banjir di Guangxi telah menarik perhatian banyak orang. Melihat kondisi di daerah terdampak, sebagian masyarakat menyatakan kekhawatiran bahwa setelah banjir besar ini, terdapat risiko munculnya wabah penyakit apabila bangkai hewan, limbah, dan genangan air tidak segera ditangani.

Disusun oleh Luo Tingting Editor penanggung jawab: Wen Hui – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama...

Kelelahan yang Tidak Dapat Dijelaskan Mungkin Menandakan Terkurasnya Energi, Bukan Penyakit Fisik

Dalam pemahaman kebanyakan orang,  “pandemi” biasanya dikaitkan dengan virus, bakteri, atau laporan medis. Namun, dalam sejarah penelitian spiritual di Amerika Serikat pada abad ke-20,...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine