“Beijing Campur Tangan dalam Pemilu Presiden”, Tuduhan Trump yang Merilis Berbagai Sinyal

oleh Tang Bing, Yi Ru, Luo Ya

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato nasional yang disiarkan televisi pada hari Kamis (16 Juli), menuduh Partai Komunis Tiongkok (PKT) ikut campur tangan dalam siklus pemilu Amerika Serikat tahun 2020, secara ilegal memperoleh sejumlah besar data pemilih AS dan menggunakan kekuatan domestik dan asing untuk mencegah terpilihnya kembali Donald Trump. Beberapa pakar yang diwawancarai menyatakan bahwa pidato Trump tersebut merilis berbagai sinyal, ini bisa mengindikasikan perubahan kebijakan tim Trump terhadap PKT.

Dalam pidatonya, Trump menuduh rezim PKT secara ilegal memperoleh 220 juta data pemilih AS sejak siklus pemilu tahun 2020, yang mungkin telah digunakan untuk pendaftaran pemilih dan kegiatan ilegal lainnya.

Sebuah laporan CIA menunjukkan bahwa sejak tahun 2018, PKT telah memobilisasi kekuatan anti-Trump di dalam dan luar negeri demi menurunkan perolehan suara bagi Trump, memaksanya mengundurkan diri, atau mencegahnya terpilih kembali. PKT telah memengaruhi para pemimpin bisnis melalui hubungannya dengan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, selain itu juga menawarkan sejumlah besar uang kepada jurnalis AS yang menulis artikel negatif tentang diri Trump, menuntut mereka untuk menulis lebih banyak artikel kritis.

Trump juga menuduh badan-badan intelijen AS pada saat itu yang menyembunyikan infiltrasi PKT dan aktivitas campur tangannya dalam pemilu 2020. Puluhan laporan CIA dan NSA tentang manipulasi pemilu AS oleh rezim Beijing tidak dimasukkan dalam pengarahan yang disampaikan kepada presiden.

Trump telah memerintahkan Kantor Direktur Intelijen Nasional, Departemen Kehakiman, FBI, dan CIA untuk melakukan penyelidikan, dan akan memecat pejabat mana pun yang terbukti menutupi urusan tersebut, dan, jika perlu, mengajukan tuntutan pidana. 

Prof. Dr. Chen Wen-Chia: Trump Merilis 3 Sinyal, Konflik AS-PKT Meningkat Secara Struktural

Prof. Dr Chen Wen-Chia, pakar geopolitik, Wakil Rektor Universitas Kainan di Taiwan kepada The Epoch Times mengatakan bahwa pidato Presiden Trump yang secara terbuka menuduh PKT ikut campur tangan dalam pemilu AS sejak 2018, adalah upayanya untuk meningkatkan kampanye pemilu menjadi perang keamanan nasional.

Ia percaya bahwa pidato Trump merilis setidaknya 3 sinyal: Pertama, Trump ingin mengalihkan tekanan politiknya ke luar negeri, mengubahnya menjadi campur tangan asing dan PKT untuk mengkonsolidasikan pendukungnya. Kedua, ia mengangkat PKT dari pesaing dagang menjadi musuh sistemik, memperkuat legitimasi konfrontasi. Ketiga, Trump ingin terlebih dahulu mengirimkan sinyal politik kepada Xi Jinping yang menunjukkan bahwa sikapnya terhadap PKT hanya akan menjadi lebih keras.

“Saya pikir ini bukan hanya kritik Trump semata, tetapi juga berfungsi sebagai garis besar kebijakan. Intinya adalah secara resmi membawa persaingan AS-PKT ke poros utama politik domestik dan pemilihan umum AS, membentuknya menjadi narasi demokrasi versus otoritarianisme, dan menyediakan ruang untuk eskalasi kebijakannya di masa mendatang,” papar Chen Wen-Chia.

Chen percaya bahwa pidato terbaru Trump ini jelas bermaksud untuk mendinginkan hubungan AS-PKT. Karena tuduhan campur tangan pemilihan umum melanggar garis merah kedaulatan, yang secara praktis menghilangkan kepercayaan timbal balik antara Washington dan Beijing. Lebih jauh lagi, pernyataan Trump kemungkinan akan membentuk konsensus di Washington, sehingga lebih sulit untuk mengubah kebijakan AS terhadap PKT terlepas dari siapa kelak yang berkuasa. Ini sama artinya dengan melembagakan dan menjadikan persaingan sebagai praktik jangka panjang.

“Bagi Xi Jinping, tekanan eksternal yang dihadapinya akan meningkat, ini termasuk kemungkinan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan blokade teknologi terhadap PKT, dan bahwa sekutunya dapat meningkatkan upaya pengurungan terhadap PKT. Selain itu, citra internasional PKT juga terpengaruh, bisa dicap sebagai pihak yang mencampuri demokrasi negara lain.” Chen Wen-Chia percaya bahwa PKT mungkin akan membalikkan arah, memperkuat nasionalisme internal guna menumbuhkan narasi penindasan AS terhadap PKT.

Chen Wen-Chia menyimpulkan bahwa pidato Trump baru-baru ini bukan sekadar retorika, tetapi langkah lebih lanjut menuju normalisasi konfrontasi dan konflik terstruktur dalam hubungan AS-PKT.

Su Tzu-yun: Mungkin Menandai Pergeseran Kebijakan Trump terhadap PKT

Su Tzu-yun, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Pertahanan Nasional di Institut Penelitian Pertahanan Nasional Taiwan, mengatakan bahwa pidato Trump memang mengejutkan. Selama pertemuan Xi Jinping dengan Trump belum lama ini, kedua belah pihak tampak cukup antusias, bahkan Xi Jinping dijadwalkan mengunjungi AS pada bulan September tahun ini.

Su Tzu-yun percaya bahwa pernyataan Trump saat ini, dikombinasikan dengan tuntutan dari Kongres AS sebelumnya, agar badan intelijen mengungkapkan aset luar negeri keluarga Xi Jinping, mungkin menunjukkan pergeseran kebijakan tim Trump terhadap PKT. Namun, apakah mereka akan terus menggunakan pendekatan dua arah, baik menyerang maupun menenangkan Beijing, perlu diamati lebih lanjut.

Trump berulang kali menyatakan bahwa Xi adalah teman baik dan bahwa keduanya memiliki hubungan yang baik. Su Tzu-yun mengatakan bahwa logika Trump mirip dengan idolanya, Presiden Theodore Roosevelt: berbicara dengan lembut tetapi tangannya memegang pentungan, senyum hanya sebagai taktik. Contoh yang paling jelas adalah laporan Strategi Keamanan Nasional AS, yang secara eksplisit menyatakan perlunya pertahanan kolektif di dalam rantai pulau pertama untuk mencegah Taiwan dikuasai secara paksa.

Adapun di pihak Beijing, Su Tzu-yun berpendapat bahwa mereka mungkin masih mengamati situasi sebelum memutuskan apakah akan mengadakan pertemuan Trump-Xi pada bulan September nanti.

Shen Ming-shih: Pidato Trump Mengungkap Niat Strategis Penting di Masa Depan

Shen Ming-shih, seorang peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pidato Trump mengungkapkan arah strategis penting AS di masa mendatang, yang menunjukkan saingan dan target strategis jangka panjang Amerika Serikat adalah PKT. Dalam pidato perayaan HUT ke-250 berdirinya USA, Trump juga menyinggung soal isu komunisme. “Jadi, baik itu Kuba atau PKT, mereka mungkin adalah target utama Trump untuk menjadi presiden besar yang berhasil membuat Amerika Serikat kembali hebat.”

Ia menjelaskan implikasi hubungan AS-PKT di masa mendatang: Trump telah dengan sangat jelas menunjukkan arah strategisnya, yang bukan berarti pemutusan hubungan sepenuhnya, melainkan kombinasi kerja sama dan persaingan. Namun, jika PKT masih menyimpan niat untuk menggulingkan Trump, AS akan meresponsnya dengan tegas.

Shen Ming-shih percaya bahwa pidato-pidato Trump sebelumnya kepada Beijing relatif sopan dan terkendali. Tetapi setelah merasakan sikap Xi Jinping terhadap masa depan AS, termasuk sikapnya terhadap Selat Taiwan, Trump dan tim kabinetnya pasti telah mencapai konsensus internal, sehingga terdapat ucapan Trump yang disampaikan dalam pidato peringatan 250 tahun berdirinya negara, dan sikapnya yang jelas dan tegas menentang komunisme dan PKT dalam pidato publik kali ini.

“Karena AS sangat jelas bahwa baik itu masalah Timur Tengah atau masalah Pasifik Barat, semuanya terkait erat dengan PKT,” kata Shen Ming-shih.

INSPIRASI ERABARU

Punya Banyak Uang Belum Tentu Bahagia! Pria 68 Tahun Menemukan Kembali Kualitas Hidup dengan Bekerja Paruh Waktu di Supermarket 

EtIndonesia.com  Media New Tang Dynasty melaporkan bahwa ketika merencanakan masa pensiun, kebanyakan orang biasanya hanya memikirkan satu hal: "Apakah uang saya akan cukup?" Namun,...

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine