Menurut sebuah artikel yang diterbitkan NTD pada 25 Juli, sejak pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping berkuasa, kondisi politik dan ekonomi Tiongkok memburuk, sementara konflik internal di tingkat elite terus berlangsung.
Situasi ini disebut telah melahirkan banyak pejabat yang disebut sebagai “orang bermuka dua”. Artikel tersebut mengutip klaim bahwa di dalam birokrasi PKT terdapat banyak individu yang menentang PKT secara diam-diam, bahkan bergabung dalam kelompok-kelompok anti-PKT rahasia dan bertahan hidup dengan strategi “bermuka dua”.
Artikel itu juga menyebut PKT telah meneliti penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menguji loyalitas politik para pejabat, yang menurut penulis merupakan tanda rezim memasuki tahap akhir.
EtIndonesia.com Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pejabat PKT secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada Xi Jinping. Namun, di antara para pejabat yang kemudian dijatuhi hukuman atau diselidiki, semakin banyak yang dituduh melakukan “komentar yang tidak pantas terhadap pimpinan pusat”.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak pejabat hanya menunjukkan kesetiaan di permukaan, sementara akibat sentralisasi kekuasaan yang tinggi, birokrasi dipenuhi oleh “orang bermuka dua”.
Disebut Ada Banyak Penentang PKT di Dalam Birokrasi
Pada 25 Juli, komentator independen Du Zheng menulis di media Taiwan Up Media bahwa jika jumlah orang yang menentang PKT di dalam birokrasi benar-benar diketahui, Xi Jinping mungkin akan terkejut. Menurutnya, hal tersebut sulit dikendalikan karena menyangkut hati dan pikiran masyarakat yang terus berubah.
Artikel itu menyatakan bahwa setelah Xi berkuasa, suasana politik di Tiongkok menjadi jauh lebih represif sehingga banyak orang hanya menunjukkan kepatuhan di permukaan. Di sisi lain, sebagian pejabat yang menjalankan sistem pemerintahan PKT dikatakan berubah dari sekadar menentang Xi menjadi menentang PKT, bahkan beberapa pejabat tingkat menengah disebut bergabung dengan kelompok anti-PKT rahasia.
Seorang narasumber yang tidak disebutkan namanya dikatakan mengungkapkan bahwa seorang pejabat wakil kepala departemen tingkat provinsi yang kemudian dicopot pernah berkata secara pribadi:
“Semoga dalam masa hidup kita masih bisa menyaksikan runtuhnya Partai Komunis,” katanya.
Penulis juga mengklaim adanya sebuah jaringan rahasia yang terdiri dari para pembangkang yang masih aman karena tidak tampil di depan publik. Anggotanya disebut sebagian besar pengusaha, namun juga terdapat beberapa pejabat tingkat menengah dan polisi.
Mereka dikatakan berkomunikasi melalui aplikasi yang dianggap aman dan memanfaatkan kesempatan untuk memberikan edukasi mengenai demokrasi kepada masyarakat Tiongkok. Para pejabat di dalam jaringan tersebut disebut lebih banyak bekerja di belakang layar karena posisi mereka.
Artikel itu juga menyatakan bahwa perlu dibedakan antara pejabat yang benar-benar korup dan mereka yang dituduh korupsi. Semakin banyak pejabat tinggi yang dijatuhi hukuman karena dianggap tidak loyal atau “mengkritik pimpinan pusat”, serta dituduh membaca dan menyebarkan buku-buku politik yang dilarang.
Sebagian dari mereka juga dituduh terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Namun, menurut penulis, belum tentu mereka benar-benar anti-PKT; sebagian mungkin hanya berusaha membaca situasi demi melindungi diri.
Artikel tersebut menyebut bahwa banyak pejabat yang benar-benar korup merupakan pelaku pelanggaran hak asasi manusia, seperti mantan pejabat Zhou Yongkang. Namun ada pula pejabat yang dikenai tuduhan korupsi yang menurut penulis sebenarnya digunakan untuk menutupi alasan politik, bukan karena korupsi itu sendiri. Sebagai contoh disebut nama Ren Zhiqiang, yang dijatuhi hukuman setelah mengkritik pemerintah.
Penulis menyimpulkan bahwa keberadaan orang-orang yang menentang PKT di dalam birokrasi menjadi sumber kekhawatiran bagi Xi Jinping.
“Orang Bermuka Dua” Menunggu Kesempatan
PKT selama ini menerapkan sistem pemeriksaan politik yang ketat dalam memilih pejabat, guna mencegah orang-orang yang dianggap kurang loyal naik ke posisi penting karena dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan rezim.
Artikel tersebut menyatakan bahwa Xi Jinping secara khusus mewaspadai generasi yang mengalami peristiwa 4 Juni 1989 (Tiananmen), yaitu mereka yang lahir pada 1960-an hingga awal 1970-an. Mengutip seorang narasumber, penulis mengatakan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, pemeriksaan politik terhadap kelompok usia tersebut diperketat dalam proses promosi jabatan. Hal ini disebut sebagai salah satu alasan mengapa Xi tidak menetapkan penerus.
Menurut penulis, peristiwa Tiananmen memang telah melahirkan cukup banyak orang di birokrasi yang secara ideologis menentang PKT. Mereka dapat bertahan karena budaya “orang bermuka dua” yang telah lama berkembang dalam sistem PKT—yakni berpura-pura patuh demi bertahan hidup di bawah sistem yang represif, sambil menyimpan ketidakpuasan dan menunggu kesempatan.
Penulis menambahkan bahwa Xi Jinping dalam beberapa tahun terakhir sering mengecam keberadaan “orang bermuka dua”. Namun menurutnya, jika sikap tersebut merupakan bentuk perlindungan diri terhadap pemerintahan otoriter, maka istilah itu justru memiliki makna positif.
Mantan Wakil Sekretaris Departemen Kerja Front Persatuan Provinsi Gansu, Ma Ruilin, yang telah meninggalkan Tiongkok, pernah mengatakan secara terbuka bahwa sebagian besar pejabat dalam sistem pemerintahan hanya memuji pemimpin tertinggi di depan umum, sementara di dalam hati mereka sangat tidak menyukainya.
Penulis berpendapat bahwa Ma Ruilin juga termasuk “orang bermuka dua” menurut definisi Xi, tetapi setelah berada di luar negeri ia memiliki kesempatan untuk mengungkap dugaan keberadaan kamp interniran di Xinjiang serta tuduhan mengenai represi lintas negara yang dilakukan PKT.
AI Digunakan untuk Menguji Loyalitas
Menurut Du Zheng, hingga kini PKT tidak memiliki banyak cara untuk menghadapi “orang bermuka dua”. Cara yang digunakan antara lain pemeriksaan berkala dan sistem pelaporan antarsesama pejabat, yang disebut sebagai alasan Xi terus mendorong semangat “berani berjuang”. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir Departemen Organisasi PKT diduga mulai menggunakan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk menguji loyalitas politik para pejabat.
Pada tahun 2022, Institut Penelitian AI Pusat Sains Nasional Hefei, yang didirikan bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan pemerintah Anhui, mengumumkan melalui akun WeChat resminya bahwa mereka telah menggabungkan AI dengan pendidikan ideologi partai.
Perangkat yang dinamakan “Smart Ideological and Political Bar” tersebut diklaim dapat mengukur tingkat penerimaan anggota PKT terhadap pendidikan ideologi. Sistem ini disebut mengajukan berbagai pertanyaan untuk menilai loyalitas kepada Xi Jinping, kemudian menganalisis detak jantung, keringat, dan ekspresi wajah untuk menentukan apakah jawaban seseorang jujur atau tidak.
Penulis berpendapat bahwa penggunaan AI untuk menguji loyalitas merupakan bentuk pemanfaatan teknologi dalam penindasan hak asasi manusia. Menurutnya, sebagian besar orang bergabung dengan PKT bukan karena benar-benar mempercayai ideologinya, sehingga penggunaan AI untuk mengukur kesetiaan menjadi beban psikologis yang berat.
Penulis juga berpendapat bahwa munculnya metode seperti ini menunjukkan rezim telah kehilangan kepercayaan masyarakat dan memasuki tahap kemunduran.
Artikel tersebut menyimpulkan bahwa dalam situasi seperti ini akan semakin banyak pejabat yang semula memilih bersikap pasif berubah menjadi penentang PKT secara ideologis. Mereka disebut sedang menunggu kesempatan untuk bertindak, dan apabila saat yang tepat tiba, Xi Jinping serta PKT akan menghadapi tantangan besar.
Akademisi yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, sebelumnya mengatakan kepada The Epoch Times bahwa fenomena “orang bermuka dua” di kalangan partai, pemerintahan, dan militer merupakan ancaman serius bagi kekuasaan Xi. Menurutnya, fenomena ini akan terus berkembang sehingga Xi menjadi semakin terisolasi dan tidak lagi memiliki orang yang benar-benar dapat dipercaya.
Kolumnis The Epoch Times, Wang He, juga pernah menulis bahwa konflik internal PKT tidak memiliki kemungkinan untuk diselesaikan secara damai.
Menurutnya, apa pun upaya Xi untuk mempertahankan kekuasaan dan menjaga kelangsungan partai, tindakan-tindakannya justru akan semakin memperdalam konflik internal, mempercepat disintegrasi PKT, dan pada akhirnya membawa konsekuensi buruk bagi dirinya sendiri.
Penanggung jawab redaksi: Tang Zheng – NTDTV.com


