EtIndonesia.com Musim panas tahun ini di Eropa diwarnai oleh gelombang panas yang memecahkan rekor, ditambah curah hujan yang rendah sehingga memicu kebakaran hutan besar di berbagai negara. Pada Sabtu (1 Agustus), angin kencang menyebabkan kebakaran di berbagai wilayah Yunani menyebar dengan cepat hingga memaksa warga mengungsi.
Sementara itu, kebakaran di sebagian wilayah Prancis dan Spanyol kembali memburuk. Di Spanyol, muncul dugaan bahwa sebagian kebakaran sengaja dipicu karena ditemukan dua titik api yang terpisah.
Yunani Menghadapi Risiko Kebakaran Hutan yang Sangat Tinggi
Menurut laporan Reuters, kebakaran besar melanda kawasan dekat Porto Germeno, sekitar 60 kilometer di barat laut Athena, di tepi Teluk Korintus (Gulf of Corinth). Api dan asap tebal melahap hutan serta semak belukar, memaksa petugas pemadam kebakaran, polisi, dan tim penyelamat mundur secara perlahan demi keselamatan.
Petugas penyelamat garis depan, Giorgos Doulas, mengatakan : “Situasinya sangat serius, terutama hari ini (1 Agustus). Anginnya sangat kencang, dengan kecepatan embusan lebih dari 73 kilometer per jam, sehingga arah penyebaran api sulit diprediksi.”
Helikopter pemadam terus melakukan penyiraman air dan menjatuhkan bahan penghambat api untuk mencegah kebakaran meluas.
Karena muncul beberapa titik kebakaran baru, pemerintah memerintahkan evakuasi warga di wilayah Agia Paraskevi, Kryo Pigadi, dan Agios Nektarios, yang terletak di barat laut Athena.
Sebelumnya, lebih dari 200 penduduk Agios Vasileios telah dievakuasi melalui jalur laut.
Pihak berwenang memperingatkan bahwa wilayah Boeotia, Attica, dan Pulau Evia akan menghadapi risiko kebakaran hutan yang sangat tinggi pada 2 Agustus.
Kebakaran di Prancis Kembali Berkobar, Spanyol Selidiki Dugaan Pembakaran Sengaja
Di Prancis, kebakaran hutan di kawasan pegunungan Var, wilayah tenggara negara itu, yang sebelumnya berhasil dikendalikan tiga hari lalu, kembali berkobar pada 31 Juli. Akibatnya, hampir 2.500 orang harus dievakuasi pada malam hari.
Setelah membakar sekitar 1.800 hektare lahan, kobaran api kembali berhasil distabilkan.
Di Spanyol, hanya dua hari setelah pemerintah mengakhiri status darurat nasional akibat kebakaran besar di wilayah tengah negara tersebut, sejumlah kebakaran baru kembali muncul.
Situasi di Provinsi León kembali memburuk. Satu titik kebakaran baru muncul pada malam hari, satu kebakaran lainnya masih terus berlangsung, sementara satu titik lainnya mulai menunjukkan perkembangan yang membaik.
Di provinsi tetangga, Zamora, kebakaran yang telah membakar sekitar 11.000 hektare mulai berhasil dikendalikan. Sebanyak 14 kota yang sebelumnya dievakuasi kini telah dibuka kembali dan seluruh pembatasan telah dicabut.
Di bagian timur Spanyol, kebakaran di La Vall d’Uixó, Provinsi Castellón, akhirnya berhasil dikendalikan setelah berlangsung selama tujuh hari. Luas area yang terbakar mendekati 10.000 hektare, dan seluruh warga yang sebelumnya mengungsi telah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Polisi menyatakan bahwa karena ditemukan dua titik awal kebakaran yang terpisah, tidak menutup kemungkinan adanya unsur pembakaran yang disengaja.
Sementara itu, kebakaran besar yang telah menghanguskan lebih dari 70.000 hektare lahan di wilayah Madrid dan Ávila kini telah berhasil dikendalikan. Kebakaran baru yang sempat muncul di dekat Waduk San Juan, sebelah barat ibu kota Madrid, juga telah berhasil dipadamkan pada 31 Juli.
Korban Meninggal Akibat Gelombang Panas Mencapai Rekor Baru
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa tahun ini telah menyebabkan lonjakan angka kematian di berbagai negara.
- Austria mencatat 395 kematian akibat panas ekstrem selama bulan Juni, menjadi jumlah tertinggi dalam satu bulan sepanjang sejarah negara tersebut.
- Inggris memperkirakan bahwa hingga saat ini pada tahun 2026 telah terjadi sekitar 2.877 kematian yang berkaitan dengan suhu panas ekstrem.
- Prancis melaporkan terdapat 5.764 kematian berlebih (excess deaths) secara nasional antara 17 Juni hingga 2 Juli.
- Jerman, berdasarkan estimasi Robert Koch Institute (RKI), memperkirakan bahwa hingga saat ini sekitar 9.800 kematian berkaitan dengan dampak gelombang panas.
Gelombang panas yang berkepanjangan, disertai kekeringan dan angin kencang, terus meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah Eropa, sementara pemerintah di sejumlah negara masih mempertahankan status siaga tinggi untuk menghadapi potensi kebakaran susulan.
Sumber : NTDTV.com


